Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, laluu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Sampai 1 Tahun SM dan Sebelumnya

Ridwan Saidi, sejarawan Betawi saat kunjungan ke Situs Buni Kecamatan Babelan bersama Badan Kekeluargaan Masyarakat Bhagasasi (BKMB), mengungkapkan bahwa Kerajaan Segara Pasir merupakan Kerajaan asli Bekasi jauh sebelum muncul Kerajaan Tarumanegara yang diyakini sebagai kerajaan pertama di Bekasi.

Menurut Ridwan, sebelum Masehi di tatar Pasundan ada 46 kerajaan kuno, salah satunya adalah Segara Pasir, yang mendirikan pusat pemerintahannya di daerah pesisir Pantai Utara Bekasi. Kebudayaan Kerajaan Segara Pasir, kata Ridwan, dipengaruhi oleh Egypt Kuno (Mesir), hal tersebut bisa dilihat dari manik-manik yang banyak ditemukan di sekitar Situs Buni.

Dikatakannya, Situs Buni adalah kompleks pemakaman resi. Maka tidak mengherankan, jika sampai saat ini warga masih mudah menemukan sejumlah benda-benda purbakala, seperti manik-manik, mata tombak, perhiasan, dan tulang belulang. Bahkan, pada tahun 1950 - 1980an, Situs Buni menjadi "Surga" bagi para pemburu harta karun.

Ridwan menambahkan, Tarumanegara merupakan kerajaan yang gemar melakukan peperangan dengan menduduki kerajaan-kerajaan kecil untuk mengambil keuntungan. Keberadaan Tarumanegara di Segara Pasir, lanjutnya, hanya mendirikan semacam pangkalan militer untuk menarik upeti atau pajak dari setiap transaksi perdagangan dan kekayaan alamnya.

Sumber : Antara