Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, laluu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

3.000 SM

Nabi Nuh dari Gunung Gede

Referensi Kitab Suci
Tahun 1 M Al Kitab, Kitab Kejadian 6:14
Tahun 651 M Al Quran, memberi petunjuk lokasi sesuai ayat QS 11.44
Gunung Gede dalam bahasa masing-masing; GEDE (jawa); GORDYAE (greek); JUDI (arab)


Ternyata Burung Gagak yang dimaksud pada saat Nabi Nuh adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
Sebuah Tulisan Abdullah bin ‘Umar al-Baidawi pada abad ke-13 menyebutkan, bahwa Nabi Nuh berada di bahtera lautan selama lima sampai enam bulan. Pada saat di bahera lautan tersebut Nabi Nuh sempat mengeluarkan / mengusir seekor burung gagak, yang tengah berhenti  memakan daging-daging bangkai. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahtera_Nuh).