Aksara/Huruf, berdasarkan bukti-bukti tertulis yang terdapat pada prasasti-prasasti Abad 5 M, tampak bahwa bangsa Indonesia telah mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Huruf Pallawa yang telah di-Indonesia-kan dikenal dengan nama huruf Kawi. Sejak prasasti Dinoyo (760 M) maka huruf Kawi ini menjadi huruf yang dipakai di Indonesia, dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi dalam prasasti, tetapi yang dipakai bahasa Kawi.

Prasasti Dinoyo berhubungan erat dengan Candi Badut yang ada di Malang.

Sumber :
http://okky-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-46463-Umum-PENGARUH%20ASING%20PADA%20MASA%20PRASEJARAH%20INDONESIA.html

*/

Profesor J.G. de Casparis dari Belanda, yaitu pakar paleografi atau ahli ilmu sejarah aksara, mengutarakan bahwa aksara hanacaraka itu dibagi menjadi lima masa utama, yaitu:

    Aksara Pallawa Aksara Pallawa itu berasal dari India Selatan. Jenis aksara ini mulai digunakan sekitar abad ke 4 dan abad ke 5 masehi. Salah satu bukti penggunaan jenis aksara ini di Nusantara adalah ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Aksara ini juga digunakan di Pulau Jawa, yaitu di Tatar Sundha di Prasasti tarumanegara yang ditulis sekitar pada tahun 450 M. di tanah Jawa sendiri, aksara ini digunakan pada Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, termasuk aksara hanacaraka. Kalau diperhatikan, aksara Pallawa ini bentuknya segi empat. Dalam bahasa Inggris, perkara ini disebut sebagai huruf box head atau square head-mark. Walaupun aksara Pallawa ini sudah digunakan sejak abad ke-4, namun bahasa Nusantara asli belum ada yang ditulis dalam aksara ini.
    Aksara Kawi Wiwitan Perbedaan antara aksara Kawi Wiwitan dengan aksara Pallawa itu terutama terdapat pada gayanya. Aksara Pallawa itu dikenal sebagai salah satu aksara monumental, yaitu aksara yang digunakan untuk menulis pada batu prasasti. Aksara Kawi Wiwitan utamanya digunakan untuk nulis pada lontar, oleh karena itu bentuknya menjadi lebih kursif. Aksara ini digunakan antara tahun 750 M sampai 925 M. Prasasti-prasasti yang ditulis dengan menggunakan aksara ini jumlahnya sangatlah banyak, kurang lebih 1/3 dari semua prasasti yang ditemukan di Pulau jawa. Misalnya pada Prasasti Plumpang (di daerah Salatiga) yang kurang lebih ditulis pada tahun 750 M. Prasasti ini masih ditulis dengan bahasa Sansekerta.
    Aksara Kawi Pungkasan Kira-kira setelah tahun 925, pusat kekuasaan di pulau Jawa berada di daerah jawa timur. Pengalihan kekuasaan ini juga berpengaruh pada jenis aksara yang digunakan. Masa penggunaan aksara Kawi Pungkasan ini kira-kira mulai tahun 925 M sampai 1250 M. Sebenarnya aksara Kawi Pungkasan ini tidak terlalu banyak perbedaannya dengan aksara Kawi Wiwitan, namun gayanya saja yang menjadi agak beda. Di sisi lain, gaya aksara yang digunakan di Jawa Timur sebelum tahun 925 M juga sudah berbeda dengan gaya aksara yang digunakan di Jawa tengah. Jadi perbedaan ini tidak hanya perbedaan dalam waktu saja, namun juga pada perbedaan tempatnya. Pada masa itu bisa dibedakan empat gaya aksara yang berbeda-beda, yaitu; 1) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada tahun 910-950 M; 2) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada jaman Prabu Airlangga pada tahun 1019-1042 M; 3) Aksara Kawi Jawa Wetanan Kedhiri kurang lebih pada tahun 1100-1200 M; 4) Aksara Tegak (quadrate script) masih berada di masa kerajaan Kedhiri pada tahun 1050-1220 M
    Aksara Majapahit Dalam sejarah Nusantara pada masa antara tahun 1250-1450 M, ditandai dengan dominasi Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Aksara Majapahit ini juga menunjukkan adanya pengaruh dari gaya penulisan di rontal dan bentuknya sudah lebih indah dengan gaya semi kaligrafis. Contoh utama gaya penulisan ini adalah terdapat pada Prasasti Singhasari yang diperkirakan pada tahun 1351 M. gaya penulisan aksara gaya Majapahit ini sudah mendekati gaya modern.
    Aksara Pasca Majapahit Setelah naman Majapahit yang menurut sejarah kira-kira mulai tahun 1479 sampai akhir abad 16 atau awal abad 17 M, merupakan masa kelam sejarah aksara Jawa. Karena setelah itu sampai awal abad ke-17 M, hampir tidak ditemukan bukti penulisan penggunaan aksara jawa, tiba-tiba bentuk aksara Jawa menjadi bentuk yang modern. Walaupun demikian, juga ditemukan prasasti yang dianggap menjadi missing link antara aksara Hanacaraka dari jaman Jawa kuna dan aksara Budha yang sampai sekarang masih digunakan di tanah Jawa, terutama di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sampai abad ke-18. Prasasti ini dinamakan dengan Prasasti Ngadoman yang ditemukan di daerah Salatiga. Namun, contoh aksara Budha yang paling tua digunakan berasal dari Jawa barat dan ditemukan dalam naskah-naskah yang menceritakan Kakawin Arjunawiwaha dan Kunjarakarna.
    Munculnya Aksara Hanacaraka Baru Setelah jaman Majapahit, muncul jaman Islam dan juga Jaman Kolonialisme Barat di tanah Jawa. Dijaman ini muncul naskah-naskah manuskrip yang pertama yang sudah menggunakan aksara Hanacaraka baru. Naskah-naskah ini tidak hanya ditulis di daun palem (lontar atau nipah) lagi, namun juga di kertas dan berwujud buku atau codex (kondheks). Naskah-naskah ini ditemukan di daerah pesisir utara Jawa dan dibawa ke Eropa pada abad ke 16 atau 17. Bentuk dari aksara Hanacaraka baru ini sudah berbeda dengan aksara sebelumnya seperti aksara Majapahit. Perbedaan utama itu dinamakan serif tambahan di aksara Hanacaraka batu. Aksara-aksara Hanacaraka awal ini bentuknya mirip semua mulai dari Banten sebelah barat sampai Bali. Namun, akhirnya beberapa daerah tidak menggunakan aksara hanacaraka dan pindhah menggunakan pegon dan aksara hanacaraka gaya Durakarta yang menjadi baku. Namun dari semua aksara itu, aksara Bali yang bentuknya tetap sama sampai abad ke-20.

Aksara Pallawa ini digunakan di Nusantara dari abad ke-4 sampai kurang lebih abad ke-8.

Lalu aksara Kawi Wiwitan digunakan dari abad ke-8 samapai abad ke-10, terutama di Jawa Tengah[2].

sumber :

http://sanggarseo.blogspot.com/2011/03/sejarah-dan-arti-huruf-aksara-jawa.html

http://rozieqien.blogspot.com/2009/04/sejarah-aksara-jawa-legenda-hanacaraka.html

[1] Anonimousc. 2009. Hanacaraka Saka Wikipedia, Ensiklopedia Bebas Ing Basa Jawa.Http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 12 Februari 2009 Hal. 3

[2] Anonimousc. 2009. Hanacaraka Saka Wikipedia, Ensiklopedia Bebas Ing Basa Jawa.Http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 12 Februari 2009 Hal 3-5

http://nisyacin.blogdetik.com/category/sejarah-aksara-jawa/


*/

A. Prof. Dr. Poerbacaraka
Sebelumnya orang Jawa tidak mengenal huruf. Alat komunikasi yang dipakai adalah menggunakan lisan & satu dengan lainnya terdapat perbedaan, sehingga kalau tidak lingkup sendiri dalam kampung sulit untuk melakukan komunikasi. Kemudian datang pengetahuan baru yakni huruf Palawa yang sekarang dalam perkembanganya dikenal dengan huruf jawa ini. Dan itu menandakan bahwa peradaban orang India lebih maju dari orang Jawa dengan ditengarai adanya huruf tersebut berasal.

B. Study Palaografi (ilmu tentang huruf kuna)
Huruf Jawa mengalami perkembangan yang cukup melelahkan sehingga akhirnya menjadi seperti sekarang ini. Adapun pembagian perkembanganya sebagai berikut;

1. Huruf Palawa pertama, digunakan sebelum tahun 700 Masehi, bukti pendukung adalah prasasti Tugu di
Bogor

2. Huruf Palawa terakhir, dari abad VII sampai abad ke VIII pertengahan, bukti pendukung adalah prasasti Canggu di Kedu Magelang.

3. Huruf Jawa Kuna pertama, digunakan pada tahun 750 sampai 925 Masehi, bukti pendukung adalah prasasti Polengan, Kalasan Yogyakarta. Artinya pada abad VII terakir, Huruf Palawa sudah tersaingi oleh timbulnya Huruf Jawa Kuna pertama. Ini bukan berarti ada dua huruf tidak ! tapi ada beberapa Huruf Palawa yang bergeser bentuk maupun pengucapanya, demikian seterusnya huruf demi huruf Palawa semakin hilang dan habis sama sekali menjelang pertegahan abad ke VIII. Satu contoh yang mudah, banyak orang sekarang memakai huruf r dalam tulisan tangan memakai R yang tidak pada tempatnya.


4. Huruf Jawa Kuna terakhir, digunakan tahun 925-1250 Masehi bukti pendukung adalah prasasti Airlangga.

5. Huruf Jawa Kuna masa Pemerintahan Majapahit, digunakan tahun 1250-1450 Masehi, bukti pendukung adalah prasasti Singosari & Malang, serta ron-tal (ron = daun tal=pohon lontar) atau juga sering disebut serat LONTAR Kunjarakarna.


6. Huruf Jawa baru, digunakan tahun 1500-sekarang, bukti pendukung adalah kitab BONANG. Huruf ini dipolerkan pada masa Pemerintahan Demak yang didukung oleh sebagian besar para wali di tanah Jawa ini.

Sumber : http://malangnegoro.multiply.com/journal/item/2?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem