Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, lalu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Kosa Kata Jawa Kuno, Jawa Adalah Seluruh Etnis Nusantara

Arti kosa kata Jawa (menurut pengertian Jawa Kuno) adalah seluruh Etnis Nusantara atau Benua Atlantis. Setelah adanya banjir besar, benua ini pecah menjadi 17.000 pulau (Dengan 750 Bahasa) yang kini disebut Indonesia, dengan penduduk dari etnis yang masih tersisa atau yang pada saat terjadi banjir besar dapat selamat untuk tetap hidup di bumi Nusantara ini.

Sementara, etnis-etnis lainnya menjadi cikal bakal bangsa2 lain di dunia, yakni antara lain: bangsa India, Cina, Jepang , Eropa, Israel, Arab, dlsb (Baca juga : Nabi Nuh yang dinyatakan dalam Al Quran ayat QS 11.44 dari Gunung Gede Jawa Barat)

Dalam bahasa Jawi Kuno, makna kata Jawa adalah “Berbudi Luhur”, maka tidak mengherankan kalau dalam percakapan sehari-hari, apabila seseorang dikatakan : “nggak nJawani” berarti orang tersebut “tidak punya Budi Pekerti yang Luhur ”.

Dari Mitologi Jawa Kuno, bahwa kalangan Guru Hindu  dan Guru Budha belajar “Kejawen” dari Guru Janabadra. “Agama Nusantara – Kejawen (Baca juga : Waspada Terhadap Labelling Pihak Asing), yang sebenarnya sudah eksis pada 10.841 Tahun Sebelum Masehi” (Baca juga : makna Agama Lokal).

Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindu dan Guru Budha pun, mereka menyatakan, bahwa mereka belajar “Kejawen” dari Guru Janabadra, lalu mereka mengembangkan “Kejawen” ini dengan nama sendiri, yakni dengan nama “Agama Hindu”, dan “Agama Budha”.

Sebenarnya  “Kejawen” adalah “Agama” etnis Nusantara”, yang mana nilai-nilai tersebut persis seperti apa yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS (2.000 Tahun Sebelum Masehi) yang disebut dalam Alqur’an (Tahun 651 Masehi) “Millatu Ibrahim”

Sumber : Dari Berbagai Sumber