Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, lalu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Ke Afrika Selatan

Migrasi Suku Jawa Ke Afrika Selatan

Cape of Good Hope adalah tempat pertama kalinya para budak asal Jawa dan Madagaskar mendarat di Afrika Selatan pada sekitar tahun 1652. Para budak tersebut kemudian dinamai etnis Cape Malay. Namun, karena namanya Malay, maka orang-orang Afrika Selatan lebih mengenal Malaysia dibandingkan dengan Indonesia.

Kejawen di Afrika Selatan

Thabo Rapoo, Pribumi Afrika Selatan yang Menjadi Duta Budaya Indonesia

Seni dan budaya Indonesia yang adiluhung membuat Thabo Rapoo, warga Afrika Selatan, jatuh cinta. Thabo pun didaulat menjadi orang pertama Afsel sebagai duta budaya Indonesia.

FISIK Thabo Rapoo tidak berbeda jauh dengan warga pribumi Afrika Selatan (Afsel). Berkulit hitam, rambut keriwil tipis. Tingginya sekitar 170 cm. Yang membedakan dari seorang Thabo adalah pembawaan dan tutur katanya yang kalem. Sikap Thabo berbeda dengan pembawaan anak muda Afrika Selatan kebanyakan yang tampak garang.