Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, laluu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Ke Filipina

Migrasi ke Filipina

Sebagian besar orang Sangihe-Talaud di luar negeri berada di Filipina. Maklum memang kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud merupakan wilayah batas negara Indonesia ke negara tetangga Filipina. Memang jauh hari sebelum negara Indonesia terbentuk hubungan masyarakat dan kerajaan-kerajaan antara Sangihe-Talaud dan Filipina (Mindanao dan Sulu) sudah berlangsung berabad-abad. Di tingkat elit misalnya terjadi perkawinan antar keluarga kerajaan, juga di tingkat masyarakat. Beberapa silsilah keluarga dalam beberapa buku membuktikan itu.

Di Filipina Shinzo Hayase tahun 2001 dalam Histotico-Geographical World of Sangir: An Ethno-History of East Maritime Southeast Asia yang dikutip dalam buku Alex Ulaen menyatakan ada 7.483 orang Sangihe-Talaud yang tersebar di Republik Filipina. Namun tahun 2003 keluar data dari Konsulat Indonesia di Davao yang menyatakan ada 10.855 orang Sangihe-Talaud. Namun mereka tidak terdaftar di imigrasi Filipina .

Data jumlah orang Sangihe-Talaud ini simpang siur dengan data yang dikeluarkan pihak berkompeten lain Filipina yang menyebut angka yang lebih besar, yaitu antara sampai 20.000. Bahkan, menteri luar negeri Filipina Blas Ople saat berkunjung ke Manado tahun 2006 menyebut angka orang Indonesia yang tidak terdaftar di negaranya adalah 50.000 jiwa.

Terlepas dari perbedaan angka-angka itu, namun yang tak terbantahkan orang-orang Sangihe-Talaud jelas merupakan komunitas yang sudah ruaya (migrasi) ke berbagai penjuru. Bahkan ruayanya itu bahkan tidak sekadar merupakan fenomena nasional sebagaimana migrasi sirkuler penduduk-penduduk desa miskin ke kota, namun juga sudah mempunyai implikasi-implikasi internasional, paling kurang bilateral..

Sumber : http://perspektifsosiologidirnokaghoo.blogspot.com/2010/02/diperlukan-studi-migrasi-orang-nusa.html?zx=ae57e1ffe3e83f1d