Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, laluu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Pendapat Harry Truman

Teori Harry Truman mengatakan, bahwa Nenek Moyang Bangsa Austronesia berasal dari Dataran Sundaland yang tenggelam pada zaman es (Era Pleistosen). Masyakat ini memiliki peradaban yang sudah maju, mereka berpindah/migrasi mulai dari Asia Daratan, hingga ke Mesopotamia. Masyarakat ini mempengaruhi Penduduk Lokal, serta mengembangkan peradaban lokal tersebut.

Pendapat Truman sejalan dengan pendapat Umar Anggara Jenny, yang mengatakan bahwa Austronesia adalah  Rumpun Bahasa yang memiliki Sebaran Paling Luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat sampai Pulau Paskah di Timur.

Bahasa tersebut, kini digunakan oleh lebih 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman mengenai Sebaran dan Pengaruh Bahasa dari Bangsa Austronesia ini, dibenarkan pula oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).

Prof. Aryo Santos Tahun 2.005 M, menerapkan Analisis Filologis (ilmu kebahasaan), Antropologis, dan Arkeologis.  Sementara Aryo Santos juga mengemukakan baha Teori Awal Peradaban Manusia berawal di Dataran Sundaland (Paparan Sunda).

Analisis dari Reflief Bangunan dan Artefak Bersejarah seperti Piramida di Mesir, Kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, juga peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harappa, serta analisa geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, serta pola bertani) menunjukkan, bahwa Sistem Terasisasi Sawah yang khas Indonesia merupakan Bentuk Yang Diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan Bangunan Kuno Suku Aztec di Meksiko.

Penelitian Aryo Santos selama 30 tahun menyimpulkan, bahwa Sundaland merupakan pusat peradaban yang maju dari ribuan tahun silam, yang lebih dikenal dengan Benua Atlantis.

Sumber : dari berbagai sumber.