Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, laluu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Transportasi Laut

Sejarah Singkat Kapal Pinisi

Kapal kayu Pinisi ada di Nusantara sejak berabad-abad yang lalu, dari berbagai naskah Lontarak Babad I La Lagaligo (abad ke 6), cikal bakal kapal Pinisi sudah ada sebelum tahun 500an. Catatan pembuatan Pinisi yang masuk dalam Babad I La Lagaligo, untuk pertama kali dibuat oleh Sawerigading (Pendiri Agama Lokal - yang lahir tahun 564 M, atau 7 tahun lebih dahulu dari kelahiran Nabi Muhamad yang lahir pada tahun 571 M).

Dari catatan sejarah pembuatan Kapal Pinisi sendiri, tercatat pertama kali bahwa pembuatan kapal tersebut diperuntukan bagi Sawerigading yang Putera Mahkota Kerajaan Luwu, untuk berlayar menuju negeri Tiongkok, dalam rangka meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Jadi secara logika, berarti teknologi kapal Pinisi yang sangat terkenal tersebut sudah ada sejak jauh sebelum tahun 500an itu sendiri.

Sejarah Kearifan Lokal dan Gotong Royong (kalau orang sekarang mengatakan "It's a teamwork") masyarakat setempat, terlihat ketika mereka; Orang-orang Ara bergotong-royong untuk membuat badan kapal, sementara orang-orang di Tana Lemo yang merakit badan kapal tersebut (hasil buatan orang-orang desa Ara), dan terakhir orang-orang Bira merancang tujuh layar yang hingga kini dipakai oleh kapal Pinisi. Kemudian masyarakat ketiga desa tersebut menamakannya sebagao Kapal Pinisi.

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok, dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah sempat menetap lama di Tiongkok, Sawerigading beserta istri dan anaknya berniat kembali ke Luwu "kampung halamannya" dengan menggunakan kapat yang digunakannya ketika ia berangkat ke Tiongkok dahulu. Menjelang memasuki perairan Luwu, Pinisi diterjang gelombang besar, dan akhirnya terbelah menjadi tiga bagian.

Sumber : Dari Berbagai Sumber

Sejarah Transportasi Laut Nusantara

Judul Asli : Bukti pelaut Nusantara lebih hebat dari Colombus dalam jejak warisan pelaut Indonesia di afrika

Jejak warisan pelaut Nusantara di afrika | pelaut Nusantara Penjelajah Samudra Pertama
Ceng Ho dan Colombus adalah dua pelaut ulung yang tersohor di penjuru dunia. Mereka terkenal sebagai figur tangguh yang berani menantang ganasnya samudra dengan perahu sejarahnya. Tapi tahukah anda, ternyata kepiawaian mereka jauh ketinggalan dari pelaut Nusantara. Mungkin anda tidak percaya begitu saja. Tapi, demi membuktikan kebenaran itulah Robert dick-read, peneliti asal Inggris bersusah payah menyusun buku ini.