Perpustakaan Tanah Impian

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal
Salah satu esensi Kembali ke Kearifan Lokal adalah saat kita paham dengan Sejarah Bangsa Kita Sendiri.
 
Dengan kita paham dan mencintai Sejarah Bangsa Indonesia, maka kita akan mencintai, laluu menerapkan Budaya Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya barulah kita dapat disebut sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar. Hal ini mengingat, banyak dari kita yang justru bangga dengan Budaya Asing.
 
Sebenarnya Jepang dan Korea sudah mencontohkan pada kita semua, betapa mereka memegang teguh Kearifan Lokalnya, tetapi pada kenyataannya, mereka pun tidak kalah dalam modernisasi teknologi. Hormat kepada orang yang lebih tua, adalah bentuk Kearifan Lokal yang universal, bahkan disini sudah hampir ditinggalkan.
www.saptosatriomulyo.web.id (Pencetus Perpustakaan Tanah Impian)
 
 

Teori Labelling

Labelling Sudah Lama Dilakukan Pihak Asing Kepada Bangsa Kita

Hati-hati dengan Labeling Para Peneliti Asing terhadap Bangsamu Sendiri

Labelling Pertama
Bangsa ini di-labelling sebagai "Penganut Animisme Dinamisme". Sementara JID (Tahun Jawa), yang sudah eksis semenjak 10.481 Tahun Sebelum Masehi sudah mengenal Tuhan, yang mereka sebut Ghusti.
Sebenarnya Peneliti Asing tersebut tidak mengetahui apa itu "Kearifan Lokal", dimana Bangsa Nusantara ini, merawat lingkungannya dengan prilaku yang Sopan dan Santun, serta berinteraksi dengan semua mahluk di Dunia ini, layaknya sedang berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya - bukan menyembahnya. Fenomena tersebut sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Bangsa Lemuria (75.000 SM s/d 11.000 SM) dan Bangsa Atlantis (9.500 SM)

Labelling Kedua
Asal-usul Bangsa ini dikatakan, dari ribuan tahun silam berasal dari Ras Melanesia sebelum Ras Astronesia. Sementara Hominid di Sangiran sudah ada sejak 1.998.100 Tahun Sebelum Masehi. Jadi yang mungkin adalah Mereka Pulang Kampung.

Dan masih banyak lagi Labelling - labelling lainnya ....