Komunitas Sejarah Tanah Impian




Negeri Kemenyan

Ekspor Kemenyan Terbesar adalah ke Arab Saudi
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kemenyan, identik dengan ritual bernuansa klenik. Begitu anggapan banyak orang. Siapa sangka, daerah Tapanuli di Sumatera Utara, merupakan penghasil kemenyan terkenal di dunia pada abad ke-5 masehi dan bahkan jauh sebelumnya.

Di masa lampau, Timur Tengah, Eropa, dan China menjadi negara-negara tujuan pengiriman kemenyan dari Pelabuhan Barus, Sumatera Utara. Kamga, host program “Explore Indonesia” di Kompas TV, memulai eksplorasi di Provinsi Sumatera Utara dengan mendatangi salah satu daerah penghasil kemenyan terbesar di Indonesia, bahkan dunia tersebut.

Kabupaten Humbang Hasundutan, 284 kilometer dari Ibu kota Provinsi Sumatera Utara, Medan, menjadi daerah tujuan perjalanan Kamga. Humbang Hasundutan merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara, yang juga daerah penghasil kemenyan terbesar.

Humbang Hasundutan, yang beribukota di Dolok Sanggul, dapat dicapai dengan menggunakan pesawat perintis. Pesawat berangkat dari Bandara Polonia di Medan menuju ke Bandara Silangit di kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara.

Perjalanan lewat udara membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 menit, lalu dilanjutkan dengan menggunakan mobil selama 10 menit ke wilayah Humbang Hasundutan.

Di kabupaten yang biasa disingkat Humbamas, Kamga trekking di hutan Hutajulu untuk memanen kemenyan bersama petani setempat. Kemenyan berasal dari getah yang diambil dengan menyadap bagian batang pohon.

Sumber : http://travel.kompas.com


#kembalikekearifanlokal
#sadarsejarahnusantara

#perpustakaantanahimpian

KEMENYAN dan MUR

Para Pedagang Kemenyan dari Arab pergi ke arah Timur (Nusantara)
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kemenyan dalam Alkitab Perjanjian Lama (PL) diterjemahkan dari kata Ibrani לבונה - LEBONAH / LEVONAH (leksikon Ibrani : frankincense, a) a white resin burned as fragrant incense, 1) ceremonially, 2) personally, 3) used in compounding the holy incense) akar kata לבן - LABAN (leksikon Ibrani: White). 

Mur atau Myrrh
Kata ini juga berhubungan dengan sebuah daerah yang bernama Lebanon (Ibrani, לבנון - LEBANON, Leksikon : Lebanon = "whiteness", a wooded mountain range on the northern border of Israel)

Sumber : http://kemenyansumatra.blogspot.com

Foto : Istimewa

#kembalikekearifanlokal
#sadarsejarahnusantara
#perpustakaantanahimpian

Kemenyan, Getah Magis yang Dulu Senilai Emas

Jangan heran jika Anda ke rumah orang Arab di Arab Saudi, berbau kemenyan
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur.

Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem.

Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Nabi Isa.

Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat dengan kehidupan orang Tapanuli.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat menyejahterakan masyarakat Tapanuli. Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. “Nenek saya pedagang kemenyan,” tuturnya.

Ia tahu persis, pada tahun 1936 neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16 kilogram) beras.

Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli. Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

Washington Situmorang (70), petani di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, mengutarakan, pada tahun 1960-an harga kemenyan benar-benar sama dengan emas. Harga itu pelan-pelan surut. Sekitar tahun 1980-an harga kemenyan terus merosot hingga hanya separuh, bahkan sepertiga harga satu gram emas.

Menurut Thomson Silaban, staf bidang rehabilitasi hutan Dinas Pertambangan dan Kehutanan Kabupaten Humbang Hasundutan, jika sebelum tahun 1980 kemenyan mampu menyumbang 60 persen ekonomi rumah tangga, kini turun menjadi sekitar 20 persen.

Kemenyan (Stryrax sp) yang termasuk famili Stryraccaceae dari ordo Ebeneles diusahakan oleh rakyat Sumatera Utara di tujuh kabupaten, terutama di Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, dan Toba Samosir. Tanaman ini juga dikembangkan di Dairi, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah meski tidak terlalu banyak. Sedangkan penghasil kemenyan terbesar masih di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.

Di Tapanuli Utara, kemenyan menjadi komoditas andalan daerah di bawah kopi dan karet. Dari 56.003 keluarga di kabupaten itu, 30.446 keluarga atau lebih dari 54 persen menjadikan kemenyan sebagai sumber penghasilan. Di Humbang Hasundutan bahkan sekitar 65 persen keluarga (33.702) hidup dari pohon kemenyan. Komoditas ini menduduki posisi kedua di bawah kopi.

Dinas Perkebunan Sumatera Utara memperkirakan, pada tahun 2005 luas tanaman kemenyan di Sumatera Utara mencapai 23.592,70 hektar dengan produksi 5.837,86 ton. Produktivitas getah 294,31 kilogram per hektar per tahun. Getah kemenyan mengandung asam sinamat sekitar 36,5 persen yang banyak digunakan untuk industri farmasi, kosmetik, rokok, obat-obatan, dan ritual keagamaan.

Bukan hanya untuk ritual

Sebelum agama Kristen masuk ke Tapanuli, kemenyan banyak digunakan masyarakat Batak untuk kegiatan ritual penyembahan alam. Selama ribuan tahun, kemenyan banyak digunakan dalam tradisi penghormatan kepada Sang Pencipta.

Asap pembakaran yang membubung tinggi menjadi representasi doa yang juga naik kepada Sang Pencipta. Dalam tradisi Katolik, misalnya, kemenyan digunakan dalam misa khusus, menjadi bagian dari serbuk ratus yang dibakar dalam arang membara yang menghasilkan asap harum.

Di tanah Jawa dan juga di banyak kebudayaan dunia, harum asap kemenyan dipercaya mampu mendatangkan roh tetapi juga untuk mengusir roh. Bau harumnya menimbulkan sensasi magis. Kemenyan juga menjadi serbuk campuran rokok yang kebanyakan diisap oleh masyarakat pedesaan dan berusia lanjut di Jawa Tengah.

Hanya Tapanuli dan sedikit di Sumatera Barat yang menjadi penghasil kemenyan di Indonesia. Sayangnya, meski komoditas ini sudah diperdagangkan ratusan tahun, tak ada inovasi dalam mengembangkan perkebunannya. Inovasi produk juga belum ada. Kebanyakan petani tak tahu jalur perdagangannya. Untuk apa dan siapa pengguna akhir kemenyan pun, mereka tidak tahu. Akibatnya, harga getah ini sangat mudah dipermainkan pedagang karena petani tak tahu standar harga dunia.

Tujuh macam

Kemenyan tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut, bersuhu antara 28-30 derajat Celsius di tanah podsolik merah kuning dan latosol. Keasaman tanah antara 5,5 hingga 6,5 dengan kemiringan tanah maksimal 25 derajat.

Tanaman tahunan ini mampu hidup hingga lebih dari 100 tahun. Ada 20 jenis pohon kemenyan, tetapi yang banyak tumbuh di Sumut adalah kemenyan jenis durame (Styrax Benzoine) dan kemenyan toba (Styrax Sumatrana). Kemenyan durame lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan jenis toba. Durame bisa disadap sejak umur 6-7 tahun dengan warna getah cenderung hitam, sedangkan toba baru disadap umur 10-13 tahun dengan jenis getah putih.

“Merawat pohon kemenyan itu seperti memperlakukan gadis. Gampang-gampang susah, harus banyak perhatian,” kata Washington Situmorang.

Berbeda dengan karet, penyadapan getah kemenyan tak perlu wadah. Getah dibiarkan keluar dari batang pohon, meleleh di kulit pohon.

Pada cukilan pertama, batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih yang baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan.

Getah putih yang disebut sidukabi atau mata zam-zam ini bernilai paling tinggi. Namun, kini harganya hanya sekitar Rp 60.000 hingga Rp 75.000 per kilogram di tingkat petani.

Bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut jalur atau jurur yang bisa dipanen dua-tiga bulan setelah memanen mata zam-zam. Setelah itu muncul getah ketiga yang disebut tahir. Harganya jauh lebih murah daripada harga mata, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Jika mata berwarna putih, warna tahir atau jurur semakin menghitam.

Getah-getah kemenyan itu bisa dikelompokkan sedikitnya dalam tujuh macam dari yang paling mahal hingga termurah, yakni mata kasar, kacang, jagung, besar, pasir kasar, pasir halus, hingga abu. Mata kasar bisa bernilai Rp 100.000 per kilogram di tingkat pengumpul, sedangkan abu atau gilingan halus kulit kemenyan seharga Rp 3.000 per kilogram.

Di tempat pengumpul, pemilahan kemenyan ini bak memilah emas dari pasir. Buruh-buruh perempuan dengan tekun memilah-milah butiran itu. Getah kemenyan yang umurnya tua biasanya memang berwarna kuning menyerupai emas.

Dalam satu pohon bisa terjadi banyak cukilan. Di Tarutung atau Doloksanggul cukup mudah menemukan tanaman ini. Asal terlihat tanaman yang batangnya penuh luka cukilan, bisa dipastikan itu tanaman kemenyan.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Humbahas Aslin Simamora yang juga anak petani kemenyan menyebutkan, ada ritual yang dulu dianut oleh moyangnya sebelum mengguris (menyadap) pohon kemenyan.

Petani perlu membuat kue itak gurgur, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Kue itu dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap.

Karena sejarah yang panjang itu, tak heran jika masyarakat marah saat PT Toba Pulp Lestari (TPL) menebangi pohon kemenyan rakyat yang berada di register 41 di perbatasan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Samosir akhir tahun lalu. DPRD Humbang Hasundutan sampai membentuk panitia khusus yang mendesak PT TPL melindungi kawasan tanaman kemenyan rakyat.

Sumber : (Aufrida Wismi Warastri) Harian Kompas
Disalin dari : www.silaban.ne

Foto : Istimewa

#kembalikekearifanlokal
#sadarsejarahnusantara

#perpustakaantanahimpian

Sejarah nama Indonesia

Nama Indonesia berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19. Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama, sementara kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan"). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais). Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.


Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):

    "... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1] Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

    "Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia")..

Politik

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. [1]

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,

    "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia

Referensi Bahasa Nusantara

Judul Asli : Bahasa Daerah Terancam Punah
TEORI evolusi tentang seleksi alam yang menimpa makhluk hidup, kini mungkin terjadi pula pada bahasa. Terlepas dari kontroversi teori yang dikemukakan Charles Darwin (12 Februari 1809-19 April 1882) itu, sejumlah bahasa di dunia terancam punah. Kekhawatiran itu sudah menyeruak dengan mulai berkurang bahkan hilangnya penutur beberapa bahasa ibu atau bahasa daerah.

Dr. Gufran Ali Ibrahim, pakar sosiolinguistik dari Universitas Khairun Ternate, dalam makalahnya pada Kongres IX Bahasa Indonesia di Hotel Bumi Karsa Jakarta, 28 Oktober-1 November 2008 lalu menulis bahwa dalam buku Ethnologue: Languages of the World (Grimes: 2000), tercantum ada 6.809 bahasa di dunia. Dari jumlah itu, 330 bahasa memiliki penutur 1 juta orang atau lebih. Jumlah penutur yang besar ini berbanding terbalik dengan kira-kira 450 bahasa di dunia yang memiliki jumlah penutur sangat sedikit, telah berusia tua, dan cenderung bergerak menuju kepunahan. Pada saat yang sama, rata-rata jumlah penutur bahasa-bahasa di dunia hanya berkisar 6.000 orang atau lebih, hanya separuhnya memiliki penutur 6.000 orang atau lebih penutur, dan hanya separuhnya lagi memiliki penutur kurang dari 6.000 orang.
Menurut Gufran, secara garis besar ada dua faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab utama kepunahan bahasa daerah. Pertama, para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak mereka dan tidak lagi menggunakannya di rumah. Kedua, ini merupakan pilihan sebagian masyarakat untuk tidak menggunakan bahasa ibu dalam ranah komunikasi sehari-hari.
Kecenderungan punahnya bahasa terjadi di negara-negara berkembang dan miskin. Beberapa negara di antaranya memiliki populasi etnik tak lebih dari 5.000 orang, meskipun beberapa di antaranya memiliki jumlah populasi etnik yang cukup besar, seperti bahasa Lenca (36.858 orang) dan bahasa Pipil (196.576 orang) di El Salvador. Namun demikian, penutur aktif kedua bahasa ini hanya sekitar 20 orang. Jadi, bahasa-bahasa ini sesungguhnya telah terancam punah di antara populasi totalnya yang relatif banyak. Sebagian besar dari bahasa-bahasa yang terancam punah itu merupakan bahasa etnik minoritas terisolasi atau minoritas yang berada dalam wilayah yang memiliki begitu beragam bahasa dan budaya.
**
Di Indonesia, menurut Gufran, bahasa Ibu (penuturnya menyebut nama bahasa ini Ibo atau ”tuan tanah”) di Maluku Utara yang dalam catatan Voorhoeve dan Visser pada tahun 1987 berjumlah 35 penutur, tahun 2008 tinggal lima penutur dan berusia di atas 50 tahun-berada di satu wilayah masyarakat multibahasa yang perbatasan kebahasaannya hanya antardesa atau antarkampung yang berjarak tidak lebih dari 5 kilometer. Padahal, pada 1951 berdasarkan pemetaan Esser (Mahsun, 2008), bahasa-bahasa di Indonesia diidentifikasi berjumlah 200 bahasa.
Berbeda dengan Esser, Salzner (1960) justru menyatakan bahwa jumlah bahasa daerah di Indonesia tidak seperti yang dinyatakan Esser. Menurut dia, jumlah bahasa di Indonesia hanya 96. Akan tetapi, dengan memanfaatkan petugas kebudayaan yang terdapat di daerah-daerah di seluruh Indonesia, Lembaga Bahasa Nasional (1972) mencatat 418 bahasa daerah.
Sementara itu, dari ratusan bahasa daerah di Indonesia, dalam Ethnologue diuraikan beberapa bahasa yang mendekati kepunahan berdasarkan jumlah penutur yang tersisa, antara lain bahasa Amahai (50 orang), Hoti (10), Hukumina (1), Ibu (35), Kamarian (10), Kayeli (3), Nusa Laut (10), Piru (10), Bonerif (4), Kanum Bädi (10), Mapia (1), Massep (25), Mor (20-30), Tandia (2), Lom (2), Budong-budong (70), Dampal (90), dan Lengilu (10). Indikasi kepunahan sejumlah bahasa daerah itu dikhawatirkan akan berdampak pada kepunahan budaya yang mereka miliki, dan akhirnya mengancam kebudayaan nasional.
Untuk mengantisipasi permasalahan ini, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional mencantumkan ancaman kepunahan bahasa daerah sebagai salah satu kajian utama pada Kongres IX Bahasa Indonesia tahun 2008 lalu. Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono menyatakan kekhawatirannya terkait tergesernya penggunaan bahasa daerah oleh bahasa Indonesia. Misalnya, keluarga muda yang tinggal di kota cenderung menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga mereka.
Dendy menjelaskan, saat ini pihaknya sedang mengembangkan kelembagaan Pusat Bahasa (dalam hal ini Balai Bahasa) di delapan daerah untuk melakukan penelitian dalam rangka mengantisipasi kepunahan bahasa daerah. Kedelapan daerah itu antara lain Provinsi Bangka Belitung, Bengkulu, Kepulauan Riau, Banten, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Gorontalo.
Pada sisi lain, Dendy menuturkan, sebagian ranah penggunaan bahasa Indonesia tergeser oleh bahasa asing. Kondisi itu menunjukkan, kedudukan dan fungsi ketiga bahasa itu belum mantap dalam tata kehidupan masyarakat, terutama setelah reformasi tahun 1998 lalu. Sementara itu, tuntutan dunia kerja masa depan memerlukan insan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan berdaya saing, baik lokal, nasional, maupun global. Untuk memenuhi keperluan itu, sangat diperlukan keseimbangan penguasaan bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing (untuk mereka yang berdaya saing global).
Salah satu penyebab punahnya bahasa daerah di tanah air, ternyata adalah bahasa nasional itu sendiri, yakni bahasa Indonesia. Meskipun dalam teorinya bahasa Indonesia muncul dari keragaman bahasa daerah di Indonesia, bahasa persatuan yang didengungkan pada Sumpah Pemuda 1928 itu secara tidak langsung menjadi ancaman serius karena penutur bahasa daerah menjadi enggan mengajarkan bahasa ibu kepada keturunannya. Ancaman lainnya adalah bahasa gaul yang telah menjadi bahasa komunikasi sehari-hari warga perkotaan dan sering ”menempel” dalam bahasa Indonesia.
Menanggapi makin berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah di Indonesia dan merebaknya bahasa gaul, Dr. Ferry Rita, ahli antropolinguistik dari Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah menyatakan, hal itu wajar-wajar saja. Selama ini pun ragam bahasa gaul yang dulu sering disebut bahasa pasar merupakan salah satu unsur pembentuk bahasa Indonesia. Bahkan, bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu pasar yang menjadi bahasa pergaulan saat itu.
Berbeda dengan keadaan bahasa daerah di Indonesia yang menghadapi ancaman kepunahan, beberapa bahasa lainnya malah mencapai popularitasnya. Di kawasan industri seperti Karawang, bahasa Jepang muncul sebagai bahasa favorit baru di kalangan siswa sekolah menengah kejuruan. Dengan sasaran pascakelulusan siswa mereka bisa langsung bekerja di salah satu perusahaan di kawasan industri tersebut, sekolah menengah kejuruan di Karawang mencantumkan pelajaran bahasa Jepang sebagai muatan lokal.
Bahasa asing lain yang popularitasnya tidak perlu diragukan adalah bahasa Inggris. Bahasa yang didaulat sebagai bahasa komunikasi internasional itu sedikitnya mulai menggeser peran atau posisi bahasa Indonesia. Pasalnya, di beberapa jurusan di perguruan tinggi Indonesia, bahasa Inggris sudah mulai digunakan sebagai bahasa pengantar perkuliahan.
Oleh karena itu, tampaknya Teori Evolusi sedang menimpa dunia kebahasaan. Siapa yang lebih kuat, dialah yang akan bertahan. Bahasa daerah, mau tidak mau, harus tergerus oleh bahasa nasional, dan bahasa nasional harus kalah bersaing oleh bahasa asing atau bahasa internasional. Pertanyaannya, sampai kapankah bahasa-bahasa daerah di Indonesia akan bisa bertahan?***

M. Kadapi, staf bahasa Pikiran Rakyat.

Sumber: Pikiran Rakyat (21-1-2009)

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen


Jendela Nusantara

Epik La Galigo

Jakarta ( PerpustakaanTanahImpian ) - Sureq Galigo atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari pera...