Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

Tampilkan postingan dengan label Pendapat Arysio Santos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendapat Arysio Santos. Tampilkan semua postingan

ATLANTIS ITU INDONESIA


Tembok Emas Dipagari Dinding Perak
Manado (PerpustakaanTanahImpian) - Peradaban Atlantis, pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM)

Yang dimaksud East Indies adalah Indonesia. Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_Indies dalam bukunya yang berjudul "Critias dan Timaeus".

Dalam buku Timaeus, Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis.

Sebelum membicarakan keberadaan Atlantis, kita harus yakin terlebih dahulu, bahwa keberadaan Atlantis sebenarnya adalah di Indonesia. 

Dengan membaca diagram di bawah, maka kita akan tahu, bahwa betul "Atlantis adalah Indonesia".

Diagram Prof. Arysio Santos dalam Pembuktian Atlantis adalah Nusantara (yang disebut Santos dengan The East Indies)
Dalam buku Critias, adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialognya. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe, yaitu moyang lelaki Critias. Sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM).

Garis besar kisah pada buku tersebut adalah, ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas, dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas, dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya yang sangat memukau.

Peradaban Atlantis, memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan manusia.

Arsitektur Bangsa Agraris
Jika kita amati dari tulisan diatas, maka kita akan berkesimpulan, bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat maju. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu, sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar, dan mempunyai kehidupan yang makmur.

Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan, dalam usaha pencarian, untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato, waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya atau rekayasanya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato, yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam, orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan piranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?

Peta Nusantara Atlantis pada masa 
Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal

Peta Nusantara

Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Sedangkan menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia saat ini, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair, dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut, membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian, secara beruntun, dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik, yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu, tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis, dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah, atau sedang aktif kembali.
Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan, dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan

Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa, diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin.

Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah, bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh, dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang, setelah disilang di depan dada.
Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna, karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan

Ketika Lumba-lumba Sedang Berkomunikasi
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib, dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami.

Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas, sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata, dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran, atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.

Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan, dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan

Taman Eden

aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus, dan berkualitas tinggi, serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik, dan mengekstrak sari patinya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati, dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan, juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi, dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka, mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja, yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi

Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan

Relief Piring Terbang

magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga, atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk, dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju

Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.

Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus, untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik, dan berpengetahuan luas tentang pengobatan, akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat

Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat, dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna, dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif, dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh, dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif, dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik, maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan, dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa, atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis

Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis, untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui, bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas, dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim

Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.

Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat

Saat-saat Berakhirnya Atlantis

Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar, dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah, dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat, pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah ceret air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang, dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan.

Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak kita renungkan mulai sekarang. Bicara sejarah, pasti hanya waktu yang tidak dapat diubah, karena penggambaran tempat dapat direkayasa sedemikian rupa. Anda tahu kapan Atlantis eksis, dan apakah Anda tahu tahun Jawa yang sesungguhnya eksis; 12.322 JED pada saat 1 Masehi. Sementara tahun Jawa yang terkontaminasi pertama adalah tahun 4425 pada saat 1 Masehi, dan tahun Jawa yang terkontaminasi kedua adalah tahun 78 pada saat 1 Masehi, atau yang sering disebut tahun saka. Dan kontaminasi tahun Jawa yang terakhir adalah kalender Jawa Islam yang diperkenalkan oleh Sultan Agung.
Masyarakat Jawa yang senkretis, terlalu longgar menerima pengaruh luar, hal ini sesuai dengan ingatan “Inggrid Benette” dimana masyarakat Atlantis adalah masyarakat yang sangat menghargai dan mudah menerima  nilai-nilai yang dianggap tidak menyakitkan orang lain.
Dari penuturan “Inggrid Benette” percaya atau tidak, itu adalah budaya yang masih hingga kini diterapkan di pedalaman Nusantara, yakni "Kearifan Lokal Indonesia"

Sumber : Dari Berbagai Sumber

Disalin dari : http://www.suarAtlantis.com
Foto : Istimewa

Atlantis di Dasar Laut Jawa

Literasi Utama
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Selama berbulan-bulan Kapten Hans Berekoven berkeliaran di perairan Laut Jawa pada pertengahan 1990-an. Dia menakhodai kapal survei seismik Angkatan Laut Australia, yang bekerja untuk dua perusahaan minyak internasional, Arco dan Conoco. Survei seismik adalah metode umum untuk meneliti struktur tanah di bawah permukaan laut, khususnya yang terkait dengan eksplorasi minyak, gas alam, dan mineral lain.

Quote:
"Wah, betapa dangkal Laut Jawa ini. Kedalamannya sekitar 60 meter di mana-mana. Menurut pengetahuan ilmiah saya, pastilah ada dataran kering selama Zaman Es di sini," kata Hans pada akhir Oktober lalu di Jakarta.

Laut Jawa adalah bagian dari Paparan Sunda yang terendam setelah Zaman Es berakhir. Paparan Sunda adalah bentangan dataran yang merupakan perpanjangan ke selatan dari dataran Asia Tenggara. Sebagian besar dataran itu kini ditutupi laut-laut dangkal, termasuk Laut Cina Selatan, Teluk Thailand, dan Laut Jawa, dengan kedalaman rata-rata kurang dari 100 meter.

Luas paparan diperkirakan mencapai 1,8 juta kilometer persegi. Pada Zaman Es, yang berlangsung ribuan tahun lalu hingga berakhir secara tiba-tiba pada 12 ribu tahun silam, seluruh paparan berada di permukaan laut. Ini terlihat dari sisa-sisa alur sungai yang telah dikenali. Satu jalur melintang ke utara menuju Laut Cina Selatan. Satu jalur ke timur menuju Dangkalan Sunda dan Terusan Flores.Keberadaan paparan ini pertama kali dilaporkan G.W. Earl pada 1845.

Hans sudah tahu soal paparan ini dan perkiraan beberapa ilmuwan bahwa di paparan inilah spekulasi Atlantis, kota legenda yang disebut-sebut filsuf Plato dalam Timaeus dan Critias, berada. Hans telah membandingkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan, termasuk analisis Arysio Santos dan Stephen Oppenheimer dalam Eden in the East, mengenai Zaman Es.

Menurut Hans, Zaman Es terjadi karena letusan megagunung berapi di Sumatera pada 70 ribu tahun lalu. Danau Toba adalah kawah yang tersisa dari letusan ini. Abu vulkaniknya terlempar ke atmosfer dan mengelilingi dunia, yang mencegah sinar matahari masuk dan mengakibatkan penurunan suhu secara global. Tudung es Kutub Utara melebar ke selatan hingga 50 derajat Lintang Utara. Sebagian besar Eropa ditutupi lapisan es tebal, yang di beberapa bagian mencapai ketebalan dua ribu meter.

"Ketika iklim dunia sangat dingin, kawasan Asia sangat hangat dan subur. Permukaan air laut berada 150 meter lebih rendah daripada sekarang. Hal ini mendorong manusia nomaden di Cina, India, dan kawasan Asia lain bermigrasi ke Paparan Sunda, sehingga paparan ini menjadi pusat konsentrasi peradaban," kata Hans.

Sumber Gambar : http://www.sayangi.com/media/k2/items/cache/387550f7343f4deb93ee23f25519aa16_XL.jpg

Lahan subur yang terbatas di Paparan Sunda ini memaksa suku-suku nomaden itu mengubah budaya mereka, dari bangsa pengembara menjadi bangsa penetap yang mengembangkan cara bercocok tanam dan memelihara binatang. "Jadi pertanian dan peternakan ditemukan di sini, di Indonesia, bukan di Mesopotamia," katanya. Selama ini peradaban terorganisasi dianggap pertama kali berkembang di Mesopotamia pada 5.500 tahun lalu.

Namun, setelah berlangsung lebih dari 60 ribu tahun, Zaman Es tiba-tiba berakhir. Es mencair secara besar-besaran yang dimulai pada 10 ribu tahun sebelum Masehi. Mengapa demikian? Para ilmuwan berbeda pendapat mengenai jawabannya. Adapun Hans memilih teori benturan asteroid. Dalam teori ini, sebuah asteroid raksasa diduga menghantam pesisir Amerika Utara di Samudra Atlantik pada 12 ribu tahun lalu. Letusan ini mengakibatkan pemanasan global yang mencairkan tudung es Kutub Utara, yang menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian Paparan Sunda.

Tenggelamnya sebagian kawasan subur ini menenggelamkan pula tanda-tanda peradaban awal di Asia. Seberapa jauh peradaban itu berkembang juga belum bisa diketahui. Namun, dari data seismik yang diperoleh saat menyelidiki Laut Jawa, Hans melihat adanya tanda-tanda awal peradaban itu. Masalahnya, kata dia, data itu berfokus pada 1.000 meter di bawah dasar laut. "Tapi, jika Anda memanipulasi data itu dengan perangkat lunak khusus, Anda dapat melihat 'tonjolan' 10 meter, meskipun kabur dan kualitasnya kurang baik," kata Hans.

Selain itu, kata dia, survei tersebut dilakukan bukan pada titik-titik terbaik, yakni menyusuri bekas sungai kuno di dasar Laut Jawa. "Karena data saya tak cukup memadai dan perusahaan minyak itu juga punya misi yang berbeda dan khawatir akan datanya, saya memutuskan meneliti sendiri," katanya.

Hans Berekoven lantas membelanjakan uang bonus tahunannya dan 2.000 wol halus Morinos miliknya untuk membeli kapal Southern Sun dan berlayar ke Laut Jawa. Dia dan istrinya, Rose, serta dua anaknya, Tristan, 15 tahun, serta Hannah, 8 tahun, berangkat ke Bali, tempat mereka membangun basis untuk pengisian bahan bakar, pasokan, dan sekolah bagi kedua anak mereka pada 2005.

Proyek Arkeologi Paparan Sunda, demikian nama proyek mereka, menggunakan kapal sepanjang 19 meter yang dilengkapi peralatan sonar dan kapal selam mini jarak jauh. Sonar itu dapat merekam kawasan seluas 200 meter persegi dan kedalaman sekitar 60 meter. Adapun kapal selam mininya membantu merekam dan mendekati obyek-obyek di dalam laut. "Saya menjalankannya seperti petani menggarap sawah, sepetak demi sepetak, untuk memetakan permukaan dasar laut," kata Hans.

Quote:
Dia lalu mendekati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan pemerintah Indonesia untuk membantu usahanya. Semula, menurut dia, Indonesia kurang tertarik pada tawarannya itu. "Belakangan pihak Indonesia setuju dengan syarat proyek ini harus menggunakan kapal penelitian mereka yang besar," katanya.

Naskah kerja sama antara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Spasial Nasional (Bakosurtanal) dan Southern Sun Sonar and Mapping itu ditandatangani pada 22 Maret 2006 oleh Sekretaris Utama Bakosurtanal Sukendra Martha dan Hans Berekoven. Masalahnya, kata Hans, menggunakan kapal besar kemudian biayanya tambah besar. "Saya tak punya cukup dana untuk itu," katanya. Akhirnya kerja sama itu batal.

Karena tak dapat mengantongi izin survei dari pemerintah Indonesia, Hans dan kapal kecilnya, Southern Sun, berbelok ke Malaysia dan membangun markas di Miri, Sarawak. Hans dan Rose kini menjelajahi perairan Malaysia dan Kalimantan. Tapi Hans masih yakin bahwa bukti peradaban kuno itu tersimpan di balik timbunan lumpur di dasar Laut Jawa.

Keyakinannya ini bertambah tebal ketika ia mendengar soal temuan kota kuno di bawah air di Teluk Cambay di pantai barat India pada 2002. Dia pun segera ke sana. National Institute of Ocean Technology, lembaga milik pemerintah India yang menangani penelitian kelautan, telah melakukan survei dengan sonar di Teluk Cambay sejak 1999. Badrinaryan, ketua tim penelitian ini, mencatat bahwa dia menemukan bentuk-bentuk tak biasa dari citra sonar. "Bentuk-bentuk lingkaran dan bujur sangkar dalam tatanan geometris itu tak mungkin ada di laut," tulis Badrinaryan di situs Graham Hancock, situs yang banyak memuat analisis tentang misteri peradaban kuno.

Artefak itu berada di kedalaman 40 meter dan 20 kilometer dari pantai. Yang mengejutkan adalah hasil pengujian karbon untuk penentuan usia artefak itu, yang dilakukan oleh beberapa lembaga di India; Oxford University, Inggris; dan Hannover, Jerman. Beberapa benda artefak itu bertitimangsa hingga 19 ribu tahun yang lalu, yang berarti berada di Zaman Es. Beberapa pecahan tembikar yang diteliti Oxford University diperkirakan telah berusia 16 ribu tahun. Hal ini membuatnya jadi tembikar tertua, yang menggeser posisi tembikar Jomon dari Gua Fukui di Kyushu, Jepang, yang berusia 12 ribu tahun.

Temuan itu juga mengungkap bahwa peradaban kuno di Teluk Cambay telah mampu membuat tembikar dan membakarnya pada 16 ribu tahun lalu. Mereka juga telah membangun kota di tepi sungai dan rumah-rumah dalam susunan yang teratur. Di kota kuno itu juga ditemukan biji-biji makanan yang sudah jadi fosil, yang menunjukkan bahwa mereka melakukan budi daya pertanian. Hans dua kali ke India dan memotret artefak-artefak itu. "Mesopotamia sebagai peradaban tertua jadi tak ada artinya sekarang," katanya.

"Kota di bawah laut Teluk Cambay itu merupakan bagian benua yang tenggelam pada Zaman Es. Setiap negara punya yang seperti ini dan Indonesia memiliki bagian yang terbesar," kata Hans. Ia masih berharap kapalnya, Southern Sun, dapat memindai Laut Jawa dan menemukan sebuah kota kuno di dasarnya.
Sumber ; http://segalaberita.com/index.php/features/knowing/671-ada-kota-purba-yang-tenggelam-di-dalam-laut-jawa

Foto : Istimewa

KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”

Literasi Utama
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Judul Asli : ANTARA CERITA DAN FAKTA (Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia) Oleh: PEBRI MAHMUD AL HAMIDI

Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. 

Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. 

Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian. Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi.

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.

RINGKASAN
Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). 


Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. 

Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.

PENDAHULUAN
Nusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantara yang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).


Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).

Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.

Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.

Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.

Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).

Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.

Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.

TINJAUAN PUSTAKA
Nusantara dalam Lintasan Sejarah
Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan zaman kemerdekaan. Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar kerajaan. Urutan tahun berdiri kerajaan di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Kerajaan di Indonesia berdasarkan tahun berdirinya
No
Nama Kerajaan
Lokasi Situs
PerkiraanTahun Berdiri
1.
Kerajaan Kandis*
Lubuk Jambi, Riau
Sebelum Masehi
2.
Kerajaan Melayu Jambi
Jambi
Abad ke-2 M
3.
Kerajaan Salakanegara
Pandeglang, Banten
150 M
4.
Kepaksian Skala Brak Kuno
Gunung Pesagi, Lampung
Abad ke-3 M
5.
Kerajaan Kutai
Muara Kaman, Kaltim
Abad ke-4 M
6.
Kerajaan Tarumanegara
Banten
Abad ke-4 M
7.
Kerajaan Koto Alang
Lubuk Jambi, Riau
Abad ke-4 M
8.
Kerajaan Barus
Barus, Sumatra Utara
Abad ke-6 M
9.
Kerajaan Kalingga
Jepara, Jawa Tengah
Abad ke-6 M
10.
Kerajaan Kanjuruhan
Malang, Jawa Timur
Abad ke-6 M
11.
Kerajaan Sunda
Banten-Jawa Barat
669 M
12.
Kerajaan Sriwijaya
Palembang, Sumsel
Abad ke-7 M
13.
Kerajaan Sabak
Muara Btg. Hari, Jambi
730 M
14.
Kerajaan Sunda Galuh
Banten-Jawa Barat
735 M
15.
Kerajaan Tulang Bawang
Lampung
771 M
16.
Kerajaan Medang
Jawa Tengah
820 M
17.
Kerajaan Perlak
Peureulak, Aceh Timur
840 M
18.
Kerajaan Bedahulu
Bali
882 M
19.
Kerajaan Pajajaran
Bogor, Jawa Barat
923 M
20.
Kerajaan Kahuripan
Jawa Timur
1009 M
21.
Kerajaan Janggala
Sidoarjo, Jawa Timur
1042 M
22.
Kerajaan Kadiri/Panjalu
Kediri, Jawa Timur
1042 M
23.
Kerajaan Tidung
Tarakan, Kalimantan Timur
1076 M
24.
Kerajaan Singasari
Jawa Timur
1222 M
25.
Kesultanan Ternate
Ternate, Maluku
1257 M
26.
Kesultanan Samudra Pasai
Aceh Utara
1267 M
27.
Kerajaan Aru/Haru
Pantai Timur, Sumatra Utara
1282 M
28.
Kerajaan Majapahit
Jawa Timur
1293 M
29.
Kerajaan Indragiri
Indragiri, Riau
1298 M
30.
Kerajaan Panjalu Ciamis
Gunung Sawal, Jawa Barat
Abad ke-13 M
31.
Kesultanan Kutai
Kutai, Kalimantan Timur
Abad ke-13 M
32.
Kerajaan Dharmasraya
Jambi
1341 M
33.
Kerajaan Pagaruyung
Batu Sangkar, Sumbar
1347 M
34.
Kesultanan Aceh
Banda Aceh
1360 M
35.
Kesultanan Pajang
Jawa Tengah
1365 M
36.
Kesultanan Bone
Bone, Sulawesi Selatan
1392 M
37.
Kesultanan Buton
Buton
Abad ke-13 M
38.
Kesultanan Malaka
Malaka
1402 M
39.
Kerajaan Tanjung Pura
Kalimantan Barat
1425 M
40.
Kesultanan Berau
Berau
1432 M
41.
Kerajaan Wajo
Wajo, Sulawesi Selatan
1450 M
42.
Kerajaan Tanah Hitu
Ambon, Maluku
1470 M
43.
Kesultanan Demak
Demak, Jawa Tengah
1478 M
44.
Kerajaan Inderapura
Pesisir Selatan, Sumbar
1500-an M
45.
Kesultanan Pasir/Sadurangas
Pasir, Kalimantan Selatan
1516 M
46.
Kerajaan Blambangan
Banyuwangi, Jawa Timur
1520-an M
47.
Kesultanan Tidore
Tidore, Maluku Utara
1521 M
48.
Kerajaan Sumedang Larang
Jawa Barat
1521 M
49.
Kesultanan Bacan
Bacan, Maluku
1521 M
50.
Kesultanan Banten
Banten
1524 M
51.
Kesultanan Banjar
Kalimantan Selatan
1526 M
52.
Kesultanan Cirebon
Jawa Barat
1527 M
53.
Kesultan Sambas
Sambas, Kalimantan Barat
1590-an M
54.
Kesultanan Asahan
Asahan
1630 M
55.
Kesultanan Bima
Bima
1640 M
56.
Kerajaan Adonara
Adonara, Jawa Barat
1650 M
57.
Kesultanan Gowa
Goa, Makasar
1666 M
58.
Kesultanan Deli
Deli, Sumatra Utara
1669 M
59.
Kesultanan Palembang
Palembang
1675 M
60.
Kerajaan Kota Waringin
Kalimantan Tengah
1679 M
61.
Kesultanan Serdang
Serdang, Sumatra Utara
1723 M
62.
Kesultanan Siak Sri Indrapura
Siak, Riau
1723 M
63.
Kasunanan Surakarta
Solo, Jawa Tengah
1745 M
64.
Kesltn. Ngayogyakarto Hadiningrat
Yogyakarta
1755 M
65.
Praja Mangkunegaran
Jawa Tengah-Yogyakarta
1757 M
66.
Kesultanan Pontianak
Kalimantan Barat
1771 M
67.
Kerajaan Pagatan
Tanah Bumbu, Kalsel
1775 M
68.
Kesultanan Pelalawan
Pelalawan, Riau
1811 M
69.
Kadipaten Pakualaman
Yogyakarta
1813 M
70.
Kesultanan Sambaliung
Gunung Tabur
1810 M
71.
Kesultanan Gunung Tabur
Gunung Tabur
1820 M
72.
Kesultanan Riau Lingga
Lingga, Riau
1824 M
73.
Kesultanan Trumon
Sumatra Utara
1831 M
74.
Kerajaan Amanatum
NTT
1832 M
75.
Kesultanan Langkat
Sumatra Utara
1877 M
76.
Republik Indonesia
Kepulauan Nusantara
17-8-1945
Sumber: http://www.wikipedia.com (dengan olahan), *Tahun berdiri berdasarkan tombo adat
Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1 diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.

Kerajaan Melayu Tua di Jambi

Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera (Wikipedia, 2009).

Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.

Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.

Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama.
Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.

Kerajaan Kepaksian Sekala Brak
Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.


Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Kerajaan Salakanegara
Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.


Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.

Mitologi Minangkabau
Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.


Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).
Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).
Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).
Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama sabilullah.
Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.
Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.
Mitologi Lubuk Jambi

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.

Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau), sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.
Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.
Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. Data yang didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis

Analisis topografi yang dilakukan pada peta satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau). Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh. Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat, dengan topografi perbukitan.

Lokasi kandis atlantisGambar 1 Hipotesa Lokasi Istana Dhamna
Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan (Gambar 2)


1
Gambar 2 Batu Karst yang diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan
Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak bukit (Gambar 3). Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap, sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti tiang batu yang diduga bekas menara istana (Gambar 4).



2
Gambar 3 Batu Karst yang memenuhi puncak bukit


Gambar 4 Tiang batu yang diduga bekas menara istana



Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup (Gambar 5).
5
Gambar 5 Mulut goa yang diduga pintu masuk istana
Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air (Gambar 6), sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m, teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan 1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini berdasarkan perkiraan di lapangan dan pengukuran di peta satelit. Untuk mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.


Gambar 6 Teras yang diduga bekas cincin air



Gambar 7 Sketsa Lokasi situs kerajaan Kandis
Titik Lokasi Kandis

Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani “Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk Jambi.


Gambar 8 Perspektif Istana Dhamna menggunakan Sketsa Kerajaan Atlantis

Perspektif

Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau disinggahi manusia dulunya.



Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi



Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi, kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang. Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. Lain halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi. Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.

Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.



Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis

Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.

Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias” memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.
Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain, Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.

Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato. Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.



KESIMPULAN

Dari penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Bukit yang terletak pada 0042’58 LS dan 101020’14 BT diduga sebagai situs peninggalan Kandis yang dimaksudkan didalam tombo/cerita adat.
  • Kerajaan Kandis diduga sebagai peradaban awal di nusantara.
  • Kerajaan Kandis merupakan replika dari kerajaan Atlantis yang hilang.

Kesimpulan ini masih bersifat dugaan atau hipotesa untuk melakukan penelitian selanjutnya. Oleh karena itu penelitian arkeologis akan menjawab kebenaran dugaan dan kebenaran tombo/mitos yang ada ditengah-tengah masyarakat.



UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemangku Adat Kenogorian Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo, Syamsinar Dt. Rajo Suaro, Danial Dt. Mangkuto Maharajo Dirajo, Sualis Dt. Paduko Tuan, dan Hardimansyah Dt. Gonto Sembilan), Drs. Sukarman, Mistazul Hanim, Nurdin Yakub Dt. Tambaro, Abdul Aziz Dt. Dano, Bastian Dt. Paduko Sinaro, Ramli Dt. Meloan, Marjalis Dt. Rajo Bandaro, dan Syaiful Dt. Paduko. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Meutia Hestina, Apriwan Bandaro, dan teman-teman yang membantu penulis dalam ekspedisi: Mudarman, bang Sosmedi, Yogie, Nepriadi, Zeswandi, bang Izul, Diris, Ikos, dan Yusran. Mas Sam dan Erli terima kasih atas informasinya.



DAFTAR PUSTAKA

Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.

Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.

Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.

Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.

Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.

Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.



Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.

Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.



Koordinator Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau



Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi



Comment Untuk Kerajaan Di atas

    Berdasarkan penelitian Robert Blust (1999), juga hasil investigasi Austronesian Basic Vocabulary Database (2008), dari 10 cabang bahasa Austronesia, 9 cabang bahasa Austronesia terdapat di Pulau Formosa (Taiwan) sementara sisanya yang 1 cabang yaitu Melayu-Polinesia tersebar dari Madagaskar sampai Pulau Paskah dan dari Pulau Luzon sampai Selandia Baru. Ini mengimplikasikan rumpun bahasa Austronesia berasal dari Taiwan baru kemudian menyebar ke seputar Pasifik.

    Makalah anda adalah sesuatu yang baru bagi awam dan saya unjuk salut kepada anda. Akan tetapi ada beberapa ganjalan atas paparan anda tentang kaitan Kerajaan Kandis dengan Atlantis yang diceritakan Plato dalam Cretias dan Timeus.

Apakah anda lupa bahwa Plato menceritakan Atlantis exist 9000 tahun sebelum masa Plato, atau kira-kira 11.400 tahun lalu? Penelusuran terbaru tentang Atlantis memang mengarah ke Pulau Sumatra, tetapi paparan anda tentang Kerajaan Kandis sebagai replika Atlantis hanya beberapa kecocokan saja, padahal ada puluhan check list yang harus disesuaikan untuk fokus kepada pendekatannya.
Mitologi2 yang anda paparkan sangat sedikit kaitannya dengan cerita Atlantis, justru yang fokus adalah bahwa penguasa Atlantis disebutkan memiliki 5 pasang garis keturunan, belum lagi ukiran2 dan ciri-ciri fisik lainnya.
Masih sangat banyak clue yang harus disesuaikan untuk mengarahkan Atlantis berada di salah satu wilayah di Pulau Sumatra sebelum membuat kesimpulan hipotetik. Walau demikian, makalah ini cukup menarik untuk menjadi wacana yang diminati orang. Selamat mencari…
        Mungkin saja cerita Atlantis juga banyak didengar oleh orang2 Indonesia pada jaman dahulu, sehingga mereka ingin coba meniru dan akhirnya membuat replika seperti Atlantis.
Satu lagi yang saya bingung, pernah baca di internet bahwa ada utusan dari China yg mengatakan bahwa, kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad ke 3M. Tapi di tabel dlm cerita ini kok bisa menjadi 771M?
Dalam cerita yg lain juga mengatakan bahwa kerajaan Tulang Bawang adalah kerajaan yg pernah berjaya pada masa Hindu dan sudah ada sebelum munculnya kebesaran kerajaan Sriwijaya, bahkan katanya kerajaan Sriwijaya merupakan bentuk federasi dari kerajaan Tulang Bawang dan kerajaan Melayu Jambi, dari cerita ini mendukung ttg kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad 3M.
Mudah-mudahan ada yg berkenan menjelaskan ttg hal ini atau berbagi informasi ttg kerajaan Tulang Bawang. Saya ingin sekali banyak mendapatkan informasi sejarah kerajaan Tulang Bawang, karena saya berasal dari daerah Tulang Bawang.
    Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.
Paragrap diatas saya petik dari artikel; yang menjadi pertanyaan adalah; Apakah rajanya yang memerintah tahun 130 – 168 anda sebut seorang haji? sementara Islam mulai berkembang di tahun 1 Hijrah adalah tahun 622 Masehi. Atau apakah anda ada salah ketik mengenai tahun yang seharusnya disebut tahun Hijrah (130 H – 168 H). Coba anda telusuri lagi sumber anda supaya tiak menjadi sejarah asal-asalan di makalah anda?
    Ulasan saudara tentang Kerajaan Kandis sebagai replika Atlantis hanya beberapa kecocokan saja namun itu tidak boleh dijadikan acuan untuk menjeneralisasi semua suku budaya di kepulauan nusantara itu sama. Di Timor tidak ada sangkut pautnya dengan kajian saudara dan memang tidak ada hubungan ko.Mitologi2 yang saudara sajikan sangat tidak ada kaitannya dengan cerita Atlantis, apalagi dengan wilayah Indonesia Timur seperti Timor, Molukas, Papua, sulawesi dan pulau-pulau lainya. Kelihatannya anda sedang bermimpi dan silahkan anda bermimpi tetapi jangan terbuai mimpi-mimpi disiang bolong. Sumber nya mana ……………???????????????
  • Tulisan yang bagus Pak, mohon izin share dan copy paste Pak utk menambah wawasan saya dan teman2. Terimakasih.
  • Tak Tau mau mengatakan apa, memang luar biasa, yang perlu di tindak lanjuti adalah sosialisasi kepada masyarakat. terutama masyarakat kuantan singingi sendiri yang banaayk tidak mengatahui..dan perlu di patenkan ke dunia internasional
  • Artikel yang menarik, terutama dengan menghangatnya hasil analisis Atlantis oleh Prof. Santos. Mudah2an analisis Prof. Santos mengenai Atlantis ini menggugah kita untuk lebih semangat, lebih bangga dan tentunya ini semua untuk kemajuan negeri kita Indonesia.
Indonesia super power………………….

Ada masukan saja untuk tulisan ini mengenai Alexander/Iskandar Zulkarnain. Beberapa tulisan mengatakan bahwa Iskandar Zulkarnaen yang ada di Al Quran itu beda dengan Iskandar/Aleksander Zulkarnaen di Yunani.

Oleh karena itu boleh jadi hikayat tetua kita dari Minangkabau dan Jambi bahwa mereka keturunan Iskandar Zulkarnaen tidak salah, karena boleh jadi bukan Iskandar Zulkarnaen zaman Yunani, tetapi yang lain, yang ada pada Al Quran.

Terima kasih.

    Bagus sekali informasinya, selama ini kerajaan kandis tidak pernah diungkit dalam literatur pelajaran sekolah, yang saya tahu kandis itu merupakan daerah kabupaten di Provinsi Riau, letaknya antara rumbai dan duri (kampung halaman saya). Kita patut bangga jika benar atlantis itu adalah sundaland, berarti moyang kita orang hebat. Sayang sekali sekarang kita sedang terpuruk. tapi begitulah hidup, patah tumbuh hilang berganti….

    Saya adalah generasi ke-4 Sultan Bulungan yang Terakhir, Sultan M.M.Djalaluddin dari Kerajaan Bulungan Kalimantan Timur. Sedikit koreksi untuk daftar kerajaan diatas. Kerajaan Tidung tidak ada….kecuali bila legenda tangkuban perahu diakui sebagai sejarah. Yang ada adalah Kerajaan Bulungan, dapat dibuktikan dengan adanya makam dan situs eks istana (Istana musnah dalam peristiwa pembantaian massal oleh TNI pd th 1965) Kerajaan Belanda juga mencatat adanya kerajaan Bulungan. Mohon agar daftar diatas di koreksi agar tidak terjadi penyimpangan sejarah.

    Ada beberapa comentator yang masih keberatan tapi itu menjadi suport untuk lebih giat lagi mencari sumber sebagai jawaban atas clue.. tapi dengan berani meneliti dan membuka wacana itu akan serta merta mengundang semua arkeolog dunia mencari tau juga…..salu kok buat bung pebri maslah benar tdk…mash perlu harus di periksa…..soalnya ini mslah sejarah…dan makalah andasudah diterbitkan dlam bentk buku……kalo ini sampe salah ……anda telah ,merubah salah…tp hebat buat anda

    Boleh nimbrung nih,..? Yang pasti,..wilayah kita Indonesia adalah Surga,.berarti dari jaman dahulu kala Nusantara kita ini,.sudah di datangi dan di duduki oleh,.orang asing. yaitu Iskandar muda. bisa saja iskandar muda datng ke nusantara karena cerita Arisroteles mengenai benua emas,.ato Andalas,.ato memurut Pluto Atlantis. di mana Pluto mempunyai murid Aristoteles dan Iskandar Zulkarnaen adalah murid yang di tunjuk langsung sang raja untuk menjadi penasehat anaknya yaitu raja Iskandar Zulkarnaen. tentu yang jadi pertanyaan adalah apa di saat Iskandar Zulkarnaen datang ke wilayah Nusantara apa di sana sudah ada penghuninya,..? klo ya,..ya itu keturunan asli Indonesia.

    Mohon diralat tentang tahun tahun berdirinya Kerajaan Tulang Bawang Lampung, karena menurut cerita pengembara I-Tsing dan Tom Pires, kerajaan Tulang Bawang telah berdiri sejak abad ke-3, lebih dahulu berdiri sebelum Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

    Yang HAQ akan kembali kepada yang HAQ sedang yang bathil akan binasa (buka saja Alqur’an), sebenarnya mereka para ahli kitab (terutama leluhur Israel) sangat percaya & mengerti tentang sejarah dunia ini tapi mereka mengingkari (menutupi), lantas bagaimana dengan Islam (silahkan segera pelajari alquran, seperti israel) pasti akan lebih paham, kalau masih bingung/susah, pelajari saja sejarah Indonesia minimal dari tahun 1945-1955 disana masih ada kesimpang siuran sejarah tentang Darus Islam (DI/TII) & PKI. Kenapa bisa ada DI/TII (atau yang dikenal sekarang NII) & PKI apa hanya karena perebutan kekuasan atau ada unsur antek penjajah?

    Yang pasti Indonesia ini akan dipimpin oleh mereka yang memakai Alquran yaitu NEGARA ISLAM INDONESIA (NII) dengan bentuk REPUBLIK, yang memiliki bukti nyata dalam bentuk Pembangunan Modern (sekarang sudah berdiri megah, tapi sering ditutupi kegiatannya oleh pemerintah Republik Indonesia), ciri kegiatannya adalah pembangunan ekonomi & pendidikan (tidak mengajak pada hal yang berbau anarkis, sporadis)

    Pingback: Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap ? « Reinventing Atlantis Ancient Sunda Civilivation

    Kerajaan Adonara, di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur, Prov NTT. Data yang bersumber dari mana bahwa berlokasi Jawa Barat?

    maaf pak, saya mau ikut mengkoreksi sedikit, seperti halnya komentator2 diatas, memang banyak kesalahan penulisan baik tahun maupun lokasi kerajaan2 di daftar yang anda buat, seperti tulang bawang, kemudian anda juga salah menuliskan lokasi taruma negara, karena taruma negara bukan di banten tapi di jawa barat, taruma negara tidak berada di wilayah tangerang saat ini, tapi antara karawang dan bekasi, munkin anda bisa mendalami dengan menelitinya lebih dulu…terima kasih…

    wah wah wah nampaknya semakin menarik untuk dikaji sejarah nusantara ini, salut untuk penulis & para commentator yang sudah ikut andil dalam penelusuran sejarah nenek moyang kita. . .

    Ya walaupun masih banyak ketidaksempurnaan dalam penulisan yang dipaparkan tetapi harus menjadi tantangan bersama untuk mengungkap sejarah yang telah digelapkan oleh orang2 tertentu yang tidak menginginkan bangsa ini besar & maju.

    Nah makanya untuk penulis saya sarankan untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan data2nya jangan sampai ada kesalahan tahun & tempat (biar gag dibilang asal-asalan) karena bisa berakibat fatal dalam pengungkapan fakta sejarah yang sebenarnya. Dan untuk para commentator juga jangan cuma bisanya ngomong doang, tapi buat juga dong tulisan yang kualitasnya bisa lebih baik dari ini.

    Yang penting penelusuran sejarah tidak berhenti sampai disini teman2.

    Sukses for All. . .

    Maaf Daftar diatas kurang, Kerajaan Luwu Periode I di Sulawesi telah berdiri SM jauh sebelum ada kerajaan di Nusantara, Kerajaan Luwu Periode II sekitar abad 7 M dengan Raja I Simpurussiang. Silahkan baca artikel “Sureq I Lagaligo” karya sastra Luwu terpanjang dan kitab tertua sastra karya manusia didunia. oleh Prof. A. Kern (Antropolog Belanda 1800-an) mensejajarkan dengan kitab Yunani Kuno dangan Mahabarata. Supaya lengkap khasanah budaya dan sejarah kita, dan tidak menutup kemungkinan justru di Luwu lah Pusat Atlantis itu. Anehnya Sejarah Luwu dengan kebesarannya justru sangat dikenal di Dunia dibanding sejarawan di Indonesia. Jadi perlu ada pelurusan sejarah, terlalu banyak sejarah di Indonesia yang diputarbalikkan. sekedar info.

        wah, itu yang membuat saya juga penasaran,. Saya belum baca dan belum punya buku Sureq I Lagaligo itu. Apakah Bapak bisa membantu saya untuk mendapat buku itu atau copynya? Ada kemungkinan besar Atlantis itu di Sulawesi, sebab beberapa sarjana yang menelitinya, misalnya Oppenheimer, mengidikasikan bahwa peradaban EDen in The East itu berada di sekitar pantai Timur Sunda Land (Sulawesi & Kalimantan Timur, atau di NTT-NTB ?

    Historis. ”Kerajaan timor yang hilang”

    ”KING OF WEST TIMOR”

    sesungguhnya………..:Moyang kerajaan timor datang dari india belangkang (madagaskar) sudah ber juta-juta tahun yang lalu, mereka datang di pulau timor perahunya bersandar di tempat yang bernama fatu kopan/bahtera nuh yang sekarang di kenal niki-niki dan mereka mendiami di tempat bernama tunbestua/niki-niki sampai abad ke 8/9 mereka berpindah ke kupang ada dua tempat yang pertama kantor bupati kupang dan yang ke 2 gunung taibenu’ dan mreka berpindah dari tunbestua/niki-niki mereka mengangkat nubatonis menjadi raja di tempat itu dan menjaga kerajaan itu. dan sesampainya di kupang lalu berpindah ke amarasi oekabiti/oebaki dan mendirikan kerajaan timor terakir di hutan larangan amarasi sampai sekarang ini tempatnya bernama kopan taimetan. dan sebelum mereka berpindah ke amarasi di abad ke 12 dan 13 mereka mengangkat taibenu menjadi raja di tempat itu agar dapat menjaganya peninggalan kerajaan timor.

    kaisar kerajaan timor dan 2 orang raja yang pertama kali di west timor :

    kaesar kerajaan timor namanya KOPAN TAIMETAN’ dia mempunyai 2 orang raja yang bernama Usif Natun (amanatun) ke 2 Usif Nuban (amanuban). dan Usif natun adalan raja bagian barat pulau timor dan raja amanuban bagian timur pulau timor, dan raja amanatun ini adalah raja yang terkenal paling jahat dan ilmunya sangat tinggi dan perhiasannya terbuat dari emas, dan kalau raja amanuban ini raja yang suka merangkul (baeik) dan 1 kaisar dan 2 raja ini lah yang sebenarnya.

    Masa penjajahan belanda……..

    kerajaan timor yang pertama kali menentang kerajaan belanda keturunan kaisar timor yang bernama Kaisar Nepkeo/amarasi dia lah panglima perang ke 3 dari kerajaan timor, maka dari itu belanda membentuk kerajaan2 kecil di pulau timor agar menghilangkan keturunan kaisar timor sehingga pengikut kaisar timor di bantai belanda habis-habisan di penjara imigran kupang sekarang ini (jembatan selam) sehingga yang melindungi kaisar timor ini dari belanda dengan memutarbalikan fakta dari seorang tamukung amarasi yang bernama ELISA NUBATONIS/TAINNESU’ sehingga belanda tak lagi mencari kaisar timor dengan sebutan KETURUNAN KEO’kalau di jaman belanda sebut keo di bantai ! ternyata masih tertinggal 1 orang yang ber nama RUBEN KEO/RAISTANIS/NEPARASI. jadi di tahun 1719 kaisar TIMOTIUS KEO/TANIS/TAINNEPA keturunan ke 4 dari kaesar timor menyerahkan tongkat kerajaannya ke raja amarasi ke 2 KORO.

    Sisilah keturunan KAISAR KOPAN TAIMETAN1. KAISAR KOPAN TAIMETAN 2. KAISAR KEO 3. KAISAR NEPKEO/AMARASI (makanya amarasi jadi namanya) 4. KAISAR TIMOTIUS KEO/TANIS/TAINNEPA 5. RUBEN KEO/RAISTANIS/NEPARASI 6. SIMON PETRUS KEO
    Daerah kekuasaan kerajaan timor sampai ke madagaskar.
    Artikel yang sangat bagus. Lanjutkan dengan karya2 bagus lainnya. Hidup Nusantara!
    KERAJAAN ATLANTIS BERIBUKOTA DI SEKITAR NTT, NTB, MALUKU, SULAWESI !!!
    Oppenheimer, mengidikasikan bahwa peradaban EDen in The East itu berada di sekitar pantai Timur Sunda Land (Sulawesi & Kalimantan Timur, atau di NTT-NTB ? Seperti dikoreksi oleh Bapa Ahmad Samantho di atas itu, sesungguhnya Taman Eden ada di wilayah Maluku, Sulawesi, NTB, NTT sesuai ditunjukan Garis Wallace-Weber, sebagai wilayah Tengah pembagi fauna-flora ke dataran Sunda (Barat) dan ke dataran Sahul (Timur). Wilayah ini juga yang menjadi pembagi lautan pada musim tertentu , Pusat Pusaran di Laut Banda: yakni membagi laut ke perairan lautan Pasifik dan Lautan Hindia 

Juga menjadi gerbang untuk berlayar ke Timur maupun berlayar ke Barat, maupun berlayar dari wilayah Selatan dunia ke wilayah Utara dunia, yakni dari selatan, Timur gerbangnya ada di laut Sawu (antara pulau Timor, Sumba,..menyusur ke dalam Pulau Flores dan Kepulauan Solor: adonara, solor, lembata, alor) masuk melalui selat ombai (Alor), terus Laut Banda menyusur terus ke laut diantara Kepulaun Maluku)…terus ke Barat Amerika melalui Lautan Pasifik, atau juga ke Kutub Utara Dunia. Serta berbagai ciri-ciri atlantis lain, GAJAH, membuat perahu layar, wewangian Cendana, Emas, rempah-rempah, sabuk gunung api, mitos tentang Garuda sebagai pesawat angkasa, karakter laut bercincin, selat-selat sempit di kepulauan Solor dan perairan yang berbahaya, sehingga pelaut/pelayar yang belum biasa tidak mungkin menembus perairan itu untuk ke sebuah samudra atau dunia baru. Tata peradaban Salib Atlantis (Arysio Santos) yang dielaborasi dari gagasan filsuf kesohor Plato tentang sebuah tata susunan masyarakat yang telah berperadaban tinggi, dan itu menjadi Ibu Kandung Peradaban Dunia, itu selama ini diperaktekan suku bangsa Lamaholot, chususnya di Pulau Adonara.

    Maridup: Haji itu dari aji (sangsekerta), bukan dari Haji b. Arab/Islam.
    Hakusamada Hidiralasifa Lawabima Sangkalasifa “Dimana pusat logamulia di situ pintu ehmasa kini.Haka hukumuma takdira jalani siralasira”.

Literasi Utama

Sumber : http://yasirmaster.blogspot.com/2011/06/kerajaan-kandis-atlantis-nusantara.html
Foto : Istimewa

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen