Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

Sebuah Ilustrasi Literasi Utama Jakarta ( PerpustakaanTanahImpian ) -   Apakah sudah saatnya ...

Pithecanthropus Erectus - 1.998.100 Tahun SM

Sangiran (PerpustakaanTanahImpian) - Di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun lalu (1.998.100 SM - 198.100 - asumsinya pada saat di hitung penelitian Dubois pada tahun 1.891 M - mendekati 1.900  M) masih dapat ditemukan hingga kini. 

Relatif utuh pula. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan.

Museum Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar.

Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. 

Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Fosil_Sangiran

Foto : Istimewa

Kesultanan Samudra Pasai 1.267 s 1.521 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah. Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai, dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.

Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan ihsan Portugal pada tahun 1521.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai

Foto : Istimewa

Kandis - 1 Tahun SM

Ilustrasi Kerajaan Kandis, Foto : Istimewa
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.

Sejarah
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 tahun Sebelum Masehi, mendahului berdirinya kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung.

Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.


Ekonomi Kerajaan
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

Pranala Luar

    Kerajaan Kandis di Melayuonline.com
    Kerajaan Kandis Kerajaan Tertua di Sumatera
    Mitologi Lubuk Jambi

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kandis


Lebih dalam lagi mengenai Kerajaan Kandis

Tahun 300 M dan Seterusnya

Tahun 300 M
Prasasti Pinawetengan
Tulisan kuno Minahasa disebut Aksara Malesung. Batu Pinawetengan terletak di Kecamatan Tompaso Barat. Merupakan batu alam yang diatasnya ditulis dengan Huruf Hieroglif (tulisan dan abjad Mesir Kuno). Tuturan Sastra Maeres ini berisi Musyawarah Pembagian Wilayah, Deklarasi untuk tetap menjaga kesatuan.
Sumber : Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Minahasa

Tahun 301
Berdirinya Kerajaan Kutai Martadipura (Hindu)
Tahun 358 - 669
Kerajaan Tarumanagara
Foto : Istimewa

Tahun 200 M dan Seterusnya

Abad 3 atau Tahun 200 M s/d 299 M
Tahun 200 M dibangunnya Candi Batujaya

Kata-kata Mutiara 04

Nikmati apa yang sedang kau pikirkan, tapi pikirkanlah apa yang hendak kau nikmati...
Sapto Satrio Mulyo

Kata-kata Mutiara 03

Waspadai pengaruh Barat, Timur Tengah, dan Asia Tengah. Sudah saatnya kita menerapkan kembali warisan prilaku Nenek Moyang - "Kearifan Lokal"
Sapto Satrio Mulyo

Kata-kata Mutiara 02

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik
Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.... Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.
Sapto Satrio Mulyo

Manusia Peking - 778.000 Tahun SM

Taipeh (PerpustakaanTanahImpian) - Manusia Peking (bahasa Tionghoa: Hanzi tradisional: bahasa Tionghoa: Běijīng Yuánrén), disebut juga Sinanthropus pekinensis (kini Homo erectus pekinensis), adalah suatu contoh dari Homo erectus. 

Suatu kelompok spesimen fosilnya ditemukan pada tahun 1923-1927 sewaktu ekskavasi di Zhoukoudian (Chou K'ou-tien) di dekat Beijing (saat itu disebut Peking), Cina. 

Temuan tersebut telah ditanggali berasal dari sekitar 500 ribu tahun yang lalu , walaupun kajian lanjutan mengajukan umur 600 sampai 780 ribu tahun yang lalu.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia_Peking

Foto : Istimewa

Kata-kata Mutiara 01

Bangsa yang terpuruk adalah, Bangsa yang lebih mempercayai dan menerapkan nilai-nilai Bangsa Lain, daripada nilai-nilai Leluhur nya sendiri.
Sapto Satrio Mulyo

Sang Saka

Sapto Satrio Mulyo
Patriot Band - Bekasi (PerpustakaanTanahImpian)
{saudioplayer}SangSaka.mp3{/saudioplayer}
Lagu "Sang Saka" yang ditulis oleh Sapto Satrio Mulyo ini, mengingatkan kita semua, untuk bangkit berjuang membangun Bangsa dari segala aspek kehidupannya.
Tahun 571 M
Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal tahun 571 Masehi (lebih dikenal sebagai Tahun Gajah)
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad

 Patriot Band - Bekasi
{saudioplayer}SangSaka.mp3{/saudioplayer}
Lagu "Sang Saka" yang ditulis oleh Sapto Satrio Mulyo ini, mengingatkan kita semua, untuk bangkit berjuang membangun Bangsa dari segala aspek kehidupannya.
"SANG SAKA"
Jika kita merenung pasti sadarkan diri
Kalau kita sudah terpuruk lama sekali

Bangsa yang pernah besar di muka bumi ini
Mengapa sekarang sulit untuk jadi Mandiri

Berkibarlah Sang Saka mengarungi Dunia
Berkibarlah Sang Saka mewarnai Dunia

Mari kita bersatu membangun negeri ini
Jangan berpaling lagi dari Ibu Pertiwi

Raihlah mimpi-mimpi untuk jadi Mandiri
Karena kau berjalan pasti tidak sendiri

Berkibarlah Sang Saka mengarungi Dunia
Berkibarlah Sang Saka mewarnai Dunia

Bangsa yang pernah besar di muka bumi ini
Mengapa sekarang sulit untuk jadi Mandiri

Homo Floresiensis 92.000 SM - 16.000 SM

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Dengan ditemukannya Homo Floresiensis di Pulau Flores tahun 2003 M, memberi petunjuk bagi kita semua,  bahwa daerah kepulauan di Nusantara yang trecakup dalam kepulauan di Asia Tenggara ini,  telah didiami manusia antara 18.000 tahun silam, hingga 94.000 tahun silam. 

Hal ini akan banyak membuktikan dan memperkuat bahwa asal usul manusia adalah dari Nusantara. Tentunya dengan mengambil benang merah antara perantauan dan pulang kampung, jika ditarik dari garis Hominid Sangiran.

Tahun 400 M dan Seterusnya

Tahun 400 M
Masuknya Agama Buddha di Indonesia.
Faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan jumlah penduduk yang beragama Buddha di Indonesia antara lain :
  1. Ajaran Buddha sendiri yang mengajarkan bahwa kita harus melakukan ehipassiko, yaitu datang, lihat dan buktikan diri sendiri. Inilah yang menyebabkan banyak orang yang tidak mengenal ajaran agama Buddha karena mereka tidak tahu kapan mereka dapat mempelajarinya.
  2. Banyak yang menganggap bahwa ajaran agama Buddha identik dengan dupa, bunga, lilin, dan lain-lain yang membuat orang-orang berpikir mengenai modal cukup besar yang akan dikeluarkan.
  3. Dalam agama Buddha tidak ada suatu perjanjian yang mengikat seseorang untuk tetap menganut agama Buddha, sehingga setelah menikah, cukup banyak umat buddhis berganti agama karena harus mengikuti agama pasangannya.
  4. Banyak orang yang menganggap bahwa agama Buddha tidak memberikan mereka hal yang dijanjikan untuk masuk surga karena mayoritas membutuhkan suatu keamanan dan jaminan bahwa mereka akan masuk surga.
  5. Kurangnya ajaran agama Buddha dalam keluarga sehingga anak-anak mereka yang bersekolah di sekolah non-buddhis akan mengikuti cara-cara dan aturan-aturan di sekolahnya yang menyebabkan mereka terpengaruh.
  6. Faktor-faktor dari orang tuanya yang tidak terlalu mengerti ajaran agama Buddha sehingga ada orang tua yang hanya menjalankan tradisi orang cina dan ada juga yang hanya berstatus agama Buddha, tetapi tidak tahu apa-apa mengenai agama Buddha. Hal ini juga disebabkan oleh Kurangnya keyakinan akan agama Buddha.

Tahun 1.600 M dan Seterusnya

Tahun 1600 M - 1904 M
Kerajaan Kristen Larantuka

Tahun 1601 M
Senopati mengundurkan diri, Kerajaan Mataram diteruskan oleh Krapyak

Tahun 1602 M - 1.800 M
Penjajahan Yang Dilakukan VOC terhadap Bangsa kita
  1. Pada bulan Maret, dua puluh perusahaan di Belanda membentuk Perusahaan Dagang - Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Heeren XVII. 
  2. Pemerintah Belanda mengizinkan VOC untuk memiliki Armada Perang sendiri, dan VOC pun memiliki hak untuk membangun benteng, serta memutuskan perang dengan pihak-pihak yang dianggap merugikan. 
  3. VOC membangun “pos” pertama di Gresik
Tahun 1604 M
Ekspidisi perusahaan dagang Inggris East India Company di bawah pimpinan Sir Henry Middleton tiba di Ternate, Tidore, Ambon dan Banda.

Tahun 1608 M
Gowa memulai perang tiga tahun melawan Kerajaan Bone

Tahun 1611 M
  1. Inggris membagun beberapa pos perdagangan di Asia, termasuk di Makassar, Jepara, Aceh dan Jambi. 
  2. Belanda membangun pos perdagangan di Jayakarta (Jakarta). Gowa menaklukkan Bone
Tahun 1613 M
Sultan Agung menjadi raja Mataram

Tahun 1614 M
  1. Aceh memenangkan pertempuran melawan Portugis di Pulau Bintan, untuk selanjutnya menyerbu Malaka. 
  2. Sultan Agung dari Mataram menyerbu wilayah Surabaya.
  3. VOC mengirimkan utusan untuk menghadap Sultan Agung
Tahun 1618 M
  1. Jan Pieterzoon Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama. 
  2. Pada bulan Desember, Sultan Banten mendorong pihak Inggris untuk mengusir Belanda dari Jayakarta. 
  3. Sultan Agung melarang transaksi dagang dengan VOC. 
  4. Di Jepara, kantor dagang VOC diserang
Tahun 1620 M
  1. Aceh mengambilaih Kedah. 
  2. Rahmatullah menjadi Sultan Banjar di Kalimantan.
Tahun 1619 M
Jayakarta menjadi Batavia

Tahun 1630 M
Berdirinya Kesultanan Asahan    Asahan

Tahun 1640 M
Berdirinya Kesultanan Bima    Bima

Tahun 1650 M
Berdirinya Kerajaan Adonara    Adonara, Jawa Barat

Tahun 1666 M
Berdirinya Kesultanan Gowa    Goa, Makasar

Tahun 1669 M
Berdirinya Kesultanan Deli    Deli, Sumatra Utara
Tahun 1675 M
Berdirinya Kesultanan Palembang    Palembang
Tahun 1679 M
Berdirinya Kerajaan Kota Waringin    Kalimantan Tengah

Sumber : wikipedia.org dan berbagai sumber

Kesultanan Pagaruyung 1.347 s 1.825 M

Istano Basa
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang pernah berdiri di Sumatra, wilayahnya terdapat di dalam provinsi Sumatra Barat sekarang.

Nama kerajaan ini dirujuk dari nama pohon Nibung atau Ruyung, selain itu juga dapat dirujuk dari inskripsi cap mohor Sultan Tangkal Alam Bagagar dari Pagaruyung, yaitu pada tulisan beraksara Jawi dalam lingkaran bagian dalam yang berbunyi sebagai berikut: Sulthān Tunggal Alam Bagagar ibnu Sulthān Khalīfatullāh yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri Pagaruyung Dārul Qarār Johan Berdaulat Zhillullāh fīl 'Ālam.

Sayangnya pada cap mohor tersebut tidak tertulis angka tahun masa pemerintahannya. Kerajaan ini runtuh pada masa Perang Padri, setelah ditandatanganinya perjanjian antara Kaum Adat dengan pihak Belanda yang menjadikan kawasan Kerajaan Pagaruyung berada dalam pengawasan Belanda.

Sebelumnya kerajaan ini tergabung dalam Malayapura, sebuah kerajaan yang pada Prasasti Amoghapasa disebutkan dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya dan beberapa kerajaan atau daerah taklukan Adityawarman lainnya.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung 

Foto : Istimewa

Hobbit 92.000 s 11.000 Tahun SM

Ilustrasi
Flores (PerpustakaanTanahImpian) - Jika Anda pernah menonton Star Trek yang pertama, mungkin Anda ingat dialog saat kejar-kejaran dengan motor terbang. 

Dimana para hobit teriak-teriak dalam bahasa Indonesia.... Nah inilah jawabannya.... Homo Floresiensis ("Manusia Flores", dijuluki Hobbit) adalah nama yang diberikan oleh kelompok peneliti untuk spesies dari genus Homo, yang memiliki tubuh dan volume otak kecil, berdasarkan...

Sjekh Siti Jenar - 1.426 M - 1517 M

Ilustrasi Sjekh Siti Jenar (Foto : Istw) 
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Sjekh Siti Jenar nama aslinya Raden Abdul Jalil (dikenal juga dalam banyak nama lain, antara lain; Sitibrit, Lemahbang, atau Lemah Abang) adalah seorang tokoh Agama Lokal di Pulau Jawa.

Lahir: 1426, Astanajapura, Cirebon, Indonesia
Meninggal: 1517, Demak, Indonesia
Kebangsaan: Indonesia

Berbicara mengenai Raden Abdul Jalil, pertama-tama yang harus kita luruskan adalah fahamnya yang menganut "Manunggaling Kawula Gusti" yang jelas-jelas hal ini adalah filosofi Jawa Kuno, bukan filosofi Arab maupun lainnya.

Ajarannyanya filosofi yang begitu tinggi dari Raden Abdul Jalil ini membuat semua Wali (Wali Songo - yang notabene semuanya orang-orang Arab tidak terkecuali) marah. Hal ini dikarenakan menurut Wali-wali yang ada, akan menghambat siar agama Islam di Nusantara.
Bagi orang Jawa yang kala itu, masih sangat sengkretis, terasa berada di persimpangan jalan. Sebagian yang masih cinta dengan prilaku Leluhurnya, menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang mengingatkan kembali ajaran dengan nilai-nilai Leluhur Nusantara, saat adanya degenerasi dari masuknya nilai-nilai asing di Nusantara.
Ajaran-ajaran Raden Abdul Jalil tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut Pupuh. Hasil dari penggaliannya terhadap nilai-nilai Leluhur Nusantara, maka mengantarkan Raden Abdul Jalil membuat sebuah karya yang sangat baik, yakni "Budi Pekerti".

Melihat karya Budi Pekerti di atas, olehkarenanya orang-orang yang dari dulu ingin merusak nilai-nilai Luhur Bangsa ini, menyangkut pautkannya dengan ajaran sesat. Padahal kalau kita lihat sejarah digantinya Budi Pekerti pada tahun 1979, menjadi ajaran Agama, justru tahun itulah sebagai tiang sejarah dimulainya Tawuran Pelajar. Jadi sebenarnya kita harus melek, bahwa nilai-nilai Leluhur Nusantara ini lebih baik dari nilai apapun yang datang dari luar.

Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup Jawa Kuno, yang kalau dari kacamata peneliti asing disebut dengan sufi.
Adapun gelar Syekh didepan namanya, adalah sebuah politik labeling dalam arti untuk menurunkan drajatnya atau tingkat kastanya, sehingga dirinya akan dapat diperintah atau menurut dengan para Syekh yang lebih tua atau memiliki drajat yang lebih tinggi.

Konsep Manunggaling Kawulo Ghusti itu sudah ada jauh Sebelum Masehi, sementara agama Islam baru lahir abad 7 (Nabi Muhammad SAW lahir tahun 571 M). Jadi jelas Konsep Manunggaling Kawulo Ghusti itu, kalau pun tidak dihidupkan kembali oleh Siti Jenar, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya.

Kalau begitu, pertanyaannya? Jika Siti Jenar orang Arab, maka berarti beliaulah yang justru terpengaruh oleh ajaran Agama Lokal yang Luhur.

Juga perlu diingat bahwa Ghusti dalam bahasa Jawa Kuno mempunyai esensi makna Tuhan YME yang sesungguhnya, sehingga orang-orang Nusantara yang mengerti betul mengenai esensi makna Tuhan YME, tidak akan pernah menghapus kosa kata Ghusti, Itulah sebabnya, datangnya agama Islam ke Indonesia tidak juga dapat dengan serta merta menggantikan kosa kata Ghusti. Seperti prilaku orang Nusantara yang sengkretis, maka pemakasaan untuk menggantikan kosa kata Ghusti, ditolak dengan halus, dengan menyisipkannya di belakang kata Ghusti, menjadi Ghusti Allah.

Pertanyaannya "Tuhan YME" ada di kosa kata yang mana - dalam Ghusti Allah? Mungkin hal ini dapat dijelaskan hukum bahasa kita, Mobil Merah, berarti Mobilnya berwarna merah. Jadi untuk orang-orang Jawa yang tetap ingin menyembah dengan cara Leluhurnya, tetap cukup memakai kata Ghusti saja. Sementara untuk orang Jawa yang ingin sembahyang cara Islam, mereka tetap menambahkan kata Allah dibelakang kata Ghusti, menjadi Ghusti Allah.

Foto : Istimewa

Catatan :


  1. Saat ini banyak sekali pemelintiran sejarah, yang setelah kita telaah bersama seperti di atas, tidak mungkin kalau Raden Abdul Jalil adalah orang Timur Tengah, Persia, Arab atau apapun.
  2. Penulis belum mendapatkan ilustrasi wajah Syekh Siti Jenar yang cocok dengan paras aslinya.


Kesultanan Malaka 1.405 s 1.511 M

Masjid Kampung Hulu Malaka, saksi bisu sejarah Kesultanan Malaka (salah satu masjid tertua di Negeri Malaka, Malaysia)
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kesultanan Melaka adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Melaka, Malaysia. Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, kemudian mencapai puncak kejayaan pada abad ke 15 dengan menguasai jalur pelayaran Selat Melaka, sebelum ditaklukan oleh Portugal tahun 1511. Kejatuhan Malaka ini menjadi pintu masuknya kolonialisasi Eropa di kawasan Nusantara.

Kerajaan ini tidak meninggalkan bukti arkeologis yang cukup untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah, tetapi keberadaan kerajaan ini dapat diketahui melalui Sulalatus Salatin dan kronik Tiongkok masa Dinasti Ming.

Dari perbandingan dua sumber ini masih menimbulkan kerumitan akan sejarah awal Malaka terutama hubungannya dengan perkembangan agama Islam di Malaka serta rentang waktu dari pemerintahan masing-masing raja Malaka. Pada awalnya Islam belum menjadi agama bagi masyarakat Malaka, tetapi perkembangan berikutnya Islam telah menjadi bagian dari kerajaan ini yang ditunjukkan oleh gelar sultan yang disandang oleh penguasa Malaka berikutnya.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Melaka

Foto : Istimewa

Kerajaan Salakanagara (130 M - 362 M)

Pandeglang (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak) berdiri pada tahun 130 M dengan Ibukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang.

Raja pertama Dewawarman I (130 M – 168 M) dengan gelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja Penguasa Gerbang Lautan)
Daerah kekuasaannya meliputi :

• Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan
• Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau
• Dan daerah Ujung Sumatera Selatan

Pada tahun 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran, mulai dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, Ujung Utara dan Pesisir Barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina.

Urutan Raja-Raja Salakanagara
  1. 130-168 M, Dewawarman I (Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara,
  2. 168-195 M, Dewawarman II (Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra), Putera tertua Dewawarman I,
  3. 195-238 M, Dewawarman III (Prabu Singasagara Bimayasawirya), Putera Dewawarman II,
  4. 238-252 M, Dewawarman IV (Menantu Dewawarman II, Raja Ujung Kulon),
  5. 252-276 M, Dewawarman V (Menantu Dewawarman IV),
  6. 276-289 M, Mahisasuramardini Warmandewi (Puteri tertua Dewawarman IV & isteri Dewawarman V),
  7. 289-308 M, Dewawarman VI (Sang Mokteng Samudera), Putera tertua Dewawarman V,
  8. 308-340 M, Dewawarman VII (Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati), Putera tertua Dewawarman VI,
  9. 340-348 M, Sphatikarnawa Warmandewi (Puteri sulung Dewawarman VII),
  10. 348-362 M, Dewawarman VIII (PRABU DARMAWIRYA Dewawarman), Cucu Dewawarman VI.
Tahun 362 M saat tampuk pimpinan ada di tangan DEWAWARMAN IX, Salakanagara menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara. Sehingga dapat dikatakan bahwa Dewawarman VIII adalah Raja terakhir Salakanagara.
Sumber : Buku “Catatan Masa Lalu Banten”, Drs Halwani Michrob, MSc, Drs A. Mudjahid Chudori, Penerbit Saudara, Serang 1993. Ditambah berbagai sumber lainnya

Sumber : Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Peristiwa Krakatau - 1.883 M

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

Perkembangan Gunung Krakatau
Gunung Krakatau Purba

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik.

Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:

"Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera"

Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.

Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Munculnya Gunung Krakatau
Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.

Erupsi 1883
Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, terjadi ledakan pada gunung tersebut. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.

Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.

Anak Krakatau
Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.

Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini akan terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Anak Krakatau, Februari 2008

Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Anak Krakatau saat ini secara umum oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan "Gunung Krakatau" juga, meskipun sesungguhnya adalah gunung baru yang tumbuh pasca letusan sebelumnya.

Pranala luar
Laman di tentang Krakatau di Discovery Channel
Koleksi foto Anak Krakatau erupsi 2011-2012
van Sandick RA 1890. In The Realm of The Volcano. The eruption of Krakatau and the aftermath. Zutphen, W.J. Thieme & Cie. Buku daring berisi catatan-catatan seorang juru mesin pada saat Krakatau meletus
Laman berisi penuturan saksi-saksi mata peristiwa meletusnya Krakatau 1883.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau

Peristiwa Danau Toba - 73.000 Tahun SM

(Ekspedisi Cincin Api Kompas)
Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.

Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang, Berastagi dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Untuk informasi lebih lengkap tentang Danau Toba silahkan lihat disini

Sejarah
Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.
Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari Oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.

Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.

Referensi
    Jorge A. Vazquez dan Mary R. Reid. Probing the Accumulation History of the Voluminous Toba Magma.
    Science #305, 13 Agustus 2004, hlm. 991-994.
    Dedi Riskomar., Letusan Gunung Toba Terdahsyat di Dunia, Harian Umum Pikiran Rakyat, 1 April 2010, hlm. 30.

Pranala luar
    (Indonesia) Situs Pariwisata Sumatera Utara
    North Sumatra Tourism Board

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_toba

Mataram I (Mataram Kuno / Medang) - 732 M

Jogja (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri dan berpusat di Jawa Tengah (Sekarang Jogyakarta) diperkirakan berdiri pada tahun 732 M (Abad 8 M), berawal dari Pemerintahanan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Pada abad ke10 pusat Kerajaan Mataram Kuno kemudian berpindah ke Jawa Timur. pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Nama Kerajaan Medang
Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.

Agama : Hindu dan Budha
Bahasa : Sansakerta

Selama 178 tahun berdiri, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh raja-raja, sbb:
  • Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760M)
  • Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780M)
  • Sri Maharaja Rakai Panunggalan (780-800M)
  • Sri Maharaja Rakai Warak (800-820M)
  • Sri Maharaja Rakai Garung (820-840M)
  • Sri Maharaja Rakai Pikatan (840-863M)
  • Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (863-882M)
  • Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-898M)
  • Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910M)
Pendekatan Sosiologis dan Agama
Secara mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu, dan agama Buddha, tetapi pada kenyataannya masyarakat tetap  dapat hidup rukun dan saling bertoleransi. 

Hal ini dibuktikan, saat mereka bergotong royong membangun Candi Borobudur. Dimana Masyarakat Hindu sebenarnya tidak punya kepentingan pada pembangunan Candi Borobudur itu sendiri, tetapi karena masih dijalankannya Kearifan Lokal, dimana sikap toleransi dan gotong royng terjaga dengan baik, hingga mereka (masyarakat beragama Hindu) dengan sukarela turut membantu pembangunan tersebut.

Keteraturan tatanan kehidupan sosial di saat Kerajaan Mataram Kuno,  juga dibuktikan dengan adanya kepatuhan hukum oleh semua pihak. Hal ini dapat dilihat, ketika Peraturan Hukum Yang Dibuat Penduduk Desa, ternyata juga dihormati dan dijalankan oleh para pegawai istana. Semua itu dapat berlangsung, karena diterapkannya Kearifan Lokal.

Pendekatan Politik
Untuk mempertahankan wilayah kekuasaan, Kerajaan Mataram Kuno menjalin hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti; Sriwijaya, Siam dan India. Selain itu, Mataram Kuno sangat menganut Politik Jawa, yakni dengan menggunakan diplomasi perkawinan politik. Sebagai contoh; pada masa pemerintahan Samaratungga yang berusaha menyatukan kembali Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya, maka mereka mengawinkan anaknya yang bernama Pramodyawardhani (Wangsa Syailendra) dengan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya).

Dengan Diplomasi Perkawinan Politik ini, terjadilah jalinan kerukunan beragama antara Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Buddha (Wangsa Syailendra) semakin erat.

Sistem Pemerintahan
Kerajaan sebagai sistem pemerintahaan Mataram Kuno, yang digunakan dari sejak berdirinya Mataram Kuno di abad ke-8 hingga runtuhnya di abad 11

Kemudian Sistem ini dikenal dengan sistem dinasti; atau yang biasa disebut dengan Dinasti Sanjaya

Pemerintahan dipegang oleh Seorang Raja
Mataram Kuno memiliki beberapa tingkatan Raja yakni; Datu dan Sri Maharaja

Dari sejarah pemerintahannya tersebut, terdapat beberapa Raja yang telah memerintah:
  • Sanjaha, pendiri Kerajaan Medang memerintah dari 723M
  • Rakai Panagkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendrra 770M
  • Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  • Rakai Warak alias Samaragrawira
  • Rakai Garung alias Samaratungga
  • Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya 840M
  • Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala berkuasa mulai dari 856 M - 880 M
  • Rakai Watuhumalang
  • Rakai Watukura Dyah Balitung
  • Mpu Daksa
  • Rakai Layang Dyah Tulodong
  • Rakai Sumba Dyah Waw
Perekonomian
Mataram Kuno sejak abad ke-9 sudah menggunakan, dan memiliki mata uang berupa emas, dan perak untuk melakukan transaksi perdagangan. Dimana uang masa itu disebut Tahil Jawa.

Kerajaan Mataram Kuno, terkenal sebagai kerajaan yang kaya akan padi dan tambang emas

Kebudayaan Hindu Buddha
Mataram Kuno memiliki kebudayaan sangat tinggi. Hal ini, dapat dilihat dari banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. prasasti peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno, antara lain:
  • Prasasti Canggal (tahun 732m),
  • Prasasti Kelurak (tahun 782M),
  • Prasasti Mantyasih (Kedu).
Selain itu, juga dibangun candi Hindu, antara lain:
  • Candi Bima,
  • Candi Arjuna,
  • Candi Nakula,
  • Candi Prambanan,
  • Candi Sambisari,
  • Candi Ratu Baka,
  • Candi Sukuh.
Selain candi Hindu, dibangun pula candi Buddha, antara lain :
  • Candi Borobudur,
  • Candi Kalasan,
  • Candi Sewu,
  • Candi Sari,
  • Candi Pawon,
  • Candi Mendut.
Kemunduran dan Kehancuran
Kemunduran Kerajaan Mataram Kuno disebabkan oleh antara lain;
  • Tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit berhubungan dengan dunia luar
  • Sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi
  • Mendapat ancaman serangan dari kerajaan Sriwijaya
Olehkarenanya, pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan oleh Empu Sindok, ke Jawa Timur (di bagian hilir Sungai Brantas).

Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini dianggap sebagai cara terabaik. 

Beberapa alasan, mengapa Jawa Timur, antara lain; 
Jawa Timur adalah masih wilayah kekuasaan Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu pada letak sungai Brantas yang subur, dan mempunyai akses pelayaran sungai menuju Laut Jawa. Kerajaan ini kemudian dikenal dengan Kerajaah Mataram Kuno di Jawa Timur, atau disebut dengan Kerajaan Medang Kawulan.

Peninggalan
  • Komplek Candi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
  • Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berlatar agama Buddha.
  • Arca Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur, di Candi Belahan. Arca ini kini disimpan di Museum Trowulan.
Sumber : Dari Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Kesultanan Aceh - 1.496 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kesultanan Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi Aceh, Indonesia. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.[1]

Sejarah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Aceh

Awal mula
Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya kerajaan ini berdiri atas wilayah Kerajaan Lamuri, kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh diikuti dengan Aru.

Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568.[2]

Masa kejayaan
Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Malaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagal dikarenakan adanya persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang.

Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil

Kemunduran
Kemunduran Kesultanan Aceh bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641. Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tapanuli dan Mandailing, Deli serta Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan.

Traktat London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada Belanda untuk menguasai segala kawasan British/Inggris di Sumatra sementara Belanda akan menyerahkan segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga berjanji tidak akan menandingi British/Inggris untuk menguasai Singapura.

Pada akhir November 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun, Kesultanan Aceh akhirnya jatuh dan digabungkan sebagai bagian dari negara Hindia Timur Belanda. Pada tahun 1942, pemerintahan Hindia Timur Belanda jatuh di bawah kekuasan Jepang. Pada tahun 1945, Jepang dikalahkan Sekutu, sehingga tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan di ibukota Hindia Timur Belanda (Indonesia) segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh menyatakan bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan dari Soekarno kepada pemimpin Aceh Sultan Muhammad Daud Beureueh saat itu[rujukan?].

Perang Aceh
Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.

Pada tahun 1896 Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, memberikan saran kepada Belanda agar merangkul para ulama, dan hormat kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, Gubernur Jendral Joannes Benedictus van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, mendapat pangkat Tuanku Tijan, dan bersama wakilnya, Hendrikus Colijn, yang mendepat pangkat Tuanku Niman untuk menata Aceh.

Pada tahun 1903 Sultan Muhammad Daud akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya berada dalam kegelapan pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Sultan Aceh
Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.

Tradisi kesultanan
Gelar

    Teungku
    Tuanku
    Teuku
    Cut
    Laksamana
    Panglima Sagoe
    Uleebalang
    Meurah


Referensi
Sumber
    ^ Sejarah Kerajaan Aceh di MelayuOnline.com
    ^ Sumatra and the Malay peninsula, 16th century

Bacaan lanjutan
    LOMBARD, Denys. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakan Populer Gramedia, 2006. ISBN 979-9100-49-6 ulasan di ruangbaca.com ulasan di pdat.co.id
    REID, Anthony. Asal Usul Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. ISBN 979-461-534-X
    REID, Anthony. An Indonesian Frontier: Acehnese & Other Histories of Sumatra. Singapore: Singapore University Press, 2005. ulasan oleh Taufik Abdullah di Kompas

Pranala luar
    (Indonesia) Sejarah bertinta emas pernah terukir di Bumi Aceh
    (Indonesia) Sejarah Islam di Indonesia di swaramuslim.net
    (Indonesia) Sedikit Bercerita tentang Atjeh
    (Indonesia) Sejarah Kerajaan Aceh di MelayuOnline.com
    (Inggris) Bendera-bendera yang digunakan oleh Kesultanan Aceh

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Aceh

Kesultanan Luwu - 901 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kesultanan Luwu (juga dieja Luwuq, Wareq, Luwok, Luwu') adalah kerajaan Bugis tertua, pada 1889, Gubernur Hindia-Belanda di Makassar menyatakan bahwa masa kejayaan Luwu antara abad ke-10 sampai 14, tetapi tidak ada bukti lebih lanjut. 

Luwu bersama-sama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka adalah tiga kerajaan Bugis pertama yang tertera dalam epik I La Galigo, sebuah karya orang Bugis. Namun begitu, I La Galigo tidak dapat diterima sepenuhnya sebagai teks sejarah karena dipenuhi dengan mitos, maka keberadaan kerajaan-kerajaan ini dipertanyakan. Pusat kerajaan ini terletak di Malangke yang kini menjadi wilayah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Luwu

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen