Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

Tampilkan postingan dengan label Arsip Mangkunegaran I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsip Mangkunegaran I. Tampilkan semua postingan

Dari Majapahit ke Mangkunegaran: Jalinan Darah dan Warisan yang Terus Hidup


Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Sejarah panjang tanah Jawa menyimpan banyak kisah tentang kerajaan-kerajaan besar yang silih berganti memengaruhi peradaban. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, Majapahit dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan terkuat, meninggalkan warisan budaya dan politik yang mendalam. Salah satu entitas yang memiliki hubungan erat dengan Majapahit adalah Mangkunegaran, sebuah kadipaten yang berdiri setelah keruntuhan Mataram Islam. Bagaimana hubungan antara keduanya terjalin? Mari kita telusuri lebih dalam.
 
Jejak Majapahit dalam Genealogi Mangkunegaran
 
Meskipun Mangkunegaran muncul jauh setelah runtuhnya Majapahit, garis keturunan para penguasa Mangkunegaran memiliki akar yang kuat dalam sejarah Majapahit. Raden Mas Said, yang kemudian dikenal sebagai Mangkunegara I, adalah tokoh sentral dalam pendirian Mangkunegaran. Ia dikenal sebagai pangeran yang gigih berjuang melawan penjajahan Belanda dan memiliki ambisi untuk menghidupkan kembali kejayaan Jawa.
 
Secara geneologis, Mangkunegara I adalah keturunan dari raja-raja Mataram, yang mana Mataram sendiri mengklaim sebagai penerus sah dari Majapahit. Silsilah ini memberikan legitimasi bagi Mangkunegaran sebagai pewaris tradisi dan kekuasaan dari kerajaan-kerajaan sebelumnya. Dengan demikian, Mangkunegaran tidak hanya dilihat sebagai entitas politik baru, tetapi juga sebagai kelanjutan dari sejarah panjang Jawa.
 
Warisan Budaya dan Simbolisme
 
Hubungan antara Mangkunegaran dan Majapahit tidak hanya terbatas pada garis keturunan. Lebih dari itu, warisan budaya Majapahit tercermin dalam berbagai aspek kehidupan di Mangkunegaran. Seni, sastra, dan upacara adat di Mangkunegaran banyak dipengaruhi oleh tradisi Majapahit.
 
Salah satu contohnya adalah penggunaan simbol-simbol kerajaan yang diadopsi dari Majapahit. Simbol-simbol ini digunakan untuk memperkuat legitimasi kekuasaan dan menunjukkan kesinambungan dengan masa lalu. Selain itu, seni pertunjukan seperti wayang kulit dan tari-tarian juga menjadi media untuk melestarikan cerita-cerita epik dari zaman Majapahit, seperti Ramayana dan Mahabharata.
 
Politik dan Kekuasaan
 
Dalam konteks politik, Mangkunegaran sering kali menggunakan narasi tentang kejayaan Majapahit untuk memperkuat posisinya di antara kerajaan-kerajaan lain di Jawa. Klaim sebagai pewaris Majapahit memberikan Mangkunegaran keunggulan moral dan spiritual, yang penting dalam dinamika politik Jawa pada masa itu.
 

Selain itu, Mangkunegaran juga berusaha untuk meniru model pemerintahan Majapahit dalam beberapa aspek. Misalnya, sistem birokrasi dan struktur pemerintahan di Mangkunegaran mencerminkan adanya pengaruh dari sistem yang pernah diterapkan di Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa Mangkunegaran tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga mencoba untuk mengadopsi praktik-praktik pemerintahan yang dianggap berhasil di masa lalu.
 
Kesimpulan
 
Hubungan antara Mangkunegaran dan Majapahit adalah hubungan yang kompleks dan multidimensional. Lebih dari sekadar hubungan geneologis, Mangkunegaran mewarisi dan melestarikan banyak aspek budaya, simbolisme, dan praktik politik dari Majapahit. Dengan demikian, Mangkunegaran dapat dilihat sebagai salah satu mata rantai yang menghubungkan masa lalu kejayaan Jawa dengan masa kini. Warisan ini terus hidup dan menjadi bagian penting dari identitas Mangkunegaran hingga saat ini.

Perjalanan Hidup Mangkunegaran I (1.725 M - 1.795 M)


Surakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Mengingat jasa-jasa kepahlawanan dari Mangkunegara I, pada tahun 1.983 M Pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Mahaputra.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (nama lahir Raden Mas Said) yang lahir pada 7 April 1.725 M di Kecamatan Kartasura, dan mangkat pada 23 Desember 1.795 M di Surakarta, memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu, selama 40 tahun.

Ayah RM Mas Said, yakni K.P.A. Mangkunegara, yang menjadi putra tertua Sunan Amangkurat IV (Pakubuwana I), penguasa Kesunanan Mataram-Kartasura. 

Raden Mas Said atau Pangeran Mangkunagara I, adalah tokoh legendaris,, dikarenakan ia adalah salah satu pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah Jawa.

Mas Said merupakan tokoh Jawa terkemuka pada abad ke-18, pendiri Pura Mangkunagaran di Surakarta pada 1.757 M. Pada saat adanya perang saudara yang penuh konflik dan sangat berdarah, memperlihatkan keberaniannya.

Mangkunagara berpihak pada pemberontak sejak 1.740 M (saat usia 14 tahun) dan terus berjuang hingga tahun 1.757 M (usia 31 tahun). Musuhnya adalaha Susuhunan Pakubuwana II (berkuasa 1.726 M - 1.749 M) dan Kompeni Belanda (VOC).

Dalam pertempuran melawan Belanda dia menerapkan sistem perang gerilya melalui pengamatan di Gunung Gambar. Kesaktian sang Pangeran ini, diyakini bisa menghilang, memporak-porandakan lawan tanpa perlu balatentara, dan persenjataan modern pada saatnya. 

Pangeran Mnagkunegaran I dimakamkan di kompleks makam yang terletak di Astana Mangadeg dengan ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Persisnya di salah satu puncak perbukitan di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Persis di depan kantor pengelolaAstana Mangadeg, terdapat tugu, Monumen Tri Dharma.

Di tempat monumen itu berada, diyakini bahwa sang Pangeran pernah bersemedi di sela waktu 16 tahun perjuangannya melawan Belanda, sang pangeran bersemedi di tengah kesunyian bukit dan hutan.

Saat semedi itulah, ia merumuskan sebuah falsafah yang dikenal dengan Tri Dharma, yakni: 
  • Rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki)
  • Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan)
  • Mulat sarira hangrasa wani (berani bermawas diri).
Falsafah Tri Dharma ini, disosialisasikan untuk memotivasi rakyat mencintai dan loyal terhadap kerajaannya. 

RM Said kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran I.

Hingga kini masih banyak warga yang berziarah ke sarean Mangkunegaran I, yang beberapa di antaranya menggelar tirakat  (lek-lekan - tidak tidur) di dekat sarean, atau lebih tepatnya  di salah satu bangunan di bawah kompleks Astana Mangadeg. Hal ini dikarenakan sarean utama Mangkunegaran I dan keluarga Mangkunegoro ditutup pada pukul 24 malam.

Orang Jawa yang Hakiki
Mangkunegaran I adalah sosok yang kuat dengan prilaku Leluhur, yang dapat dilihat dari berbagai aspek yang berkembang di dalam masyarakt Jawa sebenarnya, dimana nilai-nilai tersebut terletak antara mistik, tradisi, rohani, dan budaya Jawa itu sendiri.

Ia tidak mengenal takut. Sejak usia muda, ia sudah akrab dengan konflik.

Ketika dewasa, ia harus melawan tiga musuh dalam waktu yang bersamaan sekaligus: VOC (Belanda), Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta.

Sepak-terjangnya susah dihentikan, dan bahkan mengakibatkan kemenangan pasukan yang dipimpinnya dari pihak lawan. Dari situlah ia dijuluki Pangeran Sambernyawa, karena di beberapa pertempuran, meskipun jumlah pasukannya lebih sedikit dari pihak lawan, tetapi ia dan pasukannya tetap memenangkan pertempuran tersebut..

Istana Mangkunagaran
Pura / Istana Mangkunegaran (Hanacaraka: ꦦꦸꦫ​ꦩꦁꦑꦸꦟꦼꦓꦫꦟ꧀) merupakan istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran, dan juga sebagai tempat kediaman para penguasanya (Sampéyan Ingkang Jumeneng).

Istana yang berada di Surakarta ini, mulai dibangun pada tahun 1.757 M oleh Mangkunegara I dengan arsitektur model keraton. Dimana kompleks bangunan memiliki bagian-bagian yang menyerupai keraton, seperti memiliki pamédan, pendapa, pringgitan, dalem, dan keputrèn.

Seluruh kompleks dikelilingi oleh tembok, hanya bagian pamédan yang diberi pagar besi.

Pura yang baru dibangun setelah Perjanjian Salatiga ini, sebagai langkah mengawali pendirian Praja Mangkunegaran, yang ditandatangani oleh kelompok Raden Mas Said, Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I), Sunan Pakubuwana III, dan VOC pada tahun 1.757 M. Raden Mas Said, diangkat menjadi "Pangeran Adipati" bergelar Mangkunegara I.

Perjanjian Salatiga
Sulitnya menangkap Mangkunegaran I, membuat Nicholas Hartingh, pemimpin VOC di Semarang, mendesak Sunan Pakubuwono III bernegosiasi dengan Mangkunegaran I ke meja perdamaian. Aakhirnya, Sunan-pun mengirimkan utusan, untuk menemui Mangkunegara, yang juga saudara sepupunya. Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya Mangkunegara bersedia untuk berunding dengan Sunan, tetapi dengan syarat, dengan tanpa melibatkan VOC.

Mangkunegara menemui Sunan di Keraton Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Sunan memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 gulden untuk prajurit Mangkunegara. Dengan hasil, bahwa perdamaian dengan Sunan Pakubuwana III tersebut, diformalkan dalam Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1.757 M.

Pertemuan berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri. Sunan memohon kepada RM Said agar mau membimbingnya. Sunan menjemput Mangkunegara di Desa Tunggon, sebelah timur Bengawan Solo.

Untuk menetapkan wilayah kekuasaan RM Said, dalam perjanjian yang hanya melibatkan Sunan Pakubuwono III, disaksikan oleh utusan Sultan Hamengku Buwono I, dan VOC ini, disepakati bahwa RM Said diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri.

Walaupun hanya sebagai adipati, kedudukan hukum mengenai Mangkunegaran I (gelar RM Said), tidaklah sama dengan Sunan yang disebut sebagai peminjam kekuasaan dari Kompeni, melainkan ia menyadari bahwa dirinya sebagai "raja kecil", bahkan tindakannya pun memperlihatkan bahwa "ia adalah raja Jawa Tengah yang ke-3", sehingga Kompeni pun memperlakukannya sebagai raja ke III di Jawa Tengah, selain Raja I Sunan dan Raja II Sultan.

RM Said memerintah di wilayah Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Akhirnya ia  mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1.683 (Jawa), atau 1.756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunegaran.

Pasukan Wanita
Mangkunegaran I adalah Raja Jawa pertama yang melibatkan wanita di dalam angkatan perangnya. Selama menjalankan pemerintahannya, ia menerapkan prinsip Tridarma.

Sebanyak 144 prajurit Laskar Mangkunegara adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan ringan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda).

Mangkunegara mengajari wanita-wanita desa, untuk mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.

Prajurit wanita tersebut sudah turut dalam pertempuran, saat RM Said memberontak melawan Sunan, Sultan dan VOC. 

Sumber : Dari beberapa sumber
Foto : Istimewa

#KembaliKeKearifanLokal
#SadarSejarahNusantara
#PerpustakaanTanahImpian

Mataram I (Mataram Kuno / Medang) - 732 M

Jogja (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri dan berpusat di Jawa Tengah (Sekarang Jogyakarta) diperkirakan berdiri pada tahun 732 M (Abad 8 M), berawal dari Pemerintahanan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Pada abad ke10 pusat Kerajaan Mataram Kuno kemudian berpindah ke Jawa Timur. pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Nama Kerajaan Medang
Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.

Agama : Hindu dan Budha
Bahasa : Sansakerta

Selama 178 tahun berdiri, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh raja-raja, sbb:
  • Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760M)
  • Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780M)
  • Sri Maharaja Rakai Panunggalan (780-800M)
  • Sri Maharaja Rakai Warak (800-820M)
  • Sri Maharaja Rakai Garung (820-840M)
  • Sri Maharaja Rakai Pikatan (840-863M)
  • Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (863-882M)
  • Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-898M)
  • Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910M)
Pendekatan Sosiologis dan Agama
Secara mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu, dan agama Buddha, tetapi pada kenyataannya masyarakat tetap  dapat hidup rukun dan saling bertoleransi. 

Hal ini dibuktikan, saat mereka bergotong royong membangun Candi Borobudur. Dimana Masyarakat Hindu sebenarnya tidak punya kepentingan pada pembangunan Candi Borobudur itu sendiri, tetapi karena masih dijalankannya Kearifan Lokal, dimana sikap toleransi dan gotong royng terjaga dengan baik, hingga mereka (masyarakat beragama Hindu) dengan sukarela turut membantu pembangunan tersebut.

Keteraturan tatanan kehidupan sosial di saat Kerajaan Mataram Kuno,  juga dibuktikan dengan adanya kepatuhan hukum oleh semua pihak. Hal ini dapat dilihat, ketika Peraturan Hukum Yang Dibuat Penduduk Desa, ternyata juga dihormati dan dijalankan oleh para pegawai istana. Semua itu dapat berlangsung, karena diterapkannya Kearifan Lokal.

Pendekatan Politik
Untuk mempertahankan wilayah kekuasaan, Kerajaan Mataram Kuno menjalin hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti; Sriwijaya, Siam dan India. Selain itu, Mataram Kuno sangat menganut Politik Jawa, yakni dengan menggunakan diplomasi perkawinan politik. Sebagai contoh; pada masa pemerintahan Samaratungga yang berusaha menyatukan kembali Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya, maka mereka mengawinkan anaknya yang bernama Pramodyawardhani (Wangsa Syailendra) dengan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya).

Dengan Diplomasi Perkawinan Politik ini, terjadilah jalinan kerukunan beragama antara Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Buddha (Wangsa Syailendra) semakin erat.

Sistem Pemerintahan
Kerajaan sebagai sistem pemerintahaan Mataram Kuno, yang digunakan dari sejak berdirinya Mataram Kuno di abad ke-8 hingga runtuhnya di abad 11

Kemudian Sistem ini dikenal dengan sistem dinasti; atau yang biasa disebut dengan Dinasti Sanjaya

Pemerintahan dipegang oleh Seorang Raja
Mataram Kuno memiliki beberapa tingkatan Raja yakni; Datu dan Sri Maharaja

Dari sejarah pemerintahannya tersebut, terdapat beberapa Raja yang telah memerintah:
  • Sanjaha, pendiri Kerajaan Medang memerintah dari 723M
  • Rakai Panagkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendrra 770M
  • Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  • Rakai Warak alias Samaragrawira
  • Rakai Garung alias Samaratungga
  • Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya 840M
  • Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala berkuasa mulai dari 856 M - 880 M
  • Rakai Watuhumalang
  • Rakai Watukura Dyah Balitung
  • Mpu Daksa
  • Rakai Layang Dyah Tulodong
  • Rakai Sumba Dyah Waw
Perekonomian
Mataram Kuno sejak abad ke-9 sudah menggunakan, dan memiliki mata uang berupa emas, dan perak untuk melakukan transaksi perdagangan. Dimana uang masa itu disebut Tahil Jawa.

Kerajaan Mataram Kuno, terkenal sebagai kerajaan yang kaya akan padi dan tambang emas

Kebudayaan Hindu Buddha
Mataram Kuno memiliki kebudayaan sangat tinggi. Hal ini, dapat dilihat dari banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. prasasti peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno, antara lain:
  • Prasasti Canggal (tahun 732m),
  • Prasasti Kelurak (tahun 782M),
  • Prasasti Mantyasih (Kedu).
Selain itu, juga dibangun candi Hindu, antara lain:
  • Candi Bima,
  • Candi Arjuna,
  • Candi Nakula,
  • Candi Prambanan,
  • Candi Sambisari,
  • Candi Ratu Baka,
  • Candi Sukuh.
Selain candi Hindu, dibangun pula candi Buddha, antara lain :
  • Candi Borobudur,
  • Candi Kalasan,
  • Candi Sewu,
  • Candi Sari,
  • Candi Pawon,
  • Candi Mendut.
Kemunduran dan Kehancuran
Kemunduran Kerajaan Mataram Kuno disebabkan oleh antara lain;
  • Tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit berhubungan dengan dunia luar
  • Sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi
  • Mendapat ancaman serangan dari kerajaan Sriwijaya
Olehkarenanya, pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan oleh Empu Sindok, ke Jawa Timur (di bagian hilir Sungai Brantas).

Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini dianggap sebagai cara terabaik. 

Beberapa alasan, mengapa Jawa Timur, antara lain; 
Jawa Timur adalah masih wilayah kekuasaan Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu pada letak sungai Brantas yang subur, dan mempunyai akses pelayaran sungai menuju Laut Jawa. Kerajaan ini kemudian dikenal dengan Kerajaah Mataram Kuno di Jawa Timur, atau disebut dengan Kerajaan Medang Kawulan.

Peninggalan
  • Komplek Candi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
  • Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berlatar agama Buddha.
  • Arca Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur, di Candi Belahan. Arca ini kini disimpan di Museum Trowulan.
Sumber : Dari Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Mataram II (Kesultanan) - 1.582 M

Literasi Utama Jogja (PerpustakaanTanahImpian) - Pusat kerajaan ini terletak di daerah Kota Gede (sebelah tenggara kota Yogyakarta). Kerajaan Kesultanan Mataram berdiri 1.582 M dipimpin dinasti keturunan Ki ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan (yang mengklaim masih keturunan penguasa Majapahit).

Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang VOC, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya.

Asal usul kerajaan ini adalah berasal dari sebuah kadipaten dibawah Kesultanan Pajang (Sultan hadiwijaya), berpusat  di Bumi Mentaok  yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya  mengalahkah Arya Penangsang, selanjutnya Ki Ageng Pemanahan mulai membangun Mataram sebagai tempat pemukiman baru dan persawahan.

Sementara kehadiranya didaerah ini dan usaha pembangunanya mendapatkan penolakan penguasa setempat, misalnya Ki Ageng Giring, Ki Ageng Tembayat dan Ki Ageng Mangir. 

Akan tetapi ada juga sebagian pejabat yang menyambut baik, seperti Ki Ageng Karanglo, walaupun demikian Ki Ageng Pemanahan tetap melakukan pembangunan didaerah tersebut, yang berpusat di Plered, dan juga mempersiapkan strategi untuk menundukkan siapa saja yang mementang kehadiranya.

Sutawijaya yang mendapat bantuan dari Kerajaan Pajang, utamanya dari Sutan Benowo, kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram. 

Sutawijaya kemudian menjadi raja pertama Kerajaan Kesultanan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati I Ngalaga.

Tahun 1.575 M, Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia, dan digantikan oleh putranya bernama Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar, selain beliau bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, dia pun bercita – cita untuk membebaskan diri dari kekuasaan Pajang.

Olehkarenanya hubungan antara Mataram, dan Pajang pun mulai memburuk hingga berujung peperangan. Dalam peperangan ini kerajaan Pajang mengalami kekalahan dan Sultan Hadiwijaya meninggal.

Kemudian Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja pertama Kerajaan Kesultanan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati I Ngalaga, ia mulai membangun kerajaanya dan memindahkan pusat pemerintahan ke Kotagede.

Pada tahun 1.590 M kerajaan Mataram menaklukan Madiun, Jipang, Kediri,  kemudian melanjutkan dengan menaklukan Pasuruan dan Tuban.

Sebagai raja islam yang baru, beliau mempunyai tekad untuk menjadikan Mataram menjadi pusat budaya dan agam Islam, sebagai penerus kesultanan Demak.

Kerajaan Mataram Islam saat itu menganut system  Dewa – Raja. Yang berarti kekuasaan tertinggi mutlak berada pada Sultan.

Sultan Wijaya meninggal  dan dimakamkan di Kotagede, lalu digantikan putranya yang bernama Mas jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati.

Pada masa ini tidak banyak mengalami kemajuan, dikarenakan beliau tewas karena kecelakaan saat berburu di hutan krapyak yang kemudian digantikan putra keempatnya yang bergelar Adipati Martoputro, tetapi karena Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf,  maka tahta beralih ke putra sulung Mas jolang yang bernama  Raden Mas Rangsang, pada masa ini kerajaan mataram mengalami kemajuan dan mengalami masa keemasan.

Setelah menaklukan Madura beliau mengganti “panembahan” dengan “Sesuhunan” (sunan) kemudian  menggunakan gelar “Susuhunan Hanyakrakusuma” terakhir tahun 1.640 M, sehabis dari Makkah beliau menyandang gelar “Sultan Agung Senopati Ing Alaga Abdurrahman“ dan beliau memindahkan lokasi kraton ke “Karta“ akibat terjadi gesekan penguasaan perdagangan antara Mataram dan VOC yang berpusat di Batavia.

Setelah Sultan Agung meninggal, digantikan putra beliau “Sesuhunan Amangkurat 1, beliau memindahkan lokasi kraton ke Plered pada tahun 1.647 M tidak jauh dari “Karta”.

Selain itu beliau juga tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan Sunan (Sesuhunan atau yang dipertuan). Pada masa ini kerajaan Mataram kurang stabil, karena banyak ketidak puasan, dan pemberontakan, 

Terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh seorang bangsawan dari Madura bernama Trunajaya.

Trunajaya akhirnya berhasil mengalahkan Mataram, Amangkurat 1 melarikan diri, dan meninggal dalam pelarianya di Tegalarum (1.677 M), sehingga mendapat julukan Sunan Tegalarum.

Kemudian Amangkurat 1 diganti oleh putranya Amangkurat II, dan bergabung dengan VOC untuk mengalahkan pasukan Trunajaya dan akhirnya berhasil .

Dalam masa ini Amangkurat II sangat patuh kepada VOC, sehingga menimbulkan ketidak puasan dikalangan istana, dan akhirnya banyak pemberontakan terjadi lagi. Pada masa ini keraton Mataram dipindahkan ke Kartasura (1.680 M).

Setelah Amangkurat II meninggal, dan diganti oleh Amangkurat III, tetapi VOC tidak senang dengan Amangkurat III, karena dia menentang VOC

Jawaban dari ketidak senangan VOC, maka VOC mengangkat Pakubuwana I sebagai raja, akibatnya Mataram memiliki dua raja dan inilah yang menjadikan perpecahan Internal

Amangkurat III akhirnya memberontak, tetapi menemukan kekalahannya, kemudian ditangkap di Batavia, lalu diasingkan ke Ceylon, Srilanka, dan meninggal tahun 1.734 M.

Kekacauan politik dari masa ke masa akhirnya dapat terselesaikan pada masa Pakubuana III,  setelah wilayah Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta, dan Kasunanan Suarakarta pada tanggal 13 Februari 1755.

Perjanjian Giyanti
Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti, yang merupakan kesepakatan yang dibuat oleh pihak VOC, pihak Mataram (diwakili oleh Pakubuwana III), dan kelompok Pangeran Mangkubumi.

Nama Giyanti diambil dari lokasi penjanjian tersebut (ejaan Belanda, sekarang tempat itu berlokasi didukuh Kerten, Desa Jantiharjo) di tenggara kota Karanganyar, Jawa Tengah. 

Perjanjian ini menandai berakhirnya kerajaan Mataram yang sepenuhnya independen.

Berdasarkan perrjanjian ini wilayah Mataram terbagi menjadi dua;
  • Wilayah disebelah timur kali Opak dikuasai oleh pewaris tahta Mataram yaitu Sunan Pakubuwana III, dan tetap berkedudukan di Surakarta
  • Wilayah disebelah barat diserahkan kepada  Pangeran Mangkubumi, sekaligus diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta.
Perpecahan terjadi lagi dengan munculnya Mangkunegara (R.M Said) yang terlepas dari kesunanan Surakarta dan Pakualaman (P. Nata Kusuma), dan keempat pecahan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masing – masing, bahkan pecahan Mataram tersebut terutama Kesultanan Yogyakarta masih cukup besar, dan diakui masyarakat.

Peristiwa Penting
  • 1.558 M - Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang.
  • 1.577 M - Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede.
  • 1.584 M - Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram, yang sebelumnya sebagai putra angkat Sultan Pajang bergelar "Mas Ngabehi Loring Pasar" (karena rumahnya di sebelah utara pasar). Ia mendapat gelar "Senapati in Ngalaga" (karena masih dianggap sebagai Senapati Utama Pajang di bawah Sultan Pajang).
  •     1587 - Pasukan Kesultanan Pajang yang akan menyerbu Mataram porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi. Sutawijaya dan pasukannya selamat.
  • 1.588 M - Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar "Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama" artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.
  • 1.601 M - Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai "Panembahan Seda ing Krapyak" karena wafat saat berburu (jawa: krapyak).
  • 1.613 M - Mas Jolang wafat, kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar pertama yang digunakan adalah Panembahan Hanyakrakusuma atau "Prabu Pandita Hanyakrakusuma". Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Terakhir setelah 1640-an beliau menggunakan gelar bergelar "Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman"
  • 1.645 M - Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I.
  • 1.645 M - 1.677 M - Pertentangan dan perpecahan dalam keluarga kerajaan Mataram, yang dimanfaatkan oleh VOC.
  • 1.677 M - Trunajaya merangsek menuju Ibukota Pleret. Susuhunan Amangkurat I mangkat. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga.
  • 1.680 M - Susuhunan Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura.
  • 1.681 M - Pangeran Puger diturunkan dari tahta Plered.
  • 1.703 M - Susuhunan Amangkurat III wafat. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III.
  • 1.704 M - Dengan bantuan VOC Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta I (1704-1708). Susuhunan Amangkurat III membentuk pemerintahan pengasingan.
  • 1.708 M - Susuhunan Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Srilanka sampai wafatnya pada 1734.
  • 1.719 M - Susuhunan Paku Buwono I meninggal dan digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta Jawa Kedua (1719-1723).
  • 1.726 M - Susuhunan Amangkurat IV meninggal dan digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II.
  • 1.742 M - Ibukota Kartasura dikuasai pemberontak. Susuhunan Paku Buwana II berada dalam pengasingan.
  • 1.743 M - Dengan bantuan VOC Ibukota Kartasura berhasil direbut dari tangan pemberontak dengan keadaan luluh lantak. Sebuah perjanjian sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC selama belum dapat melunasi hutang biaya perang) bagi Mataram yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai imbalan atas bantuan VOC.
  • 1.745 M - Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota baru di desa Sala di tepian Bengawan Beton.
  • 1.746 M - Susuhunan Paku Buwana II secara resmi menempati ibukota baru yang dinamai Surakarta. Konflik Istana menyebabkan saudara Susuhunan, Pangeran Mangkubumi, meninggalkan istana. 
  • 1746 - 1757 Meletus Perang Tahta Jawa Ketiga yang berlangsung lebih dari 10 tahun, dan membuat Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar, dan satu kerajaan kecil.
  • 1.749 M - 11 Desember, Susuhunan Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram baru dapat ditundukkan sepenuhnya pada 1830. 
  • 1.749 M - 12 Desember, Di Yogyakarta, Pangeran Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya. 
  • 1.749 M - 15 Desember, van Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III.
  • 1.752 M - Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di provinsi-provinsi Pasisiran (daerah pantura Jawa) mulai dari Banten sampai Madura. Perpecahan Mangkubumi - RM Said.
  • 1.754 M - 23 September, Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. 
  • 1.754 M - 4 November, Nota Kesepahaman Mangkubumi - Hartingh.  Paku Buwono III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.
  • 1.755 M - 13 Februari, Puncak perpecahan terjadi, ditandai dengan Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah" atau lebih populer dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
  • 1.757 M - Perpecahan kembali melanda Mataram. Perjanjian Salatiga, perjanjian yang lebih lanjut membagi wilayah Kesultanan Mataram yang sudah terpecah, ditandatangani pada 17 Maret 1.757 M di Kota Salatiga antara Raden Mas Said (Mankunegaran I) dengan Sunan Paku Buwono III, VOC dan Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Kesunanan Surakarta dengan gelar "Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha".
  • 1.788 M - Susuhunan Paku Buwono III mangkat.
  • 1.792 M - Sultan Hamengku Buwono I mangkat.
  • 1.795 M - KGPAA Mangku Nagara I mangkat.
  • 1.799 M - VOC dibubarkan
  • 1.813 M - Perpecahan kembali melanda Mataram. Pangeran. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Kadipaten Paku Alaman yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam".
  • 1.830 M - Akhir perang Diponegoro. Seluruh daerah Manca nagara Yogyakarta dan Surakarta dirampas Belanda.
  • 1.830 M - 27 September, Perjanjian Klaten menentukan tapal yang tetap antara Surakarta dan Yogyakarta, serta membagi secara permanen Kerajaan Mataram ditandatangani oleh Sasradiningrat, Pepatih Dalem Surakarta, dan Danurejo, Pepatih Dalem Yogyakarta. Mataram secara de facto dan de yure dikuasai oleh Hindia Belanda.
(SSM)

Sumber : Dari Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen