Komunitas Sejarah Tanah Impian




Kosa Kata Jawa Kuno, Jawa Adalah Seluruh Etnis Nusantara

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Arti kosa kata Jawa (menurut pengertian Jawa Kuno) adalah seluruh Etnis Nusantara atau Benua Atlantis. Setelah adanya banjir besar, benua ini pecah menjadi 17.000 pulau (Dengan 750 Bahasa) yang kini disebut Indonesia, dengan penduduk dari etnis yang masih tersisa atau yang pada saat terjadi banjir besar dapat selamat untuk tetap hidup di bumi Nusantara ini.

Sementara, etnis-etnis lainnya menjadi cikal bakal bangsa2 lain di dunia, yakni antara lain: bangsa India, Cina, Jepang , Eropa, Israel, Arab, dlsb (Baca juga : Nabi Nuh yang dinyatakan dalam Al Quran ayat QS 11.44 dari Gunung Gede Jawa Barat)

Dalam bahasa Jawi Kuno, makna kata Jawa adalah “Berbudi Luhur”, maka tidak mengherankan kalau dalam percakapan sehari-hari, apabila seseorang dikatakan : “nggak nJawani” berarti orang tersebut “tidak punya Budi Pekerti yang Luhur ”.
Dari Mitologi Jawa Kuno, bahwa kalangan Guru Hindu  dan Guru Budha belajar “Kejawen” dari Guru Janabadra. “Agama Nusantara – Kejawen (Baca juga : Waspada Terhadap Labelling Pihak Asing), yang sebenarnya sudah eksis pada 10.841 Tahun Sebelum Masehi” (Baca juga : makna Agama Lokal).
Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindu dan Guru Budha pun, mereka menyatakan, bahwa mereka belajar “Kejawen” dari Guru Janabadra, lalu mereka mengembangkan “Kejawen” ini dengan nama sendiri, yakni dengan nama “Agama Hindu”, dan “Agama Budha”.
Sebenarnya  “Kejawen” adalah “Agama” etnis Nusantara”, yang mana nilai-nilai tersebut persis seperti apa yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS (2.000 Tahun Sebelum Masehi) yang disebut dalam Alqur’an (Tahun 651 Masehi) “Millatu Ibrahim”

Sumber : Dari Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Perjalanan Akhir Prabu Brawijaya V - Wafat 1.478 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Bagi para keturunan, semoga artikel ini mengingatkan keberadaan kita semua untuk tetap memiliki komitmen. Dan kini saatnya kita bangkit kembali untuk mengulangi kejayaan eyang-eyang kita.

Bacalah artikel di bawah ini, tidak hanya dengan pikiran, tetapi juga dengan hati, maka kita akan mengerti apa pesannya, dan apa yang harus kita lakukan sekarang ini, menghadapi para penghianat bangsa yang berkedok agama.

(Pindahnya Keraton Majapahit Ke Lawu)

Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya. 

Perbedaan pendapat antara anak kandung (R. Patah) dan Bapak (Brawijaya V) menjadikan sebuah kegelisahan tersendiri bagi Bapak. Ketika perbedaan itu diperuncing, sebuah tantangan bagi seorang Bapak untuk menyelesaikan dengan arif dan bijak. Bagaimana Prabu Brawijaya V, menyelesaikan konflik tersebut ?.

Mendengar penuturan utusan-utusannya bahwa R.Patah tidak mau menghadap (marak sowan) ke keraton Majapahit, Sang Prabu memerintahkan menyiapkan kapal untuk ke Demak. Semua bhayangkara, senopati, empu dan brahmana serta prameswari ikut dalam rombongan perjalanan. 

Dalam perjalanan kemanapun dampar atau singgasana yang berupa " watu gilang (batu)" selalu dibawa, karena merupakan simbol kedudukan sebagai seorang ratu. Puluhan kapal besar berangkat menyusuri sungai brantas menuju laut jawa dan kearah barat. 

Di haluan setiap kapal terpasang replika "Rajamala" dengan mata yang tajam. Masuk ke Demak dengan menyusuri sungai Demak, Sang Prabu mengutus utusan memanggil R.Patah. 

R.Patah tidak mau menemui bapaknya yang berada diatas kapal di tepi sungai. Sang Prabu segera memerintahkan meneruskan perjalanan, guna mencari tempat untuk persinggahan. 

Sampailah Rombongan di desa Dukuh Banyubiru Salatiga. Para pengikut raja membangun singgasana di atas sebuah bukit kecil, sekarang disebut candi Dukuh.

Di lokasi ini, seluruh senopati menyarankan untuk membawa paksa R.Patah menghadap Sang Prabu. Para brahmana dan empu menyarankan agar Sang Prabu bersikap arif dan bijak, karena R.Patah adalah anak kandungnya sendiri. 

Dialog yang panjang dilakukan guna mencari sebuah solusi yang tepat. Sang Prabu melakukan ritual spiritual bersama para brahmana, guna mencari akar persoalan (susuh angin). 

Maka didapat kesimpulan bahwa ada kesalahan Sang Prabu di hadapan Sang Pencipta. Berbulan-bulan lamanya Sang Prabu melakukan refleksi diri, seluruh putra-putri dan menantunya dipanggil untuk menghadap ke banyubiru keraton dikosongkan. 

Refleksi diri adalah wahana menanam pohon kejernihan pikir yang berbunga arif dan berbuah bijaksana. 
Mahkota adalah simbol manusia berbudaya (Ilustrasi)
Lahirlah sebuah keputusan, bahwa Sang Prabu tidak merasa pantas mengenakan mahkota dan kemegahan busana. 

Mahkota adalah simbol manusia berbudaya, kemegahan busana adalah simbol kemegahan raga sebagai seorang pemimpin. 

Hal tersebut disebabkan oleh sebuah pernyataan "jika sebagai bapak dan pemimpin harus berhadapan dan berperang dengan anak kandungnya sendiri. Maka seorang bapak bukanlah manusia yang berbudaya".

Sang Prabu memerintahkan seluruh pengikut setianya untuk berganti busana dengan lurik, dan mahkota nya dengan ikat kepala. 

Adipati terdekat adalah Pengging yang dijabat oleh menantu tertuanya, diperintahkan memintal benang "lawe" (bermakna laku gawe) menjadi bahan lurik. 

Sebagai ikat kepala berwarna biru tua dengan pinggirnya bermotif "modang" (bermakna ngemut kadang). 

Seluruh putra-putrinya diperintahkan berganti gelar dan nama. 

Maka bergantilah nama mereka menjadi seperti, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Getas, Ki Ageng Batoro Katong, Ki Ageng Bagus dll. 

Penggantian tersebut bertujuan melakukan perjalanan (laku gawe) mengoptimalkan pola pikir yang seimbang dan jernih, dengan sebutan "Ki" (singkatan dari kihembu)Sang Prabu berganti gelar dan nama menjadi Ki Ageng Kaca NegaraNama tersebut mengisyaratkan pada refleksi diri, negara diartikan sebagai diri pribadi. Keraton Majapahit telah berpindah ke Banyubiru. Buah maja yang pahit harus dimakan untuk memperbaiki sebuah tatanan kehidupan. Di tempat ini pulalah dialog antara Prabu Brawijaya V/Pamungkas dengan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang ada di dalam dirinya.

Selama tiga tahun Ki Ageng Pengging membangun papan untuk mertuanya, setelah selesai keraton berpindah dari Banyubiru ke Pengging. 

Pengging berkembang dengan pesat. Sang Prabu memerintahkan seluruh prajuritnya ke wilayah gunung kidul, hingga sekarang banyak anak-turun prajurit majapahit tinggal disana. 

Harta karun berupa bebatuan tak ternilai harganya ada disana. Di Pengging banyak peninggalan artefak-artefak dan candi-candi kecil majapahit. Tersebar di tengah pasar, ditengah rumah penduduk dan dalam gundukan tanah. 

Pengging kaya akan sumber air mineral tinggi. Pada masa sekarang banyak kegiatan tirtayoga dilakukan oleh masyarakat sekitar Surakarta dan berbagai kota di Jawa. Seolah menjadi sebuah misteri tersendiri yang belum terungkap kebenarannya. 

Selama enam tahun Ki Ageng Kaca Negara (Brawijaya V /Pamungkas) berada di Pengging, membangun tatanan kehidupan manusia, alam dan Sang Pencipta. Pengembangan industri lurik dimulai dari wilayah keraton Pengging, yang sangat luas wilayahnya hingga wilayah pedan klaten.

Para brahmana menyarankan kepada Ki Ageng Kaca Negara untuk menapak tilas jejak Sang Prabu Airlangga ke Lawu. 

Dalam pandangan raja-raja terdahulunya gunung lawu merupakan tempat yang memiliki energi positif. 

Para brahmana melihat bahwa gunung lawu telah menjadi tempat tinggal leluhur-leluhur yang telah suci/moksa. Maka Ki Ageng Kaca Negara melakukan perjalanan ke Gunung Lawu,  dan singgah pertama di candi Menggung desa Nglurah kecamatan Karangpandan kabupaten Karanganyar. Candi Menggung adalah peninggalan Sang Prabu Airlangga, sebagai sebuah artefak bahwa beliau pernah memohon petunjuk Sang Pencipta guna menyelesaikan persoalan negara. Di candi inilah artefak lingga-yoni yang pertama dibangun oleh Prabu Airlangga. Lingga-yoni adalah simbol keseimbangan manusia, alam dan Sang Pencipta. Selama Seratus hari rombongan Ki Ageng Kaca Negara tinggal disekitar candi menggung.

Ki Ageng Kaca Negara mencari tempat yang layak guna membangun dampar. 

Ditemukan sebuah tempat diatas, dan dibangunlah dampar di desa Blumbang Tawangmangu. 

Tempat ini diberi nama pertapan' Pandawa Lima', sekarang dikenal sebagai pertapan 'Pringgodani'. 

Perjalanan ini digambarkan pada relief yang terdapat di dalam candi Sukuh. 

Disinilah Ki Ageng Kaca Negara bertemu dengan penguasa lawu, hingga diberi tambahan gelar 'Panembahan', sehingga menjadi 'Ki Ageng Panembahan Kaca Negara". 

Dialog terjadi antara Penguasa Lawu (disebut Eyang Lawu) dengan Ki Ageng Panembahan Kaca Negara. 

Dialog ini menghasilkan kesepakatan "Dwi jalmo Ngesti Sawiji", Eyang Lawu mengijinkan membangun keraton majapahit di lawu menjadi keraton lawu. 

Ki Ageng Panembahan Kaca Negara menjadi 'Sunan Lawu', hingga Eyang Lawu menunjuk siapa yang akan menggantikannya. 

Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa keraton Majapahit tidak pernah punah, atau hilang, walau bangunannya hanya berupa candi-candi yang tersebar di mana-mana. 

Dapat disimpulkan pula bahwa Prabu Brawijaya V, tidak pernah menyerahkan dampar kepada anak-anaknya atau keturunannya sendiri. Nusantara terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, masing-masing membangun keraton sendiri-sendiri. 

Walau diawal Mataram ada upaya Panembahan Senopati mempersatukan Jawa-Madura, dan berhasil dalam dialog di Bang Wetan. 

Dialog kesepakatan tanpa pertumpahan darah antara Panembahan Senopati dengan Panembahan Sureswati (mewakili kerajaan-kerajaan kecil pesisir utara) dari Surabaya, dihadapan Sunan Bonang III. 

Eksistensi keraton Majapahit menjadi keraton Lawu, memegang kekuasaan jagat imateriil.

Sama halnya dengan keraton laut selatan, berupa imateriil yang tidak memiliki bangunan materiil. Keraton Lawu merupakan tatanan kehidupan imateriil 'gunung', sedangkan keraton laut selatan merupakan tatanan kehidupan imateriil 'segara'. Konsep segara-gunung adalah konsep kehidupan vertikal-horisontal, sama halnya konsep lingga-yoni, sama halnya konsep langit-bumi.

Keraton lawu yang masih dalam bentuk imateriil berada di candi Palanggatan, hanya dengan ketulusan dan kejernihan pikir manusia, maka dapat melihat bangunan imateriil keraton lawu.

Dari candi Palanggatan Ki Ageng Panembahan Kaca Negara, menulis pengetahuan Majapahit dalam bentuk arsitektur candi. 

Pembangunan candi-candi dipimpin oleh Brahmana tertinggi yang disebut sebagai 'Sang Balanggadawang' Jaya Kusuma, yang tidak lain adalah Ki Ageng Panembahan Kaca Negara sendiri. 

Gelar dan nama diberikan oleh Eyang Lawu. Dibangunlah candi Sukuh kemudian candi Cetho, sebagai pengetahuan basic tatanan kehidupan 'sangkan paraning dumadi'. 

Candi kethek, Candi baru yang ditemukan di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, mulai digali. 

Tim gabungan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah dan Jurusan Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) menemukan struktur bentuk candi yang kemudian diberi nama Candi Kethek. (http://www.arsip.net/id/link.php?lh=BFZUDVIHCwJR)
Candi kethek bukan sebuah candi melainkan sebuah dampar bagi Ki Ageng Panembahan Kaca Negara dengan jabatan Sang Balanggadawang dalam perjalanan ke puncak lawu.

Puluhan tahun membangun kedua candi di lereng lawu tersebut, berbagai pengetahuan disimpan dalam bentuk imateriil di kawasan lawu. 

Permohonan Brawijaya V, agar kelak eksis dalam wujud nyata (materiil) dipersiapakan dalam pengetahuan-pengetahuan itu. 

Perjalanan ke puncak lawu merupakan wujud perjalanan permohonan yang tulus agar anak-turun Majapahit menikmati kembali masa keemasan Majapahit. Majapahit telah menyatu dengan lawu menjadi Keraton Lawu

Keraton Majapahit tidak pernah punah, bahkan masih eksis hingga kini. Tatanan kehidupan masih jelas bisa dilihat, dan dibaca tanpa terdegradasi pada masyarakat tertentu disekitar Lawu, Gunung Kidul dan Pengging. 


Tatanan kehidupan antara manusia, alam dan Sang Pencipta menghasilkan masyarakat tradisional yang gemah ripah loh jinawi, walau tinggal di perbukitan yang dingin. 

Sebuah tantangan bagi masyarakat modern untuk melihat langsung dan membuktikannya. 

Cerminan sehat dalam arti jiwa, raga, pola pikir,  dan papan bisa dilihat secara materiil Ratu tidaklah harus berbusana megah, ratu hendaknya menunjukkan eksistensinya dengan kehidupan tradisional. 

Sebagai panutan, pengayom dan jembatan antara materiil dan imateriil, seorang Ratu berfikir untuk kepentingan manusia dan alam kepada Sang Pencipta, sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dibuktikan secara nyata, dan utuh. 

Ratu tidak akan pernah berfikir materi bagi dirinya sendiri, ratu mampu menciptakan kreatifitas yang searah dengan Alam dan Sang Pencipta. 

Ratu mengedepankan kepentingan manusia, Alam dan Sang Pencipta terjalin sebuah hubungan yang tidak bisa diputus. 

Ratu harus mampu melahirkan pola-pikir yang arif, bijak dan adil bagi Manusia, Alam Semesta dan mahluk lain penghuni Alam Semesta. Seorang ratu hendaknya memiliki sifatollah dan sirollah sebagai bagian hidupnya. 

Berdiri tegak dibawah kehendak Sang Pencipta.

Saya (Sapto Satrio Mulyo) kumpulkan dari berbagai sumber......


  1. http://budayaleluhur.blogspot.com/2009/11/perjalanan-akhir-prabu-brawijaya-v.html
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Brawijaya
  3. http://sasadaramk.blogspot.com/2011/08/perjalanan-akhir-prabu-brawijaya-v.html

Foto : Istimewa

Strategi Arab Saudi Mengakui Kapal Nabi Nuh 50 tahun lagi

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Beginilah cara bangsa asing untuk nantinya mengklaim sejarah pradaban dari negrinya.

Sebelum baca "Pangeran Saudi Beli Tiket Pesawat untuk 80 Burung Elang"
Baca dulu link ini

Pangeran Saudi Beli Tiket Pesawat untuk 80 Burung Elang?
Oleh Khairisa Ferida pada 31 Jan 2017, 20:20 WIB

Liputan6.com, Abu Dhabi - Dunia maya dibuat heboh dengan beredarnya foto puluhan burung elang menjadi penumpang sebuah pesawat komersial di Timur Tengah. Potret tersebut pertama kali muncul di forum online, Reddit.

"Teman saya yang merupakan seorang kapten mengirimkan foto ini. Pangeran Saudi membeli tiket pesawat untuk 80 ekor burung elangnya," ujar pengunduh foto tersebut seperti dikutip dari Sbs.com.au, Selasa, (31/1/2017).

Sumber: http://m.liputan6.com/global/read/2842742/pangeran-saudi-beli-tiket-pesawat-untuk-80-burung-elang

Foto : Istimewa

Atlantis di Dasar Laut Jawa

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Selama berbulan-bulan Kapten Hans Berekoven berkeliaran di perairan Laut Jawa pada pertengahan 1990-an. Dia menakhodai kapal survei seismik Angkatan Laut Australia, yang bekerja untuk dua perusahaan minyak internasional, Arco dan Conoco. Survei seismik adalah metode umum untuk meneliti struktur tanah di bawah permukaan laut, khususnya yang terkait dengan eksplorasi minyak, gas alam, dan mineral lain.

Quote:

"Wah, betapa dangkal Laut Jawa ini. Kedalamannya sekitar 60 meter di mana-mana. Menurut pengetahuan ilmiah saya, pastilah ada dataran kering selama Zaman Es di sini," kata Hans pada akhir Oktober lalu di Jakarta.

Laut Jawa adalah bagian dari Paparan Sunda yang terendam setelah Zaman Es berakhir. Paparan Sunda adalah bentangan dataran yang merupakan perpanjangan ke selatan dari dataran Asia Tenggara. Sebagian besar dataran itu kini ditutupi laut-laut dangkal, termasuk Laut Cina Selatan, Teluk Thailand, dan Laut Jawa, dengan kedalaman rata-rata kurang dari 100 meter.

Luas paparan diperkirakan mencapai 1,8 juta kilometer persegi. Pada Zaman Es, yang berlangsung ribuan tahun lalu hingga berakhir secara tiba-tiba pada 12 ribu tahun silam, seluruh paparan berada di permukaan laut. Ini terlihat dari sisa-sisa alur sungai yang telah dikenali. Satu jalur melintang ke utara menuju Laut Cina Selatan. Satu jalur ke timur menuju Dangkalan Sunda dan Terusan Flores.Keberadaan paparan ini pertama kali dilaporkan G.W. Earl pada 1845.

Hans sudah tahu soal paparan ini dan perkiraan beberapa ilmuwan bahwa di paparan inilah spekulasi Atlantis, kota legenda yang disebut-sebut filsuf Plato dalam Timaeus dan Critias, berada. Hans telah membandingkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan, termasuk analisis Arysio Santos dan Stephen Oppenheimer dalam Eden in the East, mengenai Zaman Es.



Menurut Hans, Zaman Es terjadi karena letusan megagunung berapi di Sumatera pada 70 ribu tahun lalu. Danau Toba adalah kawah yang tersisa dari letusan ini. Abu vulkaniknya terlempar ke atmosfer dan mengelilingi dunia, yang mencegah sinar matahari masuk dan mengakibatkan penurunan suhu secara global. Tudung es Kutub Utara melebar ke selatan hingga 50 derajat Lintang Utara. Sebagian besar Eropa ditutupi lapisan es tebal, yang di beberapa bagian mencapai ketebalan dua ribu meter.



"Ketika iklim dunia sangat dingin, kawasan Asia sangat hangat dan subur. Permukaan air laut berada 150 meter lebih rendah daripada sekarang. Hal ini mendorong manusia nomaden di Cina, India, dan kawasan Asia lain bermigrasi ke Paparan Sunda, sehingga paparan ini menjadi pusat konsentrasi peradaban," kata Hans.



Sumber Gambar : http://www.sayangi.com/media/k2/items/cache/387550f7343f4deb93ee23f25519aa16_XL.jpg

Lahan subur yang terbatas di Paparan Sunda ini memaksa suku-suku nomaden itu mengubah budaya mereka, dari bangsa pengembara menjadi bangsa penetap yang mengembangkan cara bercocok tanam dan memelihara binatang. "Jadi pertanian dan peternakan ditemukan di sini, di Indonesia, bukan di Mesopotamia," katanya. Selama ini peradaban terorganisasi dianggap pertama kali berkembang di Mesopotamia pada 5.500 tahun lalu.



Namun, setelah berlangsung lebih dari 60 ribu tahun, Zaman Es tiba-tiba berakhir. Es mencair secara besar-besaran yang dimulai pada 10 ribu tahun sebelum Masehi. Mengapa demikian? Para ilmuwan berbeda pendapat mengenai jawabannya. Adapun Hans memilih teori benturan asteroid. Dalam teori ini, sebuah asteroid raksasa diduga menghantam pesisir Amerika Utara di Samudra Atlantik pada 12 ribu tahun lalu. Letusan ini mengakibatkan pemanasan global yang mencairkan tudung es Kutub Utara, yang menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian Paparan Sunda.



Tenggelamnya sebagian kawasan subur ini menenggelamkan pula tanda-tanda peradaban awal di Asia. Seberapa jauh peradaban itu berkembang juga belum bisa diketahui. Namun, dari data seismik yang diperoleh saat menyelidiki Laut Jawa, Hans melihat adanya tanda-tanda awal peradaban itu. Masalahnya, kata dia, data itu berfokus pada 1.000 meter di bawah dasar laut. "Tapi, jika Anda memanipulasi data itu dengan perangkat lunak khusus, Anda dapat melihat 'tonjolan' 10 meter, meskipun kabur dan kualitasnya kurang baik," kata Hans.



Selain itu, kata dia, survei tersebut dilakukan bukan pada titik-titik terbaik, yakni menyusuri bekas sungai kuno di dasar Laut Jawa. "Karena data saya tak cukup memadai dan perusahaan minyak itu juga punya misi yang berbeda dan khawatir akan datanya, saya memutuskan meneliti sendiri," katanya.



Hans Berekoven lantas membelanjakan uang bonus tahunannya dan 2.000 wol halus Morinos miliknya untuk membeli kapal Southern Sun dan berlayar ke Laut Jawa. Dia dan istrinya, Rose, serta dua anaknya, Tristan, 15 tahun, serta Hannah, 8 tahun, berangkat ke Bali, tempat mereka membangun basis untuk pengisian bahan bakar, pasokan, dan sekolah bagi kedua anak mereka pada 2005.



Proyek Arkeologi Paparan Sunda, demikian nama proyek mereka, menggunakan kapal sepanjang 19 meter yang dilengkapi peralatan sonar dan kapal selam mini jarak jauh. Sonar itu dapat merekam kawasan seluas 200 meter persegi dan kedalaman sekitar 60 meter. Adapun kapal selam mininya membantu merekam dan mendekati obyek-obyek di dalam laut. "Saya menjalankannya seperti petani menggarap sawah, sepetak demi sepetak, untuk memetakan permukaan dasar laut," kata Hans.





Quote:

Dia lalu mendekati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan pemerintah Indonesia untuk membantu usahanya. Semula, menurut dia, Indonesia kurang tertarik pada tawarannya itu. "Belakangan pihak Indonesia setuju dengan syarat proyek ini harus menggunakan kapal penelitian mereka yang besar," katanya.





Naskah kerja sama antara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Spasial Nasional (Bakosurtanal) dan Southern Sun Sonar and Mapping itu ditandatangani pada 22 Maret 2006 oleh Sekretaris Utama Bakosurtanal Sukendra Martha dan Hans Berekoven. Masalahnya, kata Hans, menggunakan kapal besar kemudian biayanya tambah besar. "Saya tak punya cukup dana untuk itu," katanya. Akhirnya kerja sama itu batal.



Karena tak dapat mengantongi izin survei dari pemerintah Indonesia, Hans dan kapal kecilnya, Southern Sun, berbelok ke Malaysia dan membangun markas di Miri, Sarawak. Hans dan Rose kini menjelajahi perairan Malaysia dan Kalimantan. Tapi Hans masih yakin bahwa bukti peradaban kuno itu tersimpan di balik timbunan lumpur di dasar Laut Jawa.



Keyakinannya ini bertambah tebal ketika ia mendengar soal temuan kota kuno di bawah air di Teluk Cambay di pantai barat India pada 2002. Dia pun segera ke sana. National Institute of Ocean Technology, lembaga milik pemerintah India yang menangani penelitian kelautan, telah melakukan survei dengan sonar di Teluk Cambay sejak 1999. Badrinaryan, ketua tim penelitian ini, mencatat bahwa dia menemukan bentuk-bentuk tak biasa dari citra sonar. "Bentuk-bentuk lingkaran dan bujur sangkar dalam tatanan geometris itu tak mungkin ada di laut," tulis Badrinaryan di situs Graham Hancock, situs yang banyak memuat analisis tentang misteri peradaban kuno.



Artefak itu berada di kedalaman 40 meter dan 20 kilometer dari pantai. Yang mengejutkan adalah hasil pengujian karbon untuk penentuan usia artefak itu, yang dilakukan oleh beberapa lembaga di India; Oxford University, Inggris; dan Hannover, Jerman. Beberapa benda artefak itu bertitimangsa hingga 19 ribu tahun yang lalu, yang berarti berada di Zaman Es. Beberapa pecahan tembikar yang diteliti Oxford University diperkirakan telah berusia 16 ribu tahun. Hal ini membuatnya jadi tembikar tertua, yang menggeser posisi tembikar Jomon dari Gua Fukui di Kyushu, Jepang, yang berusia 12 ribu tahun.



Temuan itu juga mengungkap bahwa peradaban kuno di Teluk Cambay telah mampu membuat tembikar dan membakarnya pada 16 ribu tahun lalu. Mereka juga telah membangun kota di tepi sungai dan rumah-rumah dalam susunan yang teratur. Di kota kuno itu juga ditemukan biji-biji makanan yang sudah jadi fosil, yang menunjukkan bahwa mereka melakukan budi daya pertanian. Hans dua kali ke India dan memotret artefak-artefak itu. "Mesopotamia sebagai peradaban tertua jadi tak ada artinya sekarang," katanya.

"Kota di bawah laut Teluk Cambay itu merupakan bagian benua yang tenggelam pada Zaman Es. Setiap negara punya yang seperti ini dan Indonesia memiliki bagian yang terbesar," kata Hans. Ia masih berharap kapalnya, Southern Sun, dapat memindai Laut Jawa dan menemukan sebuah kota kuno di dasarnya.

Sumber ; http://segalaberita.com/index.php/features/knowing/671-ada-kota-purba-yang-tenggelam-di-dalam-laut-jawa

Foto : Istimewa

Garis Waktu Nusantara - Indonesia

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Agar lebih mudah melihat sejarah Nusantara, maka dengan Garis Waktu ini, diharapkan Anda dapat mengurutnya sendiri tahun-tahun Peradaban Nusantara
900 M:
900: Berdirinya Kerajaan Sumedang Larang
901: Berdirinya Kesultanan Luwu
923: Berdirinya Kerajaan Pajajaran    Bogor, Jawa Barat
932 M - 1579 M: Kerajaan Sunda (Sunda Wiwitan, Hindu, Budha)
960: Pura Tirta Empul, terletak di sebelah timur di bawah Istana Tampaksiring. Sebuah prasasti yang tersimpan di Desa manukkaya menerangkan Pura ini dibangun oleh Sang Ratu Sri Candra Bhayangsingha Warmadewa di daerah Manukkaya. Prasasti ini tertulis angka Tahun 960 M (882 Saka).

1000 M:
1009 M: Berdirinya Kerajaan Kahuripan    Jawa Timur
1042 M: Berdirinya Kerajaan Janggala    Sidoarjo, Jawa Timur
1042 M - 1221 M: Berdirinya Kerajaan Kadiri/Panjalu    Kediri, Jawa Timur
1076 M: Berdirinya Kerajaan Tidung    Tarakan, Kalimantan Timur

1100 M:
Kerajaan Singapura Awal dari Kerajaan Cirebon

1200 M:
Islam mulai muncul di Aceh
1222 M: Ken Arok menyerang Kerajaan Kediri, dan membunuh Kertajaya, lalu mendirikan Kerajaan Singhasari
1257 M: Baab Mashur Malamo mendirikan Kerajaan Ternate di Maluku
1275-1290 M: Kertanegara melakukan Ekspedisi "PaMalayu" melawan Kerajaan Melayu di Sumatra
1292 M: Jayakatwang membunuh Kertanegara, dan Kerajaan Singhasari berakhir
1293 M: Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya di Jawa Timur. Mongolia (Kublai Khan dari Dinasti Yuan) bermaksud menyerang Kertanegara yang notabene sudah digantikan oleh Jayakatwang;
Dengan taktik perang Raden Wijaya, akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Mongol

1300 M:
1309 M: Raja Jayanegara menggantikan Raden Wijaya sebagai penguasa Majapahit
1328 M: Tribhuwana Wijayatunggadewi menggantikan Jayanegara sebagai raja Majapahit
1350 M: Hayam Wuruk, menggantikan Tribhuwana Wijayatunggadewi. "Era Keemasan", Patih Gajah Mada menyatukan Nusantara
1365 M: Kakawin Jawa kuna Nagarakertagama ditulis
1377 M: Majapahit mengirimkan ekspedisi hukuman terhadap Palembang. Pangeran Palembang, Parameswara (kemudian dikenal Iskandar Syah) melarikan diri, dan menemukan jalan ke Malaka dan membangunnya sebagai pelabuhan internasional
1389 M: Wikramawardhana menggantikan Sri Rajasanagara sebagai penguasa Majapahit

1400 M:
1404-1406 M: Perang Paregreg antara Bhre Wirabhumi melawan Wikramawardhana
1415 M: Armada Laksamana Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, Cirebon
1429 M: Ratu Suhita menggantikan Wikramawardhana sebagai penguasa Majapahit
1447 M: Kertawijaya, bergelar Brawijaya I menggantikan Suhita sebagai penguasa Majapahit.
1451 M: Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II menggantikan Kertawijaya sebagai penguasa Majapahit
1453 M: Pemerintahan Rajasawardhana berakhir.
1456 M: Girindrawardhana (atau Purwawisesa) menjadi penguasa Majapahit.
1466 M: Singhawikramawardhana (atau Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa), menggantikan Purwawisesa sebagai penguasa Majapahit
1468 M: Bhre Kertabhumi (Prabu Brawijaya) atau dikenal dengan Brawijaya V menjadi penguasa Majapahit

1500 M:
1509 - 1595 M:  Portugis hanya menjajah Maluku, dan berhasil diusir tahun 1595.
1511 M: Portugis menaklukkan kota Melaka
1582 M: Berdirinya kerajaan Mataram yang dipimpin Panembahan Senopati
1596 M: Bangsa Belanda pertama kali tiba di wilayah Nusantara ketika sebuah armada yang dipimpin oleh Cornelius de Houtman berlabuh di Banten

1600 M:
1602 - 1942 M: Belanda menjajah seluruh Indonesia, dan berhasil diusir tahun 1942
1602 M: Armada Inggris sampai di Banten dan berhasil mendirikan Loji di sana.
1613 M: Inggris berdagang dengan Makassar (kerajaan Gowa)
1614 M: Inggris mendirikan loji di Batavia (jakarta).
1641 M: Pembantaian penduduk Kepulauan Banda oleh VOC dalam rangka mendapatkan monopoli pala
1667, 18 November M: Perjanjian Bungaya ditandatangani di Bungaya, Gowa antara pihak Kesultanan Gowa dengan pihak Hindia Belanda.

1700 M:
1740, 9 Oktober M: Pembantaian warga Tionghoa di Kaliangke di Batavia
1755, 13 Februari M: Perjanjian Giyanti dimana Kerajaan Mataram dibagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta
1799, 31 Desember M: Vereenigde Oost-Indische Compaigne (VOC) dibubarkan

1800 M:
1803 - 1838 M: Perang Padri
1806 - 1811 M: Perancis secara tidak langsung menguasai Jawa, karena kerajaan Belanda takluk pada kekuatan Perancis. Berakhir pada tahun 1811, saat Inggris mengalahkan kekuatan Belanda-Perancis di Pulau Jawa. Diberlakukan Perjanjian Tutang.
1811 - 1816 M: Inggris resmi menjajah Indonesia lewat perjanjian Tuntang, dimana perjanjian tersebut memuat tentang kekuasaan Belanda atas Indonesia diserahkan oleh Janssens (gubernur Jenderal Hindia Belanda) kepada Inggris.  Inggris menunjuk Thomas Stanford Raffles sebagai Letnan Gubernur jenderal di Indonesia.
1825-1830 M: Perang Diponegoro
1873, 26 Maret M: Dimulainya Perang Aceh
1894 M: Perang Lombok

1900 M:
1904 M: Inggris mengadakan perdagangan dengan Ambon dan Banda
1909 M: Inggris mendirikan pos di Sukadana Kalimantan

1942 M:
1942 - 1945 M: Jepang menjajah Indonesia 3,5 tahun, dan berakhir pada 1945, sejak kekalahan Jepang kepada sekutu.
11 Januari: Tentara Jepang tiba di daerah Kota Tarakan, Kalimantan Timur
5 Maret : Belanda menyerah kalah dari Jepan

1945 M:
1 Juni: Hari lahirnya Pancasila
16 Agustus: Peristiwa Rengasdengklok
17 Agustus: Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia
18 Agustus: Sidang pertama PPKI menghasilkan tiga keputusan; Pertama, mengesahkan UUD 1945. Kedua, mengangkat Soekarno sebagai Presiden RI dan Hatta sebagai wakilnya. Ketiga, membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk membantu kerja presiden

1947 M:
21 Juli-5 Agustus M: Belanda melancarkan agresi militer pertamanya

1948 M:
17 Januari: Perjanjian Renville
19 Desember - 1949, 5 Januari: Belanda melancarkan agresi militer keduanya

1949 M:
23 Agustus-2 November: Konferensi Meja Bundar dilangsungkan di Den Haag, Belanda antara Indonesia dan Belanda sebagai cara untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan

1950 M:
29 Januari: Jenderal Sudirman meninggal pada usia 34
25 April: Republik Maluku Selatan diproklamirkan di Ambon
27 September: Indonesia menjadi anggota ke-60 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa

1953 M:
Borneo digantinama menjadi Provinsi Kalimantan

1955 M:
18 April-24 April: Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika dilaksanakan di Bandung

1956 M:
Kalimantan dibagi menjadi Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat

1962 M:
24 Agustus-4 September M: Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV

1963-1965 M:
Konfrontasi dengan Malaysia

1964 M
27 Agustus: Soekarno membentuk Kabinet Dwikora

1965 M:
7 Januari: Indonesia keluar dari keanggotaan PBB
30 September: Gerakan 30 September
13 Desember: Devaluasi Rupiah untuk mengendalikan inflasi
Oktober 1965 M - Maret 1966 M: Penumpasan PKI, mengakibatkan lebih kurang 500.000 jiwa terbunuh

1966 M:
24 Februari: Soekarno membentuk Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan atau Kabinet Dwikora II
11 Maret: Penandatanganan Supersemar
28 Maret: Soekarno membentuk Kabinet Dwikora III
11 Agustus: Indonesia dan Malaysia sepakat memulihkan hubungan diplomatik
28 September: Indonesia kembali bergabung dalam PBB
   
1967M:
12 Maret: Soeharto diangkat menjadi Pejabat Presiden Indonesia, ironinya Sukarno menjadi tahanan rumah

1968M:
27 Maret: Soeharto resmi menjadi Presiden Indonesia
   
1969 M:
Papua bergabung dengan Indonesia, setelah dilakukan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera)

1970 M:
21 Juni: Soekarno meninggal dunia dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur

1971 M:   
3 Juli: Pemilihan Legislatif Indonesia yang kedua kali (pertama kali dibawah Orde Baru) dilaksanakan. Golkar menang.
   
1973 M:
Pemerintah menciutkan jumlah partai politik menjadi tiga. PDI (partai nasionalis dan Kristen). PPP (partai Islam). Sistem tiga partai didominasi oleh Golkar

1975 M:
April: Terjadinya perang sipil di Timor Leste
7 Desember: Indonesia melancarkan invasi ke Timor Leste
   
1976 M:
17 Juli: Timor Leste menyatu dengan Indonesia, menjadi Provinsi Timor Timur
Dimulainya Gerakan Aceh Merdeka

1980 M:
Mei: Petisi 50 yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto diterbitkan

1982-1983 M:
Terjadinya penembakan misterius (Petrus) yang menewaskan ribuan orang tersangka kriminal

1985 M:
Pemerintah mewajibkan semua organisasi untuk mengadopsi Pancasila sebagai asas tunggal

1988 M:
Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk kelima kalinya

1989 M:
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai aktif kembali setelah sempat diredam

1992-1993 M:
Pemimpin perlawanan Timor Timur Xanana Gusmao ditangkap oleh Prabowo Subianto dan diadili serta dihukum
   
1993 M:
Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk yang keenam kalinya

1996 M:
27 Juli: Peristiwa penyerangan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) (Peristiwa 27 Juli)
   
1998 M:
11 Maret: Soeharto terpilih kembali untuk yang keenam kalinya
12 Mei: empat mahasiswa terbunuh dalam demonstrasi terhadap rezim Soeharto di Universitas Trisakti
13 Mei-15 Mei: Kerusuhan besar terjadi di Jakarta dan beberapa daerah lainnya yang mengakibatkan ribuan orang tewas, sejumlah wanita tionghoa diperkosa, dan terjadinya penjarahan di pusat-pusat perbelanjaan
21 Mei: Soeharto mundur, dan Habibie mengambil alih jabatan Presiden

1999 M:
7 Juni 1999: Pemilu pertama dilaksanakan pada era Reformasi
September: Referendum di Provinsi Timor Timur di bawah naungan PBB dengan hasil empat per lima memilih berpisah dari Indonesia dibandingkan bersatu dengan Indonesia
20 Oktober: Gus Dur resmi diangkat menjadi Presiden RI

2001 M:
Februari: Kerusuhan etnis terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, antara Dayak dan Madura.
23 Juli: Megawati secara resmi menjadi Presiden Indonesia ke-5, menggantikan Gus Dur, yang diberhentikan MPR.
23 September: sebuah bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta.
   
2002 M:
20 Mei: Timor Timur resmi merdeka dengan nama Timor Leste.
12 Oktober: Bom Bali
Desember: Pemerintah dan GAM menandatangani kesepakatan damai di Jenewa, Swiss
  
2003 M:
19 Mei: Pembicaraan damai antara Pemerintah dan GAM gagal, militer Indonesia melancarkan operasi militer di Aceh
5 Agustus: Sebuah bom mobil meledak di depan Hotel Mariott di Jakarta

2004 M:
April: Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004
Juli: Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2004. Dimenangkan oleh pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
9 September: Bom Kedubes Australia.
30 November: Terjadi kecelakan pesawat terbang Lion Air Penerbangan 538 di Solo yang menewaskan 26 orang. Keamanan penerbangan-penerbangan murah di Indonesia mulai disorot
26 Desember: Tsunami menghantam Sumatera dan menewaskan lebih dari 160.000 jiwa.

2005 M:
28 Mei: Dua ledakan bom mengguncang Pasar Sentral Tentena, Tentena, Poso, Sulawesi Tengah, menewaskan sedikitnya 20 orang
17 Juli: Pemerintah Indonesia mengadakan kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka.
15 Agustus: Pemerintah Indonesia dan GAM kembali berunding. Perjanjian damai berhasil ditandatangani dan secara resmi mengakhiri gerakan separatis GAM
1 Oktober: Bom Bali II
29 Oktober: Tiga siswi SMU di Poso yang sedang berjalan ke sekolah Kristen dipenggal oleh sekelompok orang tak dikenal
9 November: Penyergapan Polri di sebuah vila di Kota Batu; menewaskan Dr. Azahari, buronan teroris dari Malaysia
31 Desember: Bom di Palu menewaskan enam orang

2006 M:
6 Januari: Terjadinya Insiden perbatasan Timor-Timur yang kedua kali
13-15 Februari: tujuh anggota Bali Nine divonis hukuman seumur hidup dan dua dijatuhi hukuman mati. Setelah melalui banding dan kasasi akhirnya tujuh dijatuhi hukuman mati dan dua seumur hidup
27 Mei: Gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya mengakibatkan sedikitnya enam ribu orang meninggal dunia.
Sejak 27 Mei: Bencana Banjir lumpur panas Lapindo melanda Sidoarjo

2009 M:
30 September: Gempa bumi 7,6 SR mengguncang Sumatera Barat menewaskan sedikitnya 1.117 orang
20 Oktober: Susilo Bambang Yudhoyono terpilih kembali sebagai Presiden RI periode 2009-2014. Didampingi oleh Prof. Dr. Boediono, M.Ec., sebagai wakil Presiden
22 Oktober: Pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu II

2010 M:
14 April: Kerusuhan Koja mengakibatkan sedikitnya tiga tewas dan ratusan luka-luka
1 Mei - 15 Juni: Sensus Penduduk Indonesia 2010, yang merupakan sensus penduduk Indonesia ke-6 setelah Indonesia merdeka
26 September - 29 September: Kerusuhan Tarakan, merupakan kerusuhan antar suku yaitu Suku Tidung sebagai suku asli dan suku pendatang yaitu Suku Bugis
25 Oktober: Gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR yang disertai Tsunami melanda Mentawai mengakibatkan 286 meninggal dan 252 hilang
26 Oktober: Gunung Merapi meletus mengakibatkan 28 tewas, termasuk juru kuncinya, yakni Mbah Maridjan

2011 M:
6 Februari: Penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyyah di Cikeusik menewaskan sedikitnya 3 orang.
18 Oktober: Perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II
11 November: Pembukaan SEA Games 2011

Sumber : Dari Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen


Jendela Nusantara

Epik La Galigo

Jakarta ( PerpustakaanTanahImpian ) - Sureq Galigo atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari pera...