Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Tokoh. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Akhir Prabu Brawijaya V - (1.413 M - 1.478 M)


Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Bagi para keturunan, semoga artikel ini mengingatkan keberadaan kita semua untuk tetap memiliki komitmen. Dan kini saatnya kita bangkit kembali untuk mengulangi kejayaan eyang-eyang kita.

Bacalah artikel di bawah ini, tidak hanya dengan pikiran, tetapi juga dengan hati, maka kita akan mengerti apa pesannya, dan apa yang harus kita lakukan sekarang ini, menghadapi para penghianat bangsa yang berkedok agama.

Raja Brawijaya V adalah Raja Majapahit XII yang merupakan keturunan dari Raja Rajasawardhana, yang bergelar Raja Brawijaya II.


Sejak raja Majapahit VIII (Raja Kertawijaya), gelar Brawijaya mulai digunakan. 

Penyandangan gelar tersebut dilakukan sebagai sebuah strategi politik, untuk memperkuat kedudukan Kertawijaya sebagai keturunan langsung dari Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. 

Dimana secara epistemologi asal kata "bra" berarti raja, dan "wijaya" yang berarti keturunan Raden Wijaya.

Sebelum membaca "Perjalanan akhir Brawijaya V", kiranya perlu Anda mencamkan, mengapa Tim Tanah Impian sangat memperhatikan perlunya kemurnian Sejarah Nusantara

Beginilah caranya mereka menghancurkan bangsa kita :
  • Pertama, mereka mengaburkan, menyesesatkan, dan mengacaukan Sejarah Nusantara
  • Kedua, mereka memutuskan pengetahuan mengenai Leluhur Kita
  • Ketiga, mereka mengarang  Sejarah Baru
Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Pindahnya Keraton Majapahit Ke Lawu
Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya. 

Perbedaan pendapat antara anak kandung (R. Patah) dan Bapak (Brawijaya V) menjadikan sebuah kegelisahan tersendiri bagi Bapak. Ketika perbedaan itu diperuncing, sebuah tantangan bagi seorang Bapak untuk menyelesaikan dengan arif dan bijak. Bagaimana Prabu Brawijaya V, menyelesaikan konflik tersebut ?.

Mendengar penuturan utusan-utusannya bahwa R. Patah tidak mau menghadap (marak sowan) ke keraton Majapahit, Sang Prabu memerintahkan menyiapkan kapal untuk ke Demak. Semua bhayangkara, senopati, empu dan brahmana serta prameswari ikut dalam rombongan perjalanan. 




Dalam perjalanan kemanapun dampar atau singgasana yang berupa "watu gilang (batu)" selalu dibawa, karena merupakan simbol kedudukan sebagai seorang ratu. Puluhan kapal besar berangkat menyusuri sungai brantas menuju laut jawa dan kearah barat. 
Rajamala - Tokoh Pewayangan
Di haluan setiap kapal terpasang replika "Rajamala" dengan mata yang tajam. 

Masuk ke Demak dengan menyusuri sungai Demak, Sang Prabu mengutus utusan memanggil R. Patah. 

R. Patah tidak mau menemui bapaknya yang berada diatas kapal di tepi sungai. Sang Prabu segera memerintahkan meneruskan perjalanan, guna mencari tempat untuk persinggahan. 

Sampailah Rombongan di desa Dukuh Banyubiru Salatiga. Para pengikut raja membangun singgasana di atas sebuah bukit kecil, sekarang disebut Candi Dukuh.

Di lokasi ini, seluruh senopati menyarankan untuk membawa paksa R. Patah menghadap Sang Prabu. Para brahmana dan empu menyarankan agar Sang Prabu bersikap arif dan bijak, karena R. Patah adalah anak kandungnya sendiri. 

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Dialog yang panjang dilakukan guna mencari sebuah solusi yang tepat. Sang Prabu melakukan ritual spiritual bersama para brahmana, guna mencari akar persoalan (susuh angin). 

Maka didapat kesimpulan bahwa ada kesalahan Sang Prabu di hadapan Sang Pencipta. Berbulan-bulan lamanya Sang Prabu melakukan refleksi diri, seluruh putra-putri dan menantunya dipanggil untuk menghadap ke banyubiru keraton dikosongkan. 

Refleksi diri adalah wahana menanam pohon kejernihan pikiran yang berbunga arif dan berbuah bijaksana. 
Mahkota adalah simbol manusia berbudaya (Ilustrasi)
Lahirlah sebuah keputusan, bahwa Sang Prabu tidak merasa pantas mengenakan mahkota dan kemegahan busana. 

Mahkota adalah simbol manusia berbudaya, kemegahan busana adalah simbol kemegahan raga sebagai seorang pemimpin. 

Hal tersebut disebabkan oleh sebuah pernyataan "jika sebagai bapak dan pemimpin harus berhadapan dan berperang dengan anak kandungnya sendiri. Maka seorang bapak bukanlah manusia yang berbudaya".

Sang Prabu memerintahkan seluruh pengikut setianya untuk berganti busana dengan lurik, dan mahkota nya dengan ikat kepala. 




Adipati terdekat adalah Pengging yang dijabat oleh menantu tertuanya, diperintahkan memintal benang "lawe" (bermakna laku gawe) menjadi bahan lurik. 

Sebagai ikat kepala berwarna biru tua dengan pinggirnya bermotif "modang" (bermakna ngemut kadang). 

Seluruh putra-putrinya diperintahkan berganti gelar dan nama. 

Maka bergantilah nama mereka menjadi seperti, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Getas, Ki Ageng Batoro Katong, Ki Ageng Bagus dll. 

Penggantian tersebut bertujuan melakukan perjalanan (laku gawe) mengoptimalkan pola pikir yang seimbang dan jernih, dengan sebutan "Ki" (singkatan dari kihembu). Sang Prabu berganti gelar dan nama menjadi Ki Ageng Kaca Negara. Nama tersebut mengisyaratkan pada refleksi diri, negara diartikan sebagai diri pribadi. Keraton Majapahit telah berpindah ke Banyubiru. Buah maja yang pahit harus dimakan untuk memperbaiki sebuah tatanan kehidupan. Di tempat ini pulalah dialog antara Prabu Brawijaya V/Pamungkas dengan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang ada di dalam dirinya.

Selama tiga tahun Ki Ageng Pengging membangun papan untuk mertuanya, setelah selesai keraton berpindah dari Banyubiru ke Pengging. 

Pengging berkembang dengan pesat. Sang Prabu memerintahkan seluruh prajuritnya ke wilayah gunung kidul, hingga sekarang banyak anak-turun prajurit majapahit tinggal disana. 

Harta karun berupa bebatuan tak ternilai harganya ada disana. Di Pengging banyak peninggalan artefak-artefak, dan candi-candi kecil majapahit. Tersebar di tengah pasar, ditengah rumah penduduk, dan dalam gundukan tanah. 

Pengging kaya akan sumber air mineral tinggi. Pada masa sekarang banyak kegiatan tirtayoga dilakukan oleh masyarakat sekitar Surakarta, dan berbagai kota di Jawa. Seolah menjadi sebuah misteri tersendiri yang belum terungkap kebenarannya. 

Selama enam tahun Ki Ageng Kaca Negara (Brawijaya V / Pamungkas) berada di Pengging, membangun tatanan kehidupan manusia, Alam dan Sang Pencipta. Pengembangan industri lurik dimulai dari wilayah keraton Pengging, yang sangat luas wilayahnya hingga wilayah pedan klaten.

Para brahmana menyarankan kepada Ki Ageng Kaca Negara untuk menapak tilas jejak Sang Prabu Airlangga ke Lawu. 

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Dalam pandangan Raja-raja terdahulunya, Gunung Lawu merupakan tempat yang memiliki energi positif. 

Para brahmana melihat bahwa Gunung Lawu telah menjadi tempat tinggal Leluhur-leluhur yang telah suci/moksa. Maka Ki Ageng Kaca Negara melakukan perjalanan ke Gunung Lawu,  dan singgah pertama di Candi Menggung desa Nglurah kecamatan Karangpandan kabupaten Karanganyar. Candi Menggung adalah peninggalan Sang Prabu Airlangga, sebagai sebuah artefak bahwa beliau pernah memohon petunjuk Sang Pencipta guna menyelesaikan persoalan negara. 

Di candi inilah artefak lingga-yoni yang pertama dibangun oleh Prabu Airlangga. Lingga-yoni adalah simbol keseimbangan manusia, alam dan Sang Pencipta. Selama Seratus hari rombongan Ki Ageng Kaca Negara tinggal disekitar Candi Menggung.

Ki Ageng Kaca Negara mencari tempat yang layak guna membangun dampar. 

Ditemukan sebuah tempat diatas, dan dibangunlah dampar di desa Blumbang Tawangmangu. 

Tempat ini diberi nama pertapan "Pandawa Lima", sekarang dikenal sebagai pertapan "Pringgodan". 

Perjalanan ini digambarkan pada relief yang terdapat di dalam candi Sukuh. 

Disinilah Ki Ageng Kaca Negara bertemu dengan penguasa lawu, hingga diberi tambahan gelar 'Panembahan', sehingga menjadi 'Ki Ageng Panembahan Kaca Negara". 

Dialog terjadi antara Penguasa Lawu (disebut Eyang Lawu) dengan Ki Ageng Panembahan Kaca Negara. 

Dialog ini menghasilkan kesepakatan "Dwi jalmo Ngesti Sawiji", Eyang Lawu mengijinkan membangun keraton majapahit di lawu menjadi keraton lawu. 

Ki Ageng Panembahan Kaca Negara menjadi 'Sunan Lawu', hingga Eyang Lawu menunjuk siapa yang akan menggantikannya. 

Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa keraton Majapahit tidak pernah punah, atau hilang, walau bangunannya hanya berupa candi-candi yang tersebar di mana-mana. 

Dapat disimpulkan pula bahwa Prabu Brawijaya V, tidak pernah menyerahkan dampar kepada anak-anaknya atau keturunannya sendiri. Nusantara terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, masing-masing membangun keraton sendiri-sendiri. 

Walau diawal Mataram ada upaya Panembahan Senopati mempersatukan Jawa-Madura, dan berhasil dalam dialog di Bang Wetan. 

Dialog kesepakatan tanpa pertumpahan darah antara Panembahan Senopati dengan Panembahan Sureswati (mewakili kerajaan-kerajaan kecil pesisir utara) dari Surabaya. 

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Eksistensi keraton Majapahit menjadi keraton Lawu, memegang kekuasaan jagat imateriil, atau  berupa imateriil yang tidak memiliki bangunan materiil. 
  • Keraton Lawu yang merupakan tatanan kehidupan imateriil 'gunung'
  • Sementara keraton laut selatan merupakan tatanan kehidupan imateriil 'segara'
Konsep segara-gunung adalah konsep kehidupan vertikal-horisontal, sama halnya konsep lingga-yoni, sama halnya konsep langit-bumi.

Keraton lawu yang masih dalam bentuk imateriil berada di Candi Palanggatan, hanya dengan ketulusan dan kejernihan pikir manusia, maka dapat melihat bangunan imateriil keraton lawu.

Dari Candi Palanggatan Ki Ageng Panembahan Kaca Negara, menulis pengetahuan Majapahit dalam bentuk arsitektur candi. 

Pembangunan candi-candi dipimpin oleh Brahmana tertinggi yang disebut sebagai 'Sang Balanggadawang' Jaya Kusuma, yang tidak lain adalah Ki Ageng Panembahan Kaca Negara sendiri. 

Gelar dan nama diberikan oleh Eyang Lawu. Dibangunlah Candi Sukuh kemudian Candi Cetho, sebagai pengetahuan dasar tatanan kehidupan 'sangkan paraning dumadi'. 

Candi Kethek, Candi baru yang ditemukan di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, mulai digali. 

Tim gabungan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah dan Jurusan Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) menemukan struktur bentuk candi yang kemudian diberi nama Candi Kethek. (http://www.arsip.net/id/link.php?lh=BFZUDVIHCwJR)

Candi Kethek bukan sebuah candi melainkan sebuah dampar bagi Ki Ageng Panembahan Kaca Negara dengan jabatan Sang Balanggadawang dalam perjalanan ke puncak lawu.

Puluhan tahun membangun kedua candi di lereng lawu tersebut, berbagai pengetahuan disimpan dalam bentuk imateriil di kawasan lawu. 

Permohonan Brawijaya V, agar kelak eksis dalam wujud nyata (materiil) dipersiapakan dalam pengetahuan-pengetahuan itu. 

Perjalanan ke puncak lawu merupakan wujud perjalanan permohonan yang tulus agar anak-turunan Majapahit menikmati kembali masa keemasan Majapahit. Majapahit telah menyatu dengan lawu menjadi Keraton Lawu

Keraton Majapahit tidak pernah punah, bahkan masih eksis hingga kini. Tatanan kehidupan masih jelas bisa dilihat, dan dibaca tanpa terdegradasi pada masyarakat tertentu disekitar Lawu, Gunung Kidul dan Pengging. 


Tatanan kehidupan antara Manusia, Alam dan Sang Pencipta menghasilkan masyarakat tradisional yang gemah ripah loh jinawi, walau tinggal di perbukitan yang dingin. 

Sebuah tantangan bagi masyarakat modern untuk melihat langsung dan membuktikannya. 

Cerminan sehat dalam arti jiwa, raga, pola pikir,  dan papan bisa dilihat secara materiil Ratu tidaklah harus berbusana megah, ratu hendaknya menunjukkan eksistensinya dengan kehidupan tradisional. 

Sebagai panutan, pengayom dan jembatan antara materiil dan imateriil, seorang Ratu berfikir untuk kepentingan Manusia dan Alam kepada Sang Pencipta, sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dibuktikan secara nyata, dan utuh. 

Ratu tidak akan pernah berfikir materi bagi dirinya sendiri, ratu mampu menciptakan kreatifitas yang searah dengan Alam dan Sang Pencipta. 

Ratu mengedepankan kepentingan manusia, Alam dan Sang Pencipta terjalin sebuah hubungan yang tidak bisa diputus. 

Ratu harus mampu melahirkan pola-pikir yang arif, bijak dan adil bagi Manusia, Alam Semesta dan mahluk lain penghuni Alam Semesta. Seorang ratu hendaknya memiliki sifatollah dan sirollah sebagai bagian hidupnya. 

Berdiri tegak dibawah kehendak Sang Pencipta.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Saya (Sapto Satrio Mulyo) kumpulkan dari berbagai sumber......


Gunanya ramalan (Sabdo Palon Naya Genggong) adalah agar kita dapat mencarikan solusinya, bukan untuk pasrah bongkokan. (Pesan dari anak cucu Mojopahit)
  1. http://budayaleluhur.blogspot.com/2009/11/perjalanan-akhir-prabu-brawijaya-v.html
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Brawijaya
  3. http://sasadaramk.blogspot.com/2011/08/perjalanan-akhir-prabu-brawijaya-v.html
Foto : Istimewa

Sultan Brunei Pertama Muhammad Shah - 1.371 M

Kesultanan Brunei
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Sultan Islam Brunei yang pertama setelah menikah dengan Puteri Johor. 

Sebelumnya terkenal dengan nama Awang Alak Betatar. Gelar baginda bernama Sang Aji. Mewarisi Naubat, Nakara, Ganta dan Alamat dari Minangkabau, Negeri Andalas. 

Pada tahun memerintah 1371, menghantar utusan ke Tiongkok, orang Tionghoa menyebut baginda Ma-ha-mo-sha. Puteri baginda, Puteri Ratna Dewi menikah dengan Ong Sum Ping. Wafat pada tahun 1402.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Awang_Alak_Betatar

Foto : Istimewa

Raja Malaysia Pertama Negeri Sembilan - Tahun 1.773 s/d 1.795 M

Ilustrasi Mahkota Kerajaan
Literasi Utama
Jakata (PerpustakaanTanahImpian) - Melewar dari Negeri Sembilan

Raja Melewar merupakan Yang Dipertuan Besar pertama Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya. Ia merupakan keturunan Yang Dipertuan Pagaruyung (Sumatera Barat), yang dikirim untuk menjadi raja di Negeri Sembilan.

Biografi
Nama lengkapnya adalah Yang Dipertuan Besar Sri Paduka Raja Tuanku Mahmud Syah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Jalil, Yang diPertuan Besar Negeri Sembilan. Raja Melewar memerintah dari tahun 1773 sampai 1795.

Para pemukim Minangkabau sudah berdiam di Negeri Sembilan sejak abad ke-15. Pada awalnya mereka berada di bawah perlindungan Malaka, dan kemudian Johor. Pada abad ke-18 Johor yang melemah tak mampu lagi melindungi Negeri Sembilan dari serangan orang-orang Bugis. Karena itu para pemuka Negeri Sembilan meminta dikirimkan raja dari Pagaruyung untuk memerintah mereka. Raja Pagaruyung saat itu, Sultan Abdul Jalil, mengabulkan permohonan itu dan mengutus Raja Melewar untuk menjadi raja di Negeri Sembilan.

Sebelum Raja Melewar bertolak ke Negeri Sembilan, raja Pagaruyung telah memerintahkan seorang kerabat diraja bernama Raja Khatib untuk pergi lebih awal membuat persiapan menyambut Raja Melewar di Negeri Sembilan. Namun sesampainya Raja Khatib di Seri Menanti, dia telah mengaku sebagai anak raja yang dihantar dari Pagaruyung. Penghulu Seri Menanti bernama Penghulu Naam lalu mengawinkan anak perempuannya dengan Raja Khatib.

Sementara itu angkatan Raja Melewar berangkat dari Pagaruyung menuju Tanah Melayu. Bagaimanapun sebelum ke Negeri Sembilan, Raja Melewar terlebih dahulu menghadap Sultan Johor yang kemudiannya menganugerahkan cap mohor dan diberikan kuasa untuk memerintah semua tanah jajahan di Negeri Sembilan.

Selepas pelantikan itu Raja Melewar dan angkatannya berangkat menuju ke Negeri Sembilan melalui Naning. Sampai di Naning, angkatan Raja Melewar telah berpapasan dengan angkatan perang Bugis pimpinan Daeng Kemboja. Pertempuran terjadi dan akhirnya angkatan Bugis dikalahkan dan Daeng Kemboja terpaksa melarikan diri.

Raja Melewar kemudiannya meneruskan perjalanan sehingga sampai di Rembau dan ditabalkan menjadi Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan di Kampung Penajis. Tempat bersemayam Raja Melewar ini sampai sekarang diberi nama Kampung Astana Raja.

Selepas pertabalan itu Raja Melewar memimpin satu angkatan perang untuk menyerang Raja Khatib di Seri Menanti. Penghulu Naam memberontak menentang Yang Dipertuan Besar Raja Melewar. Dalam peperangan itu Penghulu Naam kalah dan dia telah dihukum pancung. Dengan itu selesailah ketegangan dalam pemerintahan Negeri Sembilan ketika itu.

Raja Melewar digantikan oleh Tuanku Raja Hitam sebagai Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan (1795-1808).

Rujukan

    ^ de Josselin de Jong, P. E., (1951), Minangkabau and Negri Sembilan, Leiden, The Hague.

Literasi Utama

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Melewar_dari_Negeri_Sembilan


Foto : Istimewa

Presiden Singapura Pertama Yusof Ishak - 1.910 M

Yusof Ishak Presiden Singapura Orang Indonesia
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Encik Yusof bin Ishak (12 Ogos 1910 - 23 September 1970) adalah Presiden Singapura yang pertama. Beliau dilahirkan di Padang Gajah, Trong, lebih kurang 18 batu dari Taiping, Perak. Bapanya, seorang keturunan Minangkabau, berasal daripada Sumatra Barat dan ibunya dari Langkat. Mereka berhijrah ke Pulau Pinang dan setelah itu ke Perak, Malaysia.

Encik Yusof adalah anak sulung di dalam keluarga yang terdiri daripada 9 orang. Bapanya, Encik Ishak bin Ahmad, merupakan Pemangku Pengarah Perikanan Negeri-Negeri Selat dan Negeri-Negeri Melayu Bersekutu. Encik Yusof menerima pendidikan awal di sebuah sekolah Melayu di Kuala Kurau, Perak. Dua tahun kemudian, beliau dipindahkan ke Malay School di Taiping dan pada 1921, memulakan pengajian dalam aliran bahasa Inggeris di Sekolah King Edward VII, Taiping.

Pada 1923, bapanya telah ditempatkan ke Singapura. Encik Yusof mengikuti keluarganya dan melanjutkan pelajaran di Victoria Bridge School sehingga Disember 1923.

Pendidikan
Pada 1924 beliau dimasukkan ke sekolah Raffles Institution di mana beliau lulus Sijil Sekolah Cambridge (Cambridge School Certificate) pada 1927 dengan kepujian dan diberi peluang untuk melanjutkan pelajarannya di dalam kelas Queen's Scholarship.

Apabila di sekolah, beliau amat giat dalam arena sukan. Di Raffles Institution beliau aktif dalam sukan hoki, kriket, angkat berat dan tinju. Pada 1933 beliau menjadi juara tinju dalam kelas lightweight. Sebagai kadet cemerlang dalam Kor Kadet Sekolah beliau dinaikkan ke pangkat Lieutenant Kedua, pelajar pertama yang menerima jawatan tersebut di Singapura. Beliau juga merupakan ketua murid dan penyunting bersama majalah sekolah "Rafflesian".

Kerjaya kewartawanan
Setelah meninggalkan sekolah pada 1929, beliau bersama dua rakannya telah menerbitkan majalah bertajuk "Sportsman", sebuah majalah keluaran dua minggu yang memaparkan berita-berita sukan. Pada 1932, beliau menganggotai syarikat 'Warta Malaya', sebuah akhbar Melayu yang terkemuka pada masa itu. Kebolehan kewartawanannya membolehkan beliau naik ke jawatan Pembantu Pengurus dan Pemangku Penyunting dalam masa yang singkat. Pada 1938, beliau meletak jawatan dari 'Warta Malaya' dan bersama beberapa rakan yang lain, telah menubuhkan syarikat 'Utusan Melayu Press Ltd'. Edisi pertama Utusan Melayu dikeluarkan pada Mei 1939 dengan Encik Yusof sebagai pengarah pertama syarikat tersebut.

Sewaktu Pendudukan Jepun (1942-1945) Encik Yusof berada di Malaya. Apabila Jepun menyerah kalah, beliau kembali ke Singapura pada 3 September 1945 dan menyambung semula pencetakan Utusan Melayu.

Pada 1948 Encik Yusof melawat Britain sebagai anggota delagasi First Press Delegation. Pada awal tahun 1957, beliau telah ke Jepun untuk memeriksa alat jentera terkini yang ditempah oleh 'Utusan Melayu'. Pada Mei di tahun yang sama, beliau telah ke Kuala Lumpur untuk menyelia pembinaan Bangunan Utusan. Semasa di Kuala Lumpur, Encik Yusof dilantik sebagai Presiden Press Club of Malaya.

Perlantikan awam
Encik Yusof memegang beberapa jawatan penting dalam pemerintah Singapura. Dari 1948 ke 1950, beliau berkhidmat dalam Jawatankuasa Permohonan Filem (Film Appeal Committee). Beliau telah menjadi anggota Nature Reserves Committee selama setahun dan juga Malayan Organisation Commission. Pada Julai 1959, beliau dilantik sebagai Pengerusi Suruhanjaya Perkhidmatan Awam Singapura. Pada 3 Julai 1965, Encik Yusof dijadikan Canselor Universiti Nasional Singapura.

Encik Yusof dilantik sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura pada 3 Disember 1959, menjadikan beliau orang tempatan pertama memegang jawatan tersebut. Encik Yusof bersama isterinya Puan Noor Aishah telah melakukan lawatan rasmi yang pertama ke Kemboja pada April 1963. Pada bulan yang sama, beliau bersama isterinya telah ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji di mana mereka disambut sebagai tetamu negara kerajaan Arab Saudi. Sebuah lawatan rasmi juga telah dilakukan ke Ceylon (kini Sri Lanka) pada Mei 1963.

Encik Yusof dianugerahkan Darjah Kerabat Yang Amat Dihormati Kelas Pertama oleh Sultan Brunei pada November 1960 dan Darjah Kebesaran Seri Maharaja Mangku Negara (S.M.N.) oleh Yang di-Pertuan Agong Malaysia pada November, 1963.

Pada 9 Ogos 1965, apabila Singapura berpisah dari Malaysia dan menjadi negara yang berdaulat, Encik Yusof dilantik sebagai Presiden yang pertama Republik Singapura. Beliau dilantik sekali lagi untuk empat tahun dari 4 Disember 1967.

Presiden Yusof Ishak meninggal dunia pada 23 November 1970 di Singapura dan disemadikan di Perkuburan Negara Kranji.

Sumber: http://ms.wikipedia.org/wiki/Yusof_Ishak
10 Desember 2012

Sawerigading - 564 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Sawerigading adalah nama seorang putera raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung.

Jadi nama Sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Nama ini dikenal melalui cerita yang termuat dalam Sureq Galigo (Periksa Edisi H. Kern 1939), dimulai ketika para dewa dilangit bermufakat untuk mengisi dunia ini dengan mengirim Batara Guru anak patotoe di langit dan Nyilitomo anak guru ri Selleng di peretiwi (dunia bawah) untuk menjadi penguasa di bumi. Dari perkawinan keduanya lahirlah putra mereka yang bernama Batara Lattu’, yang kelak menggantikan ayahnya penguasa di Luwu.

Dari perkawinan Batara Guru dengan beberapa pengiringnya dari langit serta pengiring We Nyilitomo dari peretiwi lahirlah beberapa putra mereka yang kelak menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu sekaligus pembantu Batara Lattu’. 

Setelah Batara Lattu’ cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Sengeng, anak La Urumpassi bersama We Padauleng ditompottikka. Sesudah itu Batara Guru bersama isteri kembali kelangit. Dari perkawinan keduanya lahirlah Sawerigading dan We Tenriabeng sebagai anak kembar emas yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Mengenai masa hidup Sawerigading terdapat berbagai versi di kalangan ahli sejarah. Menurut versi Towani-Tolotang di Sidenreng, Sawerigading lahir pada tahun 564 M. Jika versi ini dihadapkan dengan beberapa versi lain, maka data ini tidak terlalu jauh perbedaanya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikemukakan tiga versi mengenai masa hidup Sawerigading, yaitu :
  • Versi Sulawesi Tenggara, abad V;
  • Versi Gorontalo, 900 dikurangi 50 = 850;
  • Versi Kelantan - Terengganu, tahun 710.
Perjalanan ke negeri Cina
Berdasarkan pesan Batara Guru, kedua anak kembar itu harus dibesarkan terpisah agar kelak bila mereka menjadi dewasa tidak akan saling jatuh cinta. Namun demikian suratan menentukan yang lain, sebab dirantau Sawerigading mendapat keterangan bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar wanita yang sangat cantik, We Tenriabeng namanya. Sejak itu hatinya resah hinggah pada suatu waktu ia berhasil melihatnya dan langsung jatuh cinta serta ingin mengawininya. Maksud itu mendapat tentangan kedua orang tuanya bersama rakyat banyak, karena kawin bersaudara merupakan pantangan yang jika dilanggar akan terjadi bencana terhadap negeri, rakyat dan tumbuh-tumbuhan serta seluruh negeri kebingungan. Melalui suatu dialog yang panjang, berhasil juga We Tenriabeng membujuk saudaranya untuk berangkat ke negeri Cina memenuhi jodohnya di sana, I We Cudai namanya. Wajah dan perawakannya sama benar dengan We Tenriabeng. Pada waktu Sawerigading berangkat ke Cina, We Tenriabeng sendiri naik kelangit dan kawin dengan tunangannya di sana bernama Remmang ri Langi. Dengan mengatasi hambatan demi hambatan, akhirnya berhasil juga Sawerigading mengawini I We Cudai yang tunangannya, Settiaponga sudah lebih dahulu dikalahkan, dalam suatu pertempuran di tangah laut dalam perjalanan menuju ke Cina. Mereka hidup rukun damai dan memperoleh tiga orang anak yaitu : I La Galigo , I Tenridia dan Tenribalobo. Dari seorang selirnya I We Cimpau, Sawerigading memperoleh seorang anak bernama We Tenriwaru.

Dalam pada itu La Galigo pun menjadi dewasa, merantau, menyabung, kawin, berperang dan memperoleh anak. Pada suatu ketika I We Cudai ingin berkunjung ke negeri suaminya, menjumpai mertua yang belum pernah dilihatnya. Sawerigading bimbang mengingat akan sumpahnya dahulu, ketika hendak bertolak ke Cina, bahwa seumur hidupnya tidak akan lagi menginjakkan kaki lagi ditanah Luwu, tetapi sayang akan isteri, anak dan cucu dibiarkan berlayar sendiri tanpa ditemani, akhirnya iapun ikut serta. Setiba di Luwu, Patotoe menetapkan akan menghimpun segenap keluarganya di Luwu. Dalam pertemuan keluarga besar itulah ditetapkan bahwa keturunan dewa- dewa yang ada di bumi harus segera kembali kelangit atau peretiwi dengan masing-masing seorang wakil.

Tidak lama setelah para kaum keluarga pulang ke negerinya masing-masing Sawerigading bersama anak, isteri dan cucunya pulang ke Cina. Di tengah jalan tiba-tiba perahunya meluncur turun ke peretiwi. Di sana ternyata disambut gembira penguasa untuk menggantikan neneknya sebagai raja peretiwi. Di peretiwi ia masih memperoleh seorang anak yang kemudian kawin dengan anak We Tenriabeng di langit, yang selanjutnya dikirim ke Luwu untuk menjadi raja di sana. Akhirnya tibalah saatnya pintu langit ditutup sehingga penguasa yang ada di peretiwi tidak lagi leluasa pulang pergi, dengan ketentuan sewaktu-waktu kelak akan dikirim utusan untuk memperbarui darah mereka sebagai penguasa.

Pandangan tentang cerita Sawerigading
Dipandang dari berbagai sudut, beberapa ahli telah mengemukakan pendapatnya tentang cerita Sawerigading. Fachruddin Ambo Enre, dalam disertasinya berjudul Rintumpanna Welenrennge (1993), mengemukakan tiga jenis pandangan tentang naskah Sureq Galigo yaitu sebagai naskah mitos dan legenda, sebagai naskah sejarah dan sebagai karya sastra.

Mitos dan legenda
Pendapat yang menyatakan sebagai mitos dan legenda cukup beralasan sebab dalam cerita tersebut terdapat ciri-ciri cerita yang berkaitan dengan mitos penciptaan oleh dewa di langit dengan mengirim anaknya Batara Guru dan We Nyilitomo ke bumi. Batara Gurulah yang menciptakan gunung, sungai, hutan dan danau. Menyusuli kehadirannya di sana muncullah tanaman seperti : ubi, ke;adi, pisang, tebu dan lainnya. Kekuatan supernatural yang dimiliki para tokohnya, seperti naik ke langi, turun ke peretiwi, atau menyeberang ke maja (dunia roh), kemampuannya meredakan angin ribut dan halilintar, kesanggupannya menghidupkan kembali orang mati dalam perang, gambaran tentang berbagai macam upacara, ritus dan aspek budaya lainnya merupakan ciri-ciri cerita mitos yang umum.

Pandangan yang menyatakan bahwa cerita Sawerigading sebagai legenda didasarkan pada benda-benda alam yang dihubungkan dengan tokoh Sawerigading, seperti Bulupoloe di dekat malili, dikatakan sebagai bekas tertimpa pohon Welenreng yang rebah karena ditebang untuk dijadikan perahu oleh Sawerigading. Contoh lain, misalnya Batu cadas di daerah Cerekang banyak diambil untuk dijadikan batu asah, disebut sebagai kulit bekas tebasan pohon Welenreng itu. Digunung Kandora, daerah mangkedek, tana Toraja terdapat batu yang dianggap penjelmaan We Pinrakasi, isteri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput oleh Sawerigading di dunia roh. Setiba kembali di bumi ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Jamallomo. Anak tersebut kemudian menjelma menjadi batu. Gunung batu di daerah Bambapuang Enrekang, yang dari jauh nampak sebagai anjungan perahu, dianggap perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu. Gong Nekara yang terdapat di Selayar dianggap gongnya Sawerigading, yang selalu dibawa berlayar dan dibunyikan setiap memasuki pelabuhan. Demikian pula kepingin perahu yang terdapat di Bontote’ne dianggap perahu Sawerigading.

Naskah sejarah
Pandangan yang menyatakan bahwa cerita Sawerigading mempunyai nilai sejarah yaitu adanya kronik di Bone, Soppeng yang menyatakan bahwa raja pertama mereka adalah Tomanurung yang bersumber dari keturunan Sawerigading. Demikian pula kaum bangsawan di Sulawesi Selatan, termasuk Luwu, menganggap bahwa La Galigo dan Sawerigading adalah nenek-moyang mereka. Dalam silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan Lontara Pangoriseng, di puncak silsilah itu terdapat tokoh-tokoh La Galigo, Sawerigading, Batara Lattu’ dan Batara Guru. Menurut Mills, yang menciptakan silsilah itu raja-raja itu sendiri untuk memperoleh legitimasi magis-religius yang menurut dugaan meniru model-model kronik Jawa. Sebenarnya mereka tidak menyebut tokoh Sawerigading sebagai tokoh sejarah, tetapi mereka mengklaim bahwa tokoh-tokoh itu benar-benar ada, walaupun sebagian besar ceritanya adalah fiksi.

Karya sastra
Cerita Sawerigading dianggap sebagai karya sastra oleh beberapa tokoh antara lain Raffles, Matthes, R.A. Kern, A. Zainal Abidin Farid, cerita Sawerigading adalah sastra kuno yang dianggap suci oleh Bugis tetapi bukan sejarah. Demikian pula Fachruddin menganggap Sureq Galigo adalah sastra suci.

Nilai-nilai budaya dalam cerita Sawerigading
Dalam cerita Sawerigading dapat diungkap beberapa nilai budaya antara lain nilai religius, sistem kepercayaan pra-Islam yang menggambarkan dunia gaib dan konsep kejadian manusia. Dalam cerita ini digambarkan bahwa dunia gaib adalah dunia dewa-dewa di langit, di bumi (mulatau) yang keturunan dewa-dewa. Seiring dengan perkembangan Islam dan agama lain di Luwu, maka nilai religius dari cerita ini lambat laun akan mengalami kepunahan, karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Beberapa kepentingan cerita itu dalam kajian ilmu-ilmu sosial dapat diuraikan sebagai berikut :

Nilai sejarah dalam cerita Sawerigading dapat dilihat faktanya dengan adanya silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan yang menghubungkan keturunan mereka dari Sawerigading. Namun demikian fakta sejarah ini perlu mengalami telaah kritis dengan memilah-milah antara fakta sejarah dengan cerita mitos yang telah diselipkan dalam penyusunan silsilah tersebut.


Nilai mitos dan legenda sangat dominan dalam mewarnai cerita Sawerigading. Terbukti dengan alur cerita, tokoh cerita tempat dan peristiwa cerita, sesuai dengan ciri-ciri yang dikategorikan cerita mitos dan legenda.

Walaupun cerita ini kurang bernilai sejarah dan lebih dominan bernilai mitos dan legenda, tetapi cerita ini dapat membantu dalam pengungkapan bukti-bukti yang bernilai arkeologis dalam merekonstruksi sejarah kebudayaan Sulawesi Selatan.

Semboyan daerah Luwu sebagai bumi Sawerigading, artinya masyarakat Luwu mengidentifikasikan jati diri mereka dengan seorang tokoh mitologis agar dapat mempunyai implikasi positif. Mungkin dapat di bandingkan dengan menyebut Irak sebagai bumi Abunawas.

Saat ini banyak yang menggunakan nama Sawerigading sebagai nama suatu bangunan atau sebagai nama suatu yayasan. Misalnya Universitas Sawerigading di Makassar, Rumah Sakit Umum Daerah Sawerigading di Kota Palopo, Yayasan Sawerigading di Kota Jakarta dan masih banyak lagi.

Pranala luar    (Indonesia) ceritarakyatnusantara.com
    (Indonesia) http://www.luwuutara.go.id/media/sawerigading.pdf
    (Inggris) The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and its diffusion oleh Andi Zainal Abidin

Referensi
^ "ceritarakyatnusantara.com". Sawerigading berasal dari dua kata... 4 April 2009. Diakses pada 2 Februari 2012.
^ Setia Negara (9 desember 2011). "lontaraproject.com". Sawerigading dikisahkan memiliki saudara kembar... Diakses pada 4 Februari 2012.
^ "Sejarah Sawerigading". Sawerigading sezaman dengan Nabi Muhammad.. Diakses pada 2 Februari 2012.
^ "Gong Nekara aset wisata Selayar". Nekara di Selayar dibawa dari Cina oleh Sawerigading... 5 April 2010. Diakses pada 3 Februari 2012.


Beberapa Versi Tolotang
Menurut versi Towani-Tolotang di Sidenreng, Sawerigading lahir pada tahun 564 M. 

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sawerigading

Foto : Istimewa

Cerita Plato tentang Atlantis - 370 SM

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Benua Atlantis pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, yang mengatakan bahwa ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju, tetapi hancur oleh bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.

Atlantis bermakna : Tanahnya Atlas – Negeri 2 Pilar/Tiang yang dapat diartikan sebagai negeri diantara dua Gunung Besar.

Atlantis adalah negeri yang sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan bentuk Kota berbentuk Lingkaran/Cincin, tersusun dari daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang sangat tepat dan efisien, sehingga tertata dengan rapi, dengan sebuah Istana Megah yang berdiri tepat di pusat kota, sebagai pusat pemerintahan.

Penduduk Atlantis terdiri dari dua bangsa, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru, dan berambut pirang, yang merupakan nenek moyang suku Bangsa Arya, sedang satunya lagi berkulit Coklat/Hitam, Relatif Pendek, Bermata Coklat, dan Berambut Hitam.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005).

Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Merujuk pada penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian Selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya.

Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) .

Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur.

Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (Watch Tower - Suar), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol).

Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya.

Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis.
Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera, sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun, dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Sumber : http://karaengsubuh999.blogspot.com/2012/07/indonesia-adalah-jejak-para-nabi.html

Sjekh Siti Jenar - 1.426 M - 1517 M

Ilustrasi Sjekh Siti Jenar (Foto : Istw) 
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Sjekh Siti Jenar nama aslinya Raden Abdul Jalil (dikenal juga dalam banyak nama lain, antara lain; Sitibrit, Lemahbang, atau Lemah Abang) adalah seorang tokoh Agama Lokal di Pulau Jawa.

Lahir: 1426, Astanajapura, Cirebon, Indonesia
Meninggal: 1517, Demak, Indonesia
Kebangsaan: Indonesia

Berbicara mengenai Raden Abdul Jalil, pertama-tama yang harus kita luruskan adalah fahamnya yang menganut "Manunggaling Kawula Gusti" yang jelas-jelas hal ini adalah filosofi Jawa Kuno, bukan filosofi Arab maupun lainnya.

Ajarannyanya filosofi yang begitu tinggi dari Raden Abdul Jalil ini membuat semua Wali (Wali Songo - yang notabene semuanya orang-orang Arab tidak terkecuali) marah. Hal ini dikarenakan menurut Wali-wali yang ada, akan menghambat siar agama Islam di Nusantara.
Bagi orang Jawa yang kala itu, masih sangat sengkretis, terasa berada di persimpangan jalan. Sebagian yang masih cinta dengan prilaku Leluhurnya, menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang mengingatkan kembali ajaran dengan nilai-nilai Leluhur Nusantara, saat adanya degenerasi dari masuknya nilai-nilai asing di Nusantara.
Ajaran-ajaran Raden Abdul Jalil tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut Pupuh. Hasil dari penggaliannya terhadap nilai-nilai Leluhur Nusantara, maka mengantarkan Raden Abdul Jalil membuat sebuah karya yang sangat baik, yakni "Budi Pekerti".

Melihat karya Budi Pekerti di atas, olehkarenanya orang-orang yang dari dulu ingin merusak nilai-nilai Luhur Bangsa ini, menyangkut pautkannya dengan ajaran sesat. Padahal kalau kita lihat sejarah digantinya Budi Pekerti pada tahun 1979, menjadi ajaran Agama, justru tahun itulah sebagai tiang sejarah dimulainya Tawuran Pelajar. Jadi sebenarnya kita harus melek, bahwa nilai-nilai Leluhur Nusantara ini lebih baik dari nilai apapun yang datang dari luar.

Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup Jawa Kuno, yang kalau dari kacamata peneliti asing disebut dengan sufi.
Adapun gelar Syekh didepan namanya, adalah sebuah politik labeling dalam arti untuk menurunkan drajatnya atau tingkat kastanya, sehingga dirinya akan dapat diperintah atau menurut dengan para Syekh yang lebih tua atau memiliki drajat yang lebih tinggi.

Konsep Manunggaling Kawulo Ghusti itu sudah ada jauh Sebelum Masehi, sementara agama Islam baru lahir abad 7 (Nabi Muhammad SAW lahir tahun 571 M). Jadi jelas Konsep Manunggaling Kawulo Ghusti itu, kalau pun tidak dihidupkan kembali oleh Siti Jenar, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya.

Kalau begitu, pertanyaannya? Jika Siti Jenar orang Arab, maka berarti beliaulah yang justru terpengaruh oleh ajaran Agama Lokal yang Luhur.

Juga perlu diingat bahwa Ghusti dalam bahasa Jawa Kuno mempunyai esensi makna Tuhan YME yang sesungguhnya, sehingga orang-orang Nusantara yang mengerti betul mengenai esensi makna Tuhan YME, tidak akan pernah menghapus kosa kata Ghusti, Itulah sebabnya, datangnya agama Islam ke Indonesia tidak juga dapat dengan serta merta menggantikan kosa kata Ghusti. Seperti prilaku orang Nusantara yang sengkretis, maka pemakasaan untuk menggantikan kosa kata Ghusti, ditolak dengan halus, dengan menyisipkannya di belakang kata Ghusti, menjadi Ghusti Allah.

Pertanyaannya "Tuhan YME" ada di kosa kata yang mana - dalam Ghusti Allah? Mungkin hal ini dapat dijelaskan hukum bahasa kita, Mobil Merah, berarti Mobilnya berwarna merah. Jadi untuk orang-orang Jawa yang tetap ingin menyembah dengan cara Leluhurnya, tetap cukup memakai kata Ghusti saja. Sementara untuk orang Jawa yang ingin sembahyang cara Islam, mereka tetap menambahkan kata Allah dibelakang kata Ghusti, menjadi Ghusti Allah.

Foto : Istimewa

Catatan :


  1. Saat ini banyak sekali pemelintiran sejarah, yang setelah kita telaah bersama seperti di atas, tidak mungkin kalau Raden Abdul Jalil adalah orang Timur Tengah, Persia, Arab atau apapun.
  2. Penulis belum mendapatkan ilustrasi wajah Syekh Siti Jenar yang cocok dengan paras aslinya.


Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen