Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

Tampilkan postingan dengan label 1.900 M. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1.900 M. Tampilkan semua postingan

Sejarah Boedi Oetomo 1.908 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Budi Utomo (Boedi Oetomo) adalah organisasi pemuda yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908, oleh Dr.Soetomo, bersama 9 mahasiswa STOVIA (Sekolah Dokter Jawa), antara lain : Goenawan Mangoenkoesoemo,Soeraji, Soewarno.

Berdirinya Budi Utomo menjadi awal dari gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya, bahwa hari depan bangsa, dan Tanah Air ada di tangan mereka.

Inilah alasan lahirnya Boedi Oetomo, tetapi para pemuda juga sadar, bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi.

Untuk itu, menurut mereka perlunya "kaum tua" yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.

Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin, yang mayoritas dipegang oleh para pemimpin yang berasal dari kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, antara lain: Raden Adipati Tirtokoesoemo, mantan Bupati Karanganyar, dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

Selang setahun berdirinya, organisasi ini mengalami kemunduran.

Kepemimpian Boedi Oetomo dalam kurun 10 Tahun
Hal ini dikarenakan Raden Adipati Tirtokoesoemo mantan Bupati Karanganyar, lebih terlihat sebagai seorang yang tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda. Ia bukan orang yang berkomitmen untuk sebuah gagasan kemerdekaan..

Kemudian Tirtokoesomo digantikan oleh Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman. Organisasi ini semakin terlihat sebagai perkumpulan kaum ningrat, daripada organisasi pembebasan yang progresif.

Perpecahan tidak dapat dielakan, dimana sebagian anggota muda menyatakan keluar dari organisasi. Tjipto Mangoenkosoemo adalah salah satu yang memprotes keras arah kebijakan organisasi yang semakin konservatif.

Multatuli dalam roman Max Havelaar, menyatakan sebuah teori yang menyakinkan "Untuk menguasai orang Jawa, cukuph dengan menguasai para pemimpinnya", dan rakyat jajahan lebih mudah untuk dikuasai melalui para pemimpinnya.

Sumber :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo
Foto : Istimewa

Sejarah Sarekat Islam 1.911 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Syarikat Islam (Sarekat Islam - SI). Dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (yang disingkat SDI), dan  didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi.

SDI pada awalnya Organisasi yang dibentuk oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan, sebagai perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai ekonomi rakyat pada masa itu.

  • Tahun 1906, Pada kongres pertama SDI di Solo, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam. 
  • Tahun 1912, tanggal 10 September, karena kondisi politik dan sosial pada masa tersebut, HOS Tjokroaminoto menghadap notaris B. ter Kuile di Solo untuk membuat Sarikat Islam sebagai Badan Hukum, dengan Anggaran Dasar SI yang baru, yang diakui dan disahkan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 14 September 1912.

Dengan perubahan menjadi SI, Hos Tjokroaminoto mengubah yuridiksi SDI lebih luas, yang sebelumnya hanya mencakup masalah  ekonomi dan sosial, menjadi lebih mengarah pada pergerakan politik dan Agama

Selanjutnya karena perkembangan politik dan sosia,  SI pun kembali  bermetamorfosis menjadi organisasi pergerakan yang beberapa kali berganti nama, antara lain :
  • Tahun 1916, Central Sarekat Islam (disingkat CSI) 
  • Tahun 1920, Partai Sarekat Islam (PSI) 
  • Tahun 1923, Partai Sarekat Islam Hindia Timur (PSIHT) 
  • Tahun 1929, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
  • Tahun 1973, Syarikat Islam (PSII)
  • Tahun 2003, Pada Majlis Tahkim (Kongres Nasional) ke-35 di Garut, namanya diganti menjadi Syarikat Islam (yang disingkat SI). 
  • Tahun 2015, Pada Majlis Tahkim ke-40 di Bandung, telah mengukuhkan Dr. Hamdan Zoelva, SH., MH. sebagai Ketua Umum Laznah Tanfidziyah. Melalui keputusan tertinggi organisasi tersebut, Syarikat Islam kembali ke khittahnya sebagai gerakan dakwah ekonomi.
Sumber : Dari berbagai sumber

Sejarah Muhammadiyah 1.912 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Muhammadiyah merupakan organisasi Islam, yang namanya  diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikatakan sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Dengan semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan berpendidian. Hal ini dapat dilihat dari telah banyaknya tempat pendidikan di seluruh Indonesia, berdirinya rumah sakit, panti asuhan.

Sumber : Dari berbagai sumber
Foto : Istimewa

Sejarah Nahdlatul 'Ulama 1.926 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU didirikan pada  31 Januari 1926

NU adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia, merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Organisasi tersebut bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Selain itu, organisasi-organisasi pribumi lain baik yang bersifat sosial, budaya atau keagamaan yang lahir di masa penjajah, pada dasarnya merupakan perlawanan terhadap penjajah.

Para kiai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, sebagai para penggagas, menggelar pertemuan di kediaman K.H. Wahab Chasbullah di Surabaya.

Selain K.H. Wahab Chasbullah, pertemuan para kiai itu juga merupakan prakarsa dari K.H. Hasyim Asy’ari sebagai penggagas

Yang dibahas pada saat itu adalah, upaya agar Islam tradisional di Indonesia dapat dipertahankan. 

Olehkarenanya perlu dibentuk sebuah wadah khusus, yang sebenarnya sudah dirintis Kiai Wahab jauh sebelumnya. Bersama K.H. Mas Mansur, seperti ditulis Ahmad Zahro dalam buku Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 (2004),

Kiai Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan (“kebangkitan tanah air”) pada 1914. Martin van Brulnessen dalam buku berjudul NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menyebut bahwa, dapat dikatakan bahwa Nahdlatul Wathan merupakan sebuah lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara.

Nahdlatul Wathan versi Kiai Wahab dan Kiai Mas Mansur berbeda dengan lembaga bernama serupa yang didirikan Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Lombok, Nusa Tenggara Timur, pada 1953.

Sumber : Dari berbagai sumber
Foto : Istimewa

Tahun 1.900 M dan Seterusnya


Tahun 1.900 M

Raja Gianyar di Bali takluk kepada kekuasaan Belanda.

Sekolah-sekolah menengah di Bandung, Magelang dan Probolinggo ditata kembali untuk mendidik orang-orang Jawa yang ingin menjadi pegawai negeri.

Pada tanggal 17 Maret 1900, Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) terbentuk di Batavia. THHK mendirikan sekolah-sekolah, jumlahnya 54 buah pada tahun 1908 dan mencapai 450 sekolah pada tahun 1934.

Tahun 1.901 M
Jambi ditempatkan di bawah kekuasaan Residen Belanda di Palembang pada saat munculnya masalah suksesi dan pergolakan lainnya yang terkait.

Mahyudin Datuk Sutan Marajo menerbitkan koran Warta Berita di Padang, surat kabar berbahasa Indonesia pertama dengan tulisan latin.

Perusahaan minyak Zijlker's Royal Dutch diperluas hingga ke Kalimantan.
Belanda menempatkan pasukan keamanan di Kepulauan Mentawai.

Pada tanggal 6 Juni, Soekarno dilahirkan.
Ratu Wilhelmina dari Belanda mengumumkan " Politik Etis" untuk Hindia Belanda.

Tahun 1.902 M
Belanda mengakhiri pembatasan-pembatasan dalam urusan haji.
Pada tanggal 12 Agustus, Mohammad Hatta dilahirkan.

Tahun 1.903 M
Sultan Aceh, Tuanku Daud Syah, menyerah kepada Belanda, namun tetap mempertahankan hubungan rahasia dengan para gerilyawan.
Hindia Belanda mulai membuka sekolah-sekolah MULO untuk pendidikan dasar.

Undang-undang Desentralisasi memberikan beberapa kursi kepada pemerintahan lokal dan provinsi kepada penduduk pribumi di Hindia Belanda. Pemilu untuk pertama kalinya diadakan di Jawa.

Keuangan Hindia Belanda dipisahkan dari keuangan tanah air Belanda.

Tahun 1904 M
Van Heutsz, yang sebelumnya adalah Gubernur militer di Aceh, menjadi Gubernur Jenderal (hingga 1909).

Taha dari Jambi dibunuh oleh Belanda.
Pada bulan Mei, Kapal "Sri Koemala" karam di lepas pantai Sanur, Bali. Penduduk setempat menjarah kapal itu; si pemilik kapal menuntut ganti rugi pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya, hubungan antara Hindia Belanda dengan Raja Badung di Bali memburuk.

Ekspedisi militer Hindia Belanda menguasai wilayah Batak di Sumatra.

Suatu ekspedisi di bawah Kapten Van Daalen ke daerah pegunungan di Aceh menyebabkan matinya lebih dari 3.000 penduduk desa, termasuk lebih dari 1.000 kaum perempuan dan anak-anak.

Pemerintah Belanda mulai memberikan bantuan dan pinjaman untuk pembayaran kembali utang Hindia Belanda.

Dewi Sartika mendirikan Sekolah Isteri, sebuah sekolah untuk kaum perempuan.

Tahun 1.905 M
Pada bulan Januari, Belanda mulai melakukan operasi militer selama lima bulan di Kalimantan.
Belanda mengirim sebuah pasukan militer melawan pemberontakan di Seram.

Pada bulan Agustus, pasukan-pasukan Belanda mendarat di Pare Pare. Pasukan Belanda mencapai kemenangan besar di wilayah Sulawesi; Bugis, Makasar, Toraja dikuasai untuk seterusnya. Penguasa Bone digulingkan.

Para pemberontak Aceh menghubungi konsul Jepang di Singapura untuk meminta pertolongan.

Belanda menduduki Kepulauan Mentawai.
Serikat buruh pertama dibentuk oleh para buruh kereta api.
Pada tanggal 16 Oktober Sarekat Dagang Islamiyah didirikan oleh Kyai Haji Samanhudi, mula-mula untuk melindungi kepentingan-kepentingan para pedagang batik Islam di Surakarta.
Dewan kota dibentuk di Batavia dan Bandung.
Pemerintah Hindia Belanda mensponsori suatu komunitas petani Jawa yang dipindahkan ke Lampung: inilah contoh transmigrasi pertama.

Tahun 1.906 M
Pada tanggal 15 September, Belanda membuat berbagai kemajuan besar di Bali; armada Hindia Belanda membuang jangkar di lepas pantai Sanur.

Pada tanggal 16 September, Pasukan-pasukan Hindia Belanda menyerbu Sanur.

Pada tanggal 20 September, Angkatan Laut Belanda menembaki Denpasar dengan meriam.
Para bangsawan Badung melakukan bunuh diri dalam sebuah puputan, sambil berbaris di jalan utama Denpasar. Lebih dari 3.600 orang terbunuh.

Pada tanggal 23 September, Belanda membuat kemajuan di Tabanan, Bali. Raja Tabanan menawarkan penyerahan dirinya dengan syarat ia diizinkan mempertahankan gelar dan tanahnya. Residen Belanda menawan Raja hingga ia dapat mendapatkan jawaban dari pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Raja Tabanan melakukan bunuh diri di tahanan.

Perkebunan karet di Sumatra berkembang dengan berbagai varitas tanaman baru.

Belanda menguasai Sumba.

Belanda membentuk sebuah protektorat terhadap Berau di Kalimantan Timur.

Sensor pasca-penerbitan diperkenalkan: semua penerbitan harus diserahkan dalam tempo 24 jam setelah terbitnya ke badan sensor untuk ditinjau.

Tahun 1.907 M
Militer Belanda memadamkan pemberontakan di Flores, dan kini berkuasa penuh.

Pemberontakan di Jambi akhirnya dipadamkan.
Para gerilyawan Aceh menyerang Belanda di Banda Aceh.

Raja Sisingamangaraja XII memberontak melawan Belanda, dan ditembak dalam konflik itu.

Hindia Belanda memperkenalkan pajak terhadap usaha-usaha dagang.

Samin Surosentiko, pencetus ajaran Samin, ditangkap di Jawa dan diasingkan ke Padang, Sumatera.

Perusahaan minyak Zijlker's Royal Dutch bergabung dengan Shell Transport and Trading dan menjadi Royal Dutch Shell.

Belanda mengirim polisi ke Kepulauan Tanimbar untuk menghentikan konflik antar suku.

Program pendidikan baru diperkenalkan dengan maksud menawarkan pendidikan tiga tahun untuk anak-anak, yang terbuka untuk masyarakat umum.

Tahun 1.908 M
Klungkung memberontak melawan Belanda; para bangsawan melakukan puputan untuk mempertahankan kehormatan mereka.

Belanda ikut campur dalam konflik-konflik lokal di Sumbawa, hingga lebih ketat menguasai wilayah itu.

Buton jatuh ke dalam pemerintah langsung Belanda.

VSTP (serikat buruh kereta api) dibentuk, anggota-anggota orang Indonesia diterima.
Pada tanggal 20 Mei, Budi Utomo didirikan di antara para mahasiswa suku Jawa kelas atas di Jawa, termasuk dr. Sutomo dan dr. Tjipto Mangunkusumo, menandai dimulainya era Kebangkitan nasional.

Pada bulan Oktober, Budi Utomo mengadakan kongres di Yogyakarta. Tjipto Mangunkusumo meninggalkan organisasi ini.

Indische Vereeniging didirikan untuk para mahasiswa Indonesia di Belanda.

Pemberontakan kecil di Minangkabau dipadamkan.

Hindia Belanda memperkenalkan pajak pendapatan.

Tahun 1.909 M
Tjokroaminoto menjadi pemimpin Sarekat Dagang Islamiyah.
Putri Hindia, sebuah penerbitan untuk kaum perempuan, didirikan.
Belanda mengonsolidasikan kekuasaan atas Seram.
Belanda menguasai Buru.

Tahun 1.910 M
Pemberontakan di Timor Timur di bawah pimpinan Dom Boaventura.
Ratulangi mendirikan Perserikatan Minahasa, sebuah organisasi sosial untuk orang Minahasa.
Ekspedisi Belanda ke Pulau Komodo melaporkan penemuan komodo kepada masyarakat di Eropa untuk pertama kalinya.

Tahun 1.911 M
Abendanon menerbitkan surat-surat R.A. Kartini dengan judul "Door Duisternis Tot Licht " ("Habis Gelap Terbitlah Terang").
Wabah penyakit sampar melanda Pulau Jawa.

Tahun 1912 M
Pada tanggal 10 September, Sarekat Dagang Islamiyah berganti nama menjadi Sarekat Islam dibawah pimpinan Tjokroaminoto.
Indische Partij dibentuk oleh Setiabudi (Douwes Dekker), Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Setahun kemudian, tiga serangkai ini diasingkan.
Portugal meredam pemberontakan di Timor Timur.
Pada tanggal 18 November, Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta.
Belanda mengirim lagi ekspedisi militer ke kepulauan Tanimbar.
Setelah proklamasi Republik Rakyat Cina pada bulan Januari, organisasi-organisasi Tionghoa yang pada mulanya berkecimpung dalam bidang sosial-budaya mulai mengarah kepada politik.

Tahun 1.913 M
Pada bulan Januari, kongres Sarekat Islam di Surabaya memutuskan meluaskan aktivitas mereka ke seluruh Hindia.
Yayasan Kartini berdiri di Belanda untuk mendukung pendidikan kaum perempuan di Jawa.
Gubernur Jenderal Idenburg menyatakan Sarekat Islam sebagai sebuah organisasi yang legal.
Indische Partij dilarang; para pemimpinnya diasingkan ke Belanda.
Pada tanggal 20 Juli, Organisasi Paguyuban Pasundan berdiri sebagai sebuah organisasi sosial dan budaya Sunda di Jawa Barat.
Pemerintah Hindia Belanda mendapat kuasa untuk meminjam uang tanpa harus izin terlebih dahulu kepada pemerintah Kerajaan Belanda.
Suwardi Suryaningrat (dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara) bersama Komite Boemi Poetera menerbitkan "Als Ik Eens Nederlander Was", sebuah tulisan nasionalisme. Ia diasingkan ke Belanda hingga 1919.
Liem Seeng Tee membuka sebuah toko tembakau di luar Surabaya - cikal bakal perusahaan rokok kretek Sampoerna.

Tahun 1.914 M
Hollandsch-Inlandsche Schools (HIS) dibentuk kembali, menjadi terbuka untuk orang Indonesia.
Pada tanggal 9 Mei, Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), nantinya menjadi PKI.
Perang di Eropa: Pemerintah Belanda mempertimbangkan menggunakan milisi dari Indonesia.
Pameran Besar Kolonial di Semarang, dihadiri oleh Pakubuwono X dari Surakarta dan rombongannya.
Pemerintah Hindia Belanda membuka fasilitas percobaan penerbangan di Surabaya untuk mempelajari kinerja pesawat dalam kondisi tropis.
KNIL membentuk sebuah angkatan udara.
Nias sepenuhnya dikuasai Belanda.
Pasukan pendudukan KNIL di Bali ditarik mundur dan digantikan oleh unit polisi biasa.
Insulinde berdiri, didukung oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, yang telah kembali dari pengasingan.

Tahun 1.915 M
Tri Koro Dharma terbentuk sebagai sebuah organisasi pemuda dari Budi Utomo (Berganti nama menjadi Jong Java pada 1918).
Soedirman lahir.
Haji Agus Salim masuk Sarekat Islam, memperkenalkan modernisasi Islam.
Inggris dan Belanda menandatangani perjanjiapn perbaikan perbatasan antara Borneo Utara (Sabah) dan Hindia Belanda.

Tahun 1.916 M
Delegasi anggota dari Budi Utomo, dan organisasi-organisasi lain mengunjungi Belanda
Pemerintah Hindia Belanda membentuk "Politiek Inlichtingen Dienst", sebuah pasukan polisi khusus untuk menyelidiki kejahatan politik (kemudian berganti nama menjadi "Algemene Recherche").

J.P. Count van Limburg Stirum menjadi Gubernur-Jenderal hingga 1921.
Soekarno muda bersekolah di Surabaya, tinggal di rumah Tjokroaminoto.

Mangkunegara VII mengambil alih tempat tinggalnya di Surakarta.
Pada bulan Desember, Dewan Negara (Parlemen) di Belanda meloloskan RUU untuk pembentukan sebuah Koloniale Raad (kemudian dikenal dengan Volksraad) untuk Hindia Belanda.

Tahun 1.917 M
Jong Sumatranen Bond berdiri di Jakarta
Kelompok sayap kiri dari Semarang berkumpul di Sarekat Islam dibawah Semaun; Tjokroaminoto tidak melarang mereka.
Belanda mempertimbangkan milisi Indonesia untuk dinas militer; anggota sayap kiri di Sarekat Islam menentang.
Fasilitas pelabuhan modern dibangun di Surabaya.
Ki Hajar Dewantara kembali dari pembuangan.

Tahun 1.918 M
Pada tanggal 18 Mei, Volksraad berapat untuk pertama kalinya. 39% dari anggota-anggotanya adalah orang Indonesia. Anggota-anggotanya dipilih oleh dewan-dewan setempat dari kabupaten. Kebanyakan anggotanya adalah pegawai pemerintah atau bupati. Volksraad terdiri dari satu kamar, dan berfungsi sebagai dewan penasihat saja.
Gubernur Jenderal van Limburg Stirum mengangkat Tjokroaminoto menjadi anggota Volksraad. Dr. Tjipto Mangunkusumo juga ditempatkan di sana.
ISDV mulai membentuk soviet-soviet (dewan-dewan) di Surabaya.
"Sarekat Islam B", cabang revolusioner rahasia, mulai terbentuk. Anggotanya termasuk Musso (dan kemungkinan juga Tjokroaminoto).
Sarekat Sumatra didirikan.
Wabah cacar melanda Jawa, Sumatra dan Kalimantan.
Organisasi Jong Minahasa didirikan.
Pemerintah Hindia Belanda mulai menindas ‘’soviet-soviet’’ ISDV, mengusir anggota-anggota Belanda dari gerakan komunis.
"Janji November": pemerintah Belanda mengatakan bahwa Indonesia akan memiliki pemerintahan sendiri pada masa depan yang belum ditetapkan.
Pada tanggal 14 November, anggota-anggota orang Indonesia di Volksraad mengecam Pemerintah Hindia Belanda karena lebih mengutamakan kepentingan-kepentingan orang Eropa.
Pemerintah Hindia Belanda membuang Sneevliet.
Douwes Dekker kembali dari pembuangan.

Tahun 1.919 M
Pada bulan Mei-Juni, Penembakan di Garut; seorang pejabat Belanda di Toli-toli, Sulawesi dibunuh. Belanda menggunakan penembakan ini sebagai alasan untuk menindas Sarekat Islam Seksi B.
Indo-Europees Verbond didirikan untuk memajukan kepentingan-kepentingan "orang-orang Indo", sementara pada saat yang sama juga mendukung Belanda.
Haji Misbach mengajarkuan "Komunisme Islam" di Surakarta
KLM membuka pelayanan udara jarak jauh dari Amsterdam ke Batavia.

Tahun 1.920 M
Pada tanggal 27 Mei, ISDV mengganti namanya menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (belakangan PKI).
PKH menerbitkan tulisan-tulisan Lenin.
Technische Hoogeschool didirikan di Bandung (sekarang ITB: Institut Teknologi Bandung).
Sarekat Ambon didirikan.
Konflik antara kaum Komunis dan Sarekat Islam berkembang.
Pada tanggal 25 Desember PKH bergabung dengan Komunis Internasional.

Tahun 1.921 M
Pada bulan Juni, Jong Java mengadakan kongres di Bandung; Soekarno berbicara di kongres untuk menganjurkan pembaruan bahasa.
Fock menjadi Gubernur-Jenderal Hindia Belanda hingga 1926.
Timorsch Verbond didirikan.
Pada bulan Agustus, Tjokroaminoto ditangkap.
Pada bulan Oktober, Kongres Nasional ke-6 Sarekat Islam melarang anggota-anggota SI merangkap sebagai anggota partai-partai lain, termasuk PKI.
Banyak cabang Sarekat Islam terpecah menjadi (SI-Merah) yang mengikuti Semaun dan (SI-Putih) yang mengikuti Tjokroaminoto.
Semaun berangkat ke Uni Soviet.
Tan Malaka berusaha memulihkan perpecahan dalam Sarekat Islam.
PKI menolak Tjokroaminoto.
Sukarno muda mulai belajar di Technische Hoogeschool di Bandung.
Soeharto dilahirkan.
Hamengkubuwono VIII menjadi Sultan Yogyakarta.
Pada bulan Desember, Tan Malaka menjadi ketua PKI.

Tahun 1.922 M
Perhimpunan Mahasiswa Indonesia didirikan di Belanda. Anggotanya antara lain Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sutomo, Ali Sastroamidjojo, dan banyak lagi lainnya yang kelak memainkan peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan (dan dalam pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1950-an).

Pada bulan Maret, Tan Malaka dibuang dari Hindia Belanda.
Pada bulan April, Tjokroaminoto dibebaskan dari tahanan sambil menunggu bandingnya.
Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah sekolah mandiri tanpa dukungan pemerintah untuk mengembangkan kesenian Jawa maupun pendidikan modern (anti-modernis); menciptakan istilah "demokrasi terpimpin".
Indische Vereeniging di Belanda mengganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Anggotanya antara lain Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir; Tan Malaka dan Semaun berbicara dalam pertemuan-pertemuannya.
Semaun kembali dari Belanda.
Marah Roesli menerbitkan novel "Sitti Noerbaja"
Pemogokan berlanjut.
Fasilitas pelabuhan modern dibuka di Belawan untuk melayani Sumatra utara.

Tahun 1.923 M
Pada bulan Februari, Partai Katolik didirikan.
Pemogokan kereta api oleh VSTP yang dipimpin pihak Komunis, Semaun sebagai pemimpinnya ditangkap dan dibuang; banyak serikat buruh yang kini didominasi Komunis.
Pada bulan Februari, Tjokroaminoto menata kembali Sarekat Islam menjadi Partai Sarekat Islam yang baru. Para pendukung komunis meninggalkan organisasi ini, dan membawa serta banyak anggota bersama mereka; Cabang-cabang SI Merah menjadi Sarekat Rakyat.
Tan Malaka ditunjuk sebagai agen Komintern untuk Asia Tenggara, dan berbasis di Guangdong, Tiongkok.
Pada tanggal 12 September, Persatuan Islam (atau Persis), sebuah kelompok modernis garis keras, didirikan di Bandung. Mohammad Natsir yang masih muda adalah salah satu anggota pertamanya.
Pasteur Institute dipindahkan dari Batavia ke Bandung.
Wajib militer diberlakukan untuk semua warga negara Belanda di Hindia.

Tahun 1.924 M
Perserikatan Komunis di Hindia mengganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia, memutuskan untuk mengadakan pemberontakan. Musso bergabung dengan PKI.
"Sarekat Hijau" dibentuk oleh Belanda, anggota-anggotanya adalah pejabat-pejabat setempat, kaum kriminal, polisi, dll. yang pro-Belanda.
Dr. Sutomo mendirikan Indonesia Study Club.
Pelayanan pos udara pertama dari Batavia ke Amsterdam. Penerbangan memakan waktu hampir dua bulan.
Biro Malaria Pusat didirikan untuk mengoordinasikan program-program pemberantasan malaria.
Tan Malaka, pencetus Republik Indonesia lewat bukunya Naar de Republiek Indonesia

Tahun 1.925 M
Konstitusi baru: Dewan Hindia menjadi lembaga penasihat, Volksraad mendapatkan kekuasaan legislative terbatas. Gubernur Jenderal dan birokrasi tidak terpengaruh. Orang-orang Tionghoa secara resmi didefinisikan sebagai "vreemde oosterlingen"

Keanggotaan di Volksraad ditetapkan 60:30; 60 orang Belanda, 25 Indonesia, dan 5 anggota lainnya keturunan Arab atau Tionghoa.
Pemogokan yang dipimpin oleh PKI gagal, Tan Malaka berada di Singapura.
Sukarno mendirikan Generaal Study Club yang pro kemerdekaan di Bandung, menganjurkan kesatuan bangsa.
Pada tanggal 23 September, Jong Islamieten Bond didirikan di Jakarta; anggota-anggotanya antara lain adalah Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir.
Tan Malaka mencetus bentuk negara Republik, lewat buku Naar de Republiek Indonesia
Sensor film diberlakukan.
Stasiun radio komersial pertama di Batavia.
Pada bulan Desember, para pemimpin PKI mengadakan rapat di Prambanan untuk merencanakan pemberontakan terbuka.

Tahun 1.926 M
Belanda menangkap lebih banyak anggota PKI; Musso pergi ke Singapura. PKI mendapatkan instruksi dari Moskwa untuk memulai sebuah revolusi, lalu membatalkan instruksi ini. Musso merahasiakan instruksi yang kedua (instruksi untuk tidak memberontak).

Pada tanggal 31 Januari, Komite para ulama Islam berkumpul di Surabaya untuk mengirim sebuah delegasi ke Arab Saudi untuk memprotes syarat-syarat untuk para jemaah haji Indonesia. (Komite ini kelak menjadi benih Nahdlatul Ulama.)
Kongres Pemoeda I diadakan di Kota Solo pada tanggal 30 April s/d 2 Mei 1926, dg ketua Mohammad Tabrani (Jong Java)
Pada tanggal 12 November, PKI memberontak di Banten, Batavia, Bandung, Padang. PKI mengumumkan pembentukan sebuah republik. Pemberontakan ini dihancurkan oleh Belanda, yang menangkap sekitar 13.000 orang. Tan Malaka menentang pemberontakan.
Sukarno mendapatkan gelar insinyur dalam bidang Arsitektur di Bandung.
Sukarno menerbitkan serangkaian tulisan yang berjudul "Nasionalisme, Islam dan Marxisme", dan menyerukan kerja sama antara ketiga gerakan ini.
De Graeff menjadi Gubernur Jenderal hingga 1931.
Pada tanggal 31 Desember, Kyai Haji Hasjim Asjari mendirikan Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Muslim yang berkarya dalam bidang pendidikan, bantuan amal, dan bantuan ekonomi.

Tahun 1.927 M
Pada bulan Januari, pemberontakan PKI di Silungkang, Sumatera Barat dihancurkan.
Pada bulan Februari, Hatta dan lain-lainnya menghadiri pertemuan anti kolonial di Brussel bersama dengan banyak nasionalis lainnya dari Asia dan Afrika.
Pada tanggal 4 Juli Sukarno dan dr. Tjipto Mangunkusumo mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).
Pada bulan September, Hatta, Ali Sastroamidjojo dan lain-lainnya dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia ditangkap.
Dr. Tjipto Mangunkusumo ditangkap dan dikirim ke pembuangan di Banda. Ia tinggal di pembuangan selama 11 tahun.
Hindia Belanda membangun kamp penjara Boven Digul di Papua untuk menampung para tahanan politik.
Kampanye anti narkotik: Hindia Belanda melarang penanaman koka dan hemp.
Pada bulan Desember, Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), kelompok yang menaungi organisasi-organisasi nasionalis dibentuk di Bandung.
Jahja Datoek Kajo orang pertama yang berpidato menggunakan bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad

Tahun 1.928 M
PNI mengganti namanya menjadi Partai Nasional Indonesia, menerima bendera Merah-Putih, Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, "Indonesia Raya" ciptaan W.R. Supratman sebagai lagu kebangsaan.
Pada bulan Maret, Hatta dan pendukung-pendukungnya dibebaskan; pidato-pidato Hatta jelas-jelas anti Belanda.
Pada tanggal 28 Oktober, Kongres Pemuda II di Batavia menerima "sumpah pemuda": satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Kongres diketuai oleh Sugondo Djojopuspito (PPI)
Muhammad Yamin menulis puisi "Indonesia tumpah darahku".
KNILM didirikan sebagai perusahaan penerbangan resmi Hindia Belanda.
Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) didirikan di Bukittinggi sebagai organisasi pendidikan untuk kaum Muslim Minangkabau yang tradisionalis .

Tahun 1.929 M
Pada bulan Agustus, Pemerintah Hindia Belanda memperingatkan anggota-anggota PNI agar menghentikan aktivitas-aktivitas mereka.
Orang-orang Indonesia mendapatkan kursi mayoritas di Volksraad, yang tetap merupakan sebuah lembaga penasihat.
Belanda memulihkan para bekas penguasa Bali hingga menjadi penguasa setempat yang berkuasa di bawah wewenang Belanda, dalam sebuah upacara yang panjang di Besakih.
Pada tanggal 29 Desember, Soekarno dan pengikut-pengikutnya ditangkap di Yogyakarta. Mereka dipenjarakan di Bandung.
Wilayah birokrasi Hindia Belanda
Pembagian legal Hindia Belanda. Biru tua: Belanda memerintah melalui pemimpin adat yang sudah bersumpah setia pada Belanda (status zelfbestuuren) dibimbing oleh residen2 Belanda. Biru muda diperintah langsung oleh BB (Binnenlands Bestuuren) pemerintah Belanda

Tahun 1.930 M
Muhammad Husni Thamrin membentuk sebuah fraksi nasionalis di Volksraad; menuntut otonomi.
Pemerintah Hindia Belanda memulai produksi pesawat ringat secara terbatas di lapangan terbang Andir di Bandung (model AVRO-AL), dengan menggunakan sebuah rancangan Kanada dan kayu-kayu setempat.
Pada bulan Juni, Pangeran Surjodiningrat mendirikan Pakempalan Kawula Ngayogyakarta sebagai sebuah organisasi kebudayaan untuk penduduk Yogyakarta, yang menjadi sangat popular.
Pada tanggal 18 Agustus, Sukarno diadili di Bandung. Ia menyampaikan pidato-pidato yang membangkitkan semangat di pengadilan.
Jepang mendirikan Borneo Oil Company.
Gunung Merapi meletus dan membunuh 1300 orang.
Pada tanggal 22 Desember, Sukarno dihukum empat tahun penjara karena kegiatan-kegiatan nasionalisnya.
PNI dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1.931 M
Perhimpunan Indonesia dikuasai oleh kaum komunis; Sjahrir dan Hatta dipecat.
Pada tanggal 25 April, PNI memutuskan untuk membuarkan dirinya. Partai Indonesia atau Partindo dibentuk sebagai gantinya empat hari kemudian. Beberapa anggota PNI, termasuk Hatta, kecewa.
Pada bulan Desember, Sjahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia bersama Hatta ("PNI-Baru").
Sukarno dibebaskan oleh de Graeff.
Raja Bone dipulihkan kekuasaannya oleh Belanda untuk memerintah dengan pemerintahan mandiri setempat.
De Jonge menjadi Gubernur Jenderal hingga 1936.
Pemerintah Hindia Belanda memperketat sensor pers.
Ong Hok Liong mendirikan perusahaan rokok Bentoel.
Pada tanggal 31 Desember, Sukarno dibebaskan lebih awal dari penjara di Bandung.

Tahun 1.932 M
Sukarno bergabung dengan Partindo; minat terhadap Partindo meningkat.
Pada bulan Agustus, Hatta kembali dari Belanda.
Belanda menuntut sekolah-sekolah independen untuk meminta izin operasi dari pemerintah; fraksi-fraksi di Volksraad bersatu menentang gagasan ini.

Tahun 1.933 M
Pada tanggal 5 Februari, Pemberontakan para pelaut Belanda dan Indonesia di atas kapal Belanda “Zeven Provincien”. Pemberontakan ini disebabkan oleh ketidakpuasan karena gaji yang rendah, namun Pemerintah Hindia Belanda memandangnya sebagai suatu pemberontakan politik.
Hindia Belanda menekan sekolah-sekolah independen dan para pemimpin politik di Minangkabau.
Pada bulan Agustus, Sukarno, Hatta, Sjahrir ditangkap. Sukarno dibuang ke Ende di Flores tanpa pengadilan.
Oost-Indische Leger diganti namanya menjadi KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).
Pertemuan-pertemuan organisasi induk PPPKI dilarang.
Sutan Takdir Alisjahbana menerbitkan majalah Pujangga Baru

Tahun 1.934 M
Belanda mulai melakukan kebijakan proteksionis untuk menghalangi produk-produk Jepang yang lebih murah dan melindungi produk-produk Belanda yang lebih mahal.
Belanda menekan PKN untuk meninggalkan kegiatan politiknya yang terbuka.
Pada bulan Februari, Hatta dan Sjahrir ditangkap dan dikirim ke kamp tahanan Boven Digul di Papua.
Belanda melarang kongres Partindo.
Tjokroaminoto wafat.

Tahun 1.935 M
Pada bulan Desember, Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia bergabung untuk membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra). Anggotanya antara lain adalah Thamrin dan dr. Sutomo; juga terdapat sejumlah anggota yang pro Jepang. Partai yang baru ini menyerukan kemerdekaan melalui kerja sama dengan Belanda.

Tahun 1.936 M
Van Starkenborgh diangkat menjadi Gubernur Jenderal; jabatan ini dipegangnya hingga sekurang-kurangnya tahun 1945.
Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda.
Pada bulan Juli, "Petisi Sutarjo" diterbitkan, menyerukan kemerdekaan untuk Indonesia dalam tempo 10 tahun.
Pada tanggal 29 September, Volksraad memutuskan untuk mendukung petisi untuk otonomi Indonesia di dalam konstitusi Belanda.
Becak menjadi sarana transportasi di Batavia.
Pada bulan November, Partindo dibubarkan.
Para geologiwan Belanda menemukan bukti kekayaan mineral — besi, tembaga, perak, dan emas — di Papua.

Tahun 1.937 M
Pada tanggal 24 Mei, Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan. Anggotanya antara lain meliputi Yamin dan Amir Sjarifuddin. Sebagai sebuah organisasi Gerindo mendukung kemerdekaan, namun cenderung bekerja sama dengan Belanda dalam melawan Jepang.
Pada tanggal 17 Desember Kantor Berita Antara didirikan.

Tahun 1.938 M

Sukarno, yang masih berada dalam penahanan Belanda, dipindahkan ke Bengkulu.
Orang-orang luar pertama mencapai Lembah Baliem di Papua.
Belanda mengadakan persidangan Tapanuli untuk mendukung para penguasa Batak setempat.
Hindia Belanda melembagakan "hukum adat" di Minangkabau dan Banjarmasin.
Moskwa menyuruh PKI untuk menghentikan aktivitas-aktivitas anti-Belanda.
Pada tanggal 16 November, Pemerintah Belanda menolak petisi otonomi 1936 untuk Indonesia.

Tahun 1939 M
Pakubuwono X dari Surakarta wafat, Pakubuwono XI adalah Susuhunan yang baru.
Jepang menduduki Kepulauan Spratly.
Pada bulan Mei, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA didirikan oleh Muhammad Da'ud Beureu'eh untuk mengoordinasi kegiatan-kegiatan anti-Belanda di Aceh.
Gabungan Politik Indonesia (GAPI), sebuah organisasi payung dari berbagai organisasi nasionalis, dibentuk. Thamrin adalah salah seorang penganjur utamanya.
Kartosuwirjo dan pengikut-pengikutnya memisahkan diri dari Partai Sarekat Islam, dan membawa serta banyak pendukungnya di Jawa Barat.
Pada bulan Desember, GAPI mengorganisasi Kongres Rakyat Indonesia, sebuah pertemuan representatif yang besar di Batavia, yang mengajukan tuntutan untuk parlemen yang sepenuhnya terpilih untuk Hindia.

Tahun 1.940 M
Pada bulan Februari, Belanda kembali menolak otonomi untuk Hindia Belanda.
Pada tanggal 13 Februari, Jepang menolak perjanjian arbitrase dengan Belanda.
Pada tanggal 18 Maret Hamengkubuwono IX menjadi Sultan Yogyakarta.
Pada bulan Mei, Belanda jatuh ke tangan Jerman, pemerintah Belanda melarikan diri ke London.
Pada tanggal 28 Juni, Jepang mengatakan ingin merundingkan kembali perjanjian dagang dengan Belanda.
Pada bulan Juli, Barang ekspor Indonesia ke Jepang dihentikan.
Pada bulan Agustus, Jepang menyatakan bahwa Perancis Indochina dan Hindia Belanda harus disatukan dengan sepenuh hati ke dalam "East Asia Co-Prosperity Sphere".
Pada tanggal 9 Agustus GAPI menghadirkan petisi yang lain tentang "melengkapi demokratisasi Indonesia".
Pada tanggal 23 Agustus Komisi untuk Studi Perubahan Konstitutional dibentuk untuk mempelajari permintaan GAPI. Thamrin dkk di Volksraad menarik proposal mereka untuk demokratisasi.
Pada bulan September, Tentara Jepang bergerak menuju Perancis Indochina.
Pada tanggal 12 September, Pemerintah Hindia Belanda memulai pembicaraan perdagangan dengan delegasi Jepang di bawah pimpinan Kobayashi. Van Mook tidak mau bekerja sama dengan tuntutan Jepang untuk bahan bakar penerbangan.
Pada tanggal 26 Oktober, Jepang dan Belanda mengeluarkan sebuah deklarasi bersama yang berisi Hindia Belanda tidak akan menjadi bagian dari "Co-Prosperity Sphere".
Pada tanggal 12 November, Kuota atas penjualan minyak ke Jepang dari Hindia Belanda ditetapkan dalam perjanjian

Tahun 1.941 M
  1. Tanggal 6 Januari Muhammad Husni Thamrin, Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan beberapa tokoh nasionalis ditangkap. 
  2. MH Thamrin wafat setelah lima hari dalam penjara. 
  3. Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) diasingkan ke Suriname.
Tahun 1.942 M - 1.945 M
Penjajahan Yang Dilakukan Jepang terhadap Bangsa kita

Tahun 1.943 M
Pembentukan PETA

Tahun 1.944 M
Pasukan Sekutu kembali memukul Jepang

Tahun 1.945 M - 1.950 M
Revolusi Nasional yang menghasilkan "Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Mesir adalah Negara pertama di dunia yang mengakui Kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tahun 1.946 M
Peristiwa Bandung Lautan Api
Peristiwa Westerling dimulai pada 11 Desember 1946 (Pembunuhan Masal - 40.000.000 Jiwa)

Tahun 1.947 M
Agresi Militer Belanda Pertama

Tahun 1.948 M
Agresi Militer Belanda Kedua

Tahun 1.949 M
Serangan Umum 1 Maret 1949

Tahun 1.950 M - 1.959 M
Orde Lama

Tahun 1.959 M - 1.966 M
Demokrasi Terpimpin

Tahun 1.965 MPembantaian 6 Jendral / G 30 S PKI

Tahun 1.966 M - 1.998 M
Orde Baru

Tahun 1.966 M
  1. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar)
  2. Dimulainya Orde Baru, mulai tahun 1.966 M hingga 1.998 M
Tahun 1.968 M
Tanggal 21 Maret Soeharto terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia kedua dalam pemungutan suara yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Tahun 1.969 M
Bulan April. Rencanan Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I dicanangkan

Tahun 1.970 M
Tanggal 21 Januari. Mantan Presiden Soekarno wafat di Bogor

Tahun 1.972 M
Krisis pangan di Indonesia

Tahun 1.998 M
  1. Krisis ekonomi melanda Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Presiden Soeharto yang baru terpilih kembali, dipaksa mundur dari jabatan Presiden. Saat Reformasi dimulai
  2. Orde Reformasi  - sampai sekarang
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_%281800-1942%29 dan dari berbagai sumber

Foto : Istimewa

Presiden Singapura Pertama Yusof Ishak - 1.910 M

Yusof Ishak Presiden Singapura Orang Indonesia
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Encik Yusof bin Ishak (12 Ogos 1910 - 23 September 1970) adalah Presiden Singapura yang pertama. Beliau dilahirkan di Padang Gajah, Trong, lebih kurang 18 batu dari Taiping, Perak. Bapanya, seorang keturunan Minangkabau, berasal daripada Sumatra Barat dan ibunya dari Langkat. Mereka berhijrah ke Pulau Pinang dan setelah itu ke Perak, Malaysia.

Encik Yusof adalah anak sulung di dalam keluarga yang terdiri daripada 9 orang. Bapanya, Encik Ishak bin Ahmad, merupakan Pemangku Pengarah Perikanan Negeri-Negeri Selat dan Negeri-Negeri Melayu Bersekutu. Encik Yusof menerima pendidikan awal di sebuah sekolah Melayu di Kuala Kurau, Perak. Dua tahun kemudian, beliau dipindahkan ke Malay School di Taiping dan pada 1921, memulakan pengajian dalam aliran bahasa Inggeris di Sekolah King Edward VII, Taiping.

Pada 1923, bapanya telah ditempatkan ke Singapura. Encik Yusof mengikuti keluarganya dan melanjutkan pelajaran di Victoria Bridge School sehingga Disember 1923.

Pendidikan
Pada 1924 beliau dimasukkan ke sekolah Raffles Institution di mana beliau lulus Sijil Sekolah Cambridge (Cambridge School Certificate) pada 1927 dengan kepujian dan diberi peluang untuk melanjutkan pelajarannya di dalam kelas Queen's Scholarship.

Apabila di sekolah, beliau amat giat dalam arena sukan. Di Raffles Institution beliau aktif dalam sukan hoki, kriket, angkat berat dan tinju. Pada 1933 beliau menjadi juara tinju dalam kelas lightweight. Sebagai kadet cemerlang dalam Kor Kadet Sekolah beliau dinaikkan ke pangkat Lieutenant Kedua, pelajar pertama yang menerima jawatan tersebut di Singapura. Beliau juga merupakan ketua murid dan penyunting bersama majalah sekolah "Rafflesian".

Kerjaya kewartawanan
Setelah meninggalkan sekolah pada 1929, beliau bersama dua rakannya telah menerbitkan majalah bertajuk "Sportsman", sebuah majalah keluaran dua minggu yang memaparkan berita-berita sukan. Pada 1932, beliau menganggotai syarikat 'Warta Malaya', sebuah akhbar Melayu yang terkemuka pada masa itu. Kebolehan kewartawanannya membolehkan beliau naik ke jawatan Pembantu Pengurus dan Pemangku Penyunting dalam masa yang singkat. Pada 1938, beliau meletak jawatan dari 'Warta Malaya' dan bersama beberapa rakan yang lain, telah menubuhkan syarikat 'Utusan Melayu Press Ltd'. Edisi pertama Utusan Melayu dikeluarkan pada Mei 1939 dengan Encik Yusof sebagai pengarah pertama syarikat tersebut.

Sewaktu Pendudukan Jepun (1942-1945) Encik Yusof berada di Malaya. Apabila Jepun menyerah kalah, beliau kembali ke Singapura pada 3 September 1945 dan menyambung semula pencetakan Utusan Melayu.

Pada 1948 Encik Yusof melawat Britain sebagai anggota delagasi First Press Delegation. Pada awal tahun 1957, beliau telah ke Jepun untuk memeriksa alat jentera terkini yang ditempah oleh 'Utusan Melayu'. Pada Mei di tahun yang sama, beliau telah ke Kuala Lumpur untuk menyelia pembinaan Bangunan Utusan. Semasa di Kuala Lumpur, Encik Yusof dilantik sebagai Presiden Press Club of Malaya.

Perlantikan awam
Encik Yusof memegang beberapa jawatan penting dalam pemerintah Singapura. Dari 1948 ke 1950, beliau berkhidmat dalam Jawatankuasa Permohonan Filem (Film Appeal Committee). Beliau telah menjadi anggota Nature Reserves Committee selama setahun dan juga Malayan Organisation Commission. Pada Julai 1959, beliau dilantik sebagai Pengerusi Suruhanjaya Perkhidmatan Awam Singapura. Pada 3 Julai 1965, Encik Yusof dijadikan Canselor Universiti Nasional Singapura.

Encik Yusof dilantik sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura pada 3 Disember 1959, menjadikan beliau orang tempatan pertama memegang jawatan tersebut. Encik Yusof bersama isterinya Puan Noor Aishah telah melakukan lawatan rasmi yang pertama ke Kemboja pada April 1963. Pada bulan yang sama, beliau bersama isterinya telah ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji di mana mereka disambut sebagai tetamu negara kerajaan Arab Saudi. Sebuah lawatan rasmi juga telah dilakukan ke Ceylon (kini Sri Lanka) pada Mei 1963.

Encik Yusof dianugerahkan Darjah Kerabat Yang Amat Dihormati Kelas Pertama oleh Sultan Brunei pada November 1960 dan Darjah Kebesaran Seri Maharaja Mangku Negara (S.M.N.) oleh Yang di-Pertuan Agong Malaysia pada November, 1963.

Pada 9 Ogos 1965, apabila Singapura berpisah dari Malaysia dan menjadi negara yang berdaulat, Encik Yusof dilantik sebagai Presiden yang pertama Republik Singapura. Beliau dilantik sekali lagi untuk empat tahun dari 4 Disember 1967.

Presiden Yusof Ishak meninggal dunia pada 23 November 1970 di Singapura dan disemadikan di Perkuburan Negara Kranji.

Sumber: http://ms.wikipedia.org/wiki/Yusof_Ishak
10 Desember 2012

Tari Pendet - Tahun 1.950 M

"Berdasarkan beberapa catatan, para ahli seni pertunjukan Bali, sepakat untuk menyebutkan tahun 1950 sebagai tahun kelahiran tari Pendet," ungkap Gurubesar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr I Wayan Dibia.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/1250926895/pendet-tergolong-tarian-tertua-di-bali

Sekelumit Perjalanan Sejarah Pancasila

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Pada tanggal 22 Juli 1945, disahkan Piagam Jakarta yang kelak menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Naskah rancangan konstitusi Indonesia disusun pada waktu Sidang Kedua BPUPKI tanggal 10-17 Juli 1945.

Sebelum pengesahan tanggal 18 Agustus 1945, ada nilai-nilai sejaraha yang banyak dihapus dari sejarah itu sendiri, yakni:

Para wakil daerah luar Jawa itu, terutama karena mewakili golongan agama di luar Islam (Kristen, Hindu Bali, dan lain-lain), merasa keberatan apabila dalam Preambul itu masih ada kalimat yang berbunyi: "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Karena hal itu bisa diartikan bahwa dasar negara Indonesia adalah Islam.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Mereka menghendaki agar diubah menjadi: "Ketuhanan Yang Maha Esa" saja. Para utusan juga menghendaki agar beberapa pasal dalam rencana UUD, antara lain yang menyatakan bahwa Presiden harus seorang Islam, supaya diubah sehingga pasal 6 ayat 1 berbunyi "Presiden ialah orang Indonesia Asli."

 Menurut mereka tujuan perubahan tersebut supaya kita jangan menjadi terpecah-pecah sebagai bangsa, karena itu perlu dihilangkan kalimat-kalimat yang bisa mengganggu perasaan kaum Kristen atau pemeluk agama lain.

Usul perubahan itu mendapat perhatian serius dari para mahasiswa, dan mereka segera memperoleh persesuaian pendapat, karena masingmasing telah sama-sama menginyafi dan benar-benar menginginkan adanya persatuandan kesatuan bangsa. Persoalan tersebut oleh mahasiswa segera diberitahukan kepad Bung Hatta melalui telpon. Bung Hatta setuju untuk membicarakan hal itu sore hari itu juga tanggal 17 Agustus 1945, pukul 17.00. Untuk menjelaskan persoalan ini tiga orang diutus menghadap Bung Hatta sore itu, menyampaikan alasan perubahan yang dikemukakan wakil-wakil dari Indonesia Timur.

Ketiga Utusan Mahasiswa itu ialah Moeljo Hastrodipuro, Piet Mamahit, dan Imam Slamet yang berpakaian seragam Angkatan Laut, sehingga orang mengiranya orang Jepang.

Perubahan-perubahan yang diajukan oleh para utusan ini dapat diterima oleh Bung Hatta dan akan disampaikan kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 esok harinya.

Tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

Periode 1945-1949
Dalam kurun waktu 1945-1949, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk. Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet Parlementer yang pertama, sehingga peristiwa ini merupakan penyimpangan UUD 1945.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Periode 1959-1966
Karena situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak saling tarik ulur kepentingan partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD baru, maka pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu isinya memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang-undang dasar, menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 waktu itu.

Pada masa ini, terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, diantaranya:
  • Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil Ketua DPA menjadi Menteri Negara
  • MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup
  • Pemberontakan G 30S
Periode 1966-1998
  • Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan kembali menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun dalam pelaksanaannya terjadi juga penyelewengan UUD 1945 yang mengakibatkan terlalu besarnya kekuasaan pada Presiden.
  • Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat “sakral”, diantara melalui sejumlah peraturan:Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak akan melakukan perubahan terhadapnya
  • Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum yang antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945, terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum.
  • Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum, yang merupakan pelaksanaan TAP MPR Nomor IV/MPR/1983.
V. Perubahan UUD 1945
Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yang terlalu “luwes” (sehingga dapat menimbulkan mulitafsir), serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.

Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mempertegas sistem presidensiil.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Dalam kurun waktu 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR:
  • Sidang Umum MPR 1999, tanggal 14-21 Oktober 1999
  • Sidang Tahunan MPR 2000, tanggal 7-18 Agustus 2000
  • Sidang Tahunan MPR 2001, tanggal 1-9 November 2001
  • Sidang Tahunan MPR 2002, tanggal 1-11 Agustus 1999 
Sumber : Lahirnya Satu Bangsa dan Negara (Penerbit Universitas Indonesia - UI Press - 1997), dan dari berbagai sumber

Sudah pernah diunggah di Indonesia Mandiri : 

Menyibak Tempat Lahirnya Sang Saka Merah Putih

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) -  Gunung Lawu yang dahulunya bernama Wukir Mahendra ini, terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Magetan,Jawa Timur, menyimpan sejuta misteri, yang hingga kini tidak dapat diungkap tuntas bagi orang-orang yang congkak.

Gunung Lawu tepatnya terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Masyarakat Jawa yang berkearifan lokal, dan tidak ke barat-baratan dan ke arab-araban, sangat percaya bahwa puncak Lawu dahulu merupakan kerajaan pertama yang ada di pulau Jawa dan dipercaya memiliki dunia gaib yang misterius.

Gunung Lawu terletak persis di tengah perempatan empat penjuru mata angin.

Gunung Lawu juga merupakan pusat budaya dan kegiatan spiritual orang-orang di pulau Jawa. Hal ini lebih meyakinkan lagi tidak ada yang kebetulan, karena jika ditarik secara garis lurus, Gunung Lawu sejajar tegak lulus tepat dengan Pura Mangkunegara, dan bukan tepat pada Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti yang terjadi pada Keraton Ngayojokarto yang sejajar tepat dengan Gunung Merapi. 

Tikda heran bagi orang-orang pribumi, dan bukan yang ngaku-ngaku pribumi, Gunung Lawu masih menjadi tempat untuk laku spiritual para tokoh dan negarawan. Sejak Jaman Kraton sampai saat ini. Puncak Hargo Dumilah merupakan tempat sakral yang sering digunakan untuk semedi, meditasi atau mengolah kebathinan, dan mohon petunjuk dari Tuhan YME.

Sudah menjadi rahasia umum hampir semua petinggi negara sering menyepi dengan mendaki puncak Lawu. Sejak jaman era Bung Karno, presiden pertama Indoneisa ini memang sering melakukan tetirah atau menyepi di Lawu. Sementara, para penggantinya, terakhir SBY tahun 2013 terakhir datang ke sini.

Untuk naik ke puncak Gunung Lawu melalui jalur umum, Anda dapat melalui Cemoro Sewu Magetan, ataupun Cemoro Kandang di Karanganyar.

Namun ada juga jalur khusus, yakni melewati Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar, dari jalur ini, langsung menuju pintu masuk Pringgondani, Jalur khusus ini sudah memiliki jalan blok yang lebih baik.

Foto : Istimewa

Sejarah nama Indonesia

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Nama Indonesia berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19. Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama, sementara kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan"). 

Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). 

Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais). Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):

    "... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1] Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

    "Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia")..

Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,
    "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia


Foto : Istimewa

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen