Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

Walisongo

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Banyak versi mengenai Walisongo, olehkarenannya kami mencoba mengumpulkan dari berbagai sumber, agar cerita atau sejarah mengenai Walisongo dapat kami sajikan dengan gamblang.

Jelilah Membaca, Pintarlah Mencerna
Sapto Satrio Mulyo

Walisongo atau Walisanga:
Sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14, di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Jawa Timur (Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban), Jawa Tengah (Demak-Kudus-Muria), dan Jawa Barat (Cirebon).

Era Walisongo adalah era bergantinya Budaya Nusantara yang dipengaruhi oleh Hindu-Budha menjadi dipengaruhi oleh Islam.
Mereka berperan sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Arti Kata Walisongo

Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo, antara lain:

  • Arti dalam bahasa Jawa, Walisongo adalah Sembilan wali, dengan jumlah wali yang ada adalah Sembilan orang
  • Arti dalam bahasa Arab, bahwa kata songo/sanga berasal dari kata “tsana”yang dalam bahasa Arab berarti “Mulia”.
Mereka yang terdiri dari orang-orang keturunan Arab ini ingin merubah  beragam bentuk manifestasi nilai-nilai peradaban masyarakat Jawa, seperti; mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.
1.Sunan GresikDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 21
Tempat Kelahiran:Samarkand, Asia Tengah / Turki / Arab Saudi / Gujarat (India) / Campa
(Kamboja)
*
Tahun Kelahiran:(L) 1350-an M – (M) 8 April 1419 M*
Nama Lahir / Nama Alias:Maulana Malik Ibrahim / Sunan Tandhes / Mursyid
Orang Tua:Jumadil Kubro +*
Berdakwah:Pendidikan Agama
Karya:
Segmen Penyebaran Agama:Golongan masyarakat Pulau Jawa yang tersisihkan, pada akhir kekuasaan Majapahit
Wilayah Penyebaran Agama:Sekitar Gresik
Lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Ia dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Pulau Jawa.

Berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara, dan membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik.

Anak dari dari Maulana Jumadil Kubro (Keturunan ke 10 dari Husein / Cucu Nabi Muhammad SAW)
Memiliki, 3 isteri;
  1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak; Maulana Moqfaroh, dan Syarifah Saroh
  2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak; Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad
  3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak; Abbas, dan Yusu
2.Sunan AmpelDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 22
Tempat Kelahiran:Champa (Kamboja)
Tahun Kelahiran:(L) 1401 M – (M) 1481 M
Nama Lahir / Nama Alias:Bong Swi Hoo / Raden Rahmat*
Orang Tua:Ibrahim Zainuddin Al-Akbar + Dewi Condro Wulan
Berdakwah:Dunia Pendidikan Agama
Karya:Perancang Mesjid Demak
Segmen Penyebaran Agama:Masyarakat Umum
Wilayah Penyebaran:Ampel Surabaya
Nama lahirnya adalah Bong Swi Hoo, yang kemudian diberi gelar Sunan Ampel lahir di Champa (Kamboja) 1401 M, adalah anak dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dengan Dewi Condro Wulan binti Raja Champa keturunan terakhir dari Dinasti Ming.

Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa.

Menggalakan kembali istilah Molimo (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon), 2 Orang muridnya yang sangat terkenal yaitu mbah Sholeh (Penjaga Masjid Ampel) dan mbah Bolong (Melubangi pengimaman untuk melihat ka’bah/arah kiblat dalam pembangunan Masjid Ampel)

Makam Sunan Ampel teletak tepat di belakang Masjid Ampel, Surabaya

Hew Wai Weng, dalam bukunya "Berislam ala Tionghoa" mengungkapkan Sunan Ampel merupakan keturunan Tionghoa.

3.Sunan GiriDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 23
Tempat Kelahiran:Blambangan (Banyuwangi)
Tahun Kelahiran:(L) 1442 / 1443 M – (M) 1506 M*
Nama Lahir / Nama Alias:Raden Paku / R. Ainul Yakin / Jaka Samudra
Orang Tua:Maulana Ishaq + Dewi Sekardadu
Berdakwah:Dengan Kesenian
Menggubah:Mainan Cublak-cublak Suweng
Segmen Penyebaran Agama:Kaum Priyayi
Wilayah Penyebaran:Di luar jawa; Madura, Bawean, Nusa, Tenggara, Maluku
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu (Putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan).

Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel, yang juga seperguruan dengan Sunan Bonang.

Mendirikan pemerintahan di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya menjadi pusat Dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia Timur, sampai ke kepulauan Maluku. 
Salah satu keturunannya yang terkenal adalah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.

Sunan Giri lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada tahun Saka Candra Sengkala “Jalmo Orek Werdaning Ratu” (1365 Saka / 1442 M), dan wafat tahun Saka Candra Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” (1428 Saka) di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa

4.Sunan Gunung JatiDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 23
Tempat Kelahiran:Palestina
Tahun Kelahiran:(L) 1448/1450 M – (M) 1568/1569 M*
Nama Lahir / Nama Alias:Syarief Hidayatulloh / Syech Maulana Jati / Syekh Maulana Akbar
Orang Tua:Syarif Abdullah Umdatuddin + Nyai Rara Santang
Berdakwah:Pendidikan Agama
Karya:Kesultanan Banten
Segmen Penyebaran Agama:Masyarakat Umum
Wilayah Penyebarang:Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon

Sunan Gunung Jati putra dari Syarif Abdullah dengan Nyai Rara Santang (Putri Prabu Siliwangi). 
Versi 1 
Sunan Gunung Jati adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin (Seorang Mesir - Keturunan ke-17 Nabi Muhammad) 
Versi 2
Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar (Musafir dari Gujarat, India yang hijrah ke Tanah Jawa), 
Versi 1
Keturunan Nabi Muhammad ke 18
Versi 2
Keturunan Nabi Muhammad ke 23
Makam terletak di Gunung Sembung, Desa Astana, Kec. Gunung Jati, Kab. Cirebon, Jawa Barat

Ibunda Syech Syarief Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang, setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Muda’im.

Syech Syarief Hidayatullah dengan didukung uwanya, Tumenggung Cerbon Sri Manggana Cakrabuana alias Pangeran Walangsungsang dan didukung Kerajaan Demak, dinobatkan menjadi Raja Cerbon dengan gelar “Maulana Jati” pada tahun 1479.Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan, dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

Perjalanan jauh yang ditempuh Sunan Gunung Jati dari Mesir menuju Pulau jawa, dimana selama perjalanannya ia melakukan dakwah menyebarkan agama islam diwilayah-wilayah yang di singgahinya termasuk di China.

Sunan Gunung Jati diriwatkan, memiliki 6 istri:
  • Ong Tien Nio (Laras Sumanding) putri dari Kaisar Hong Gie, dikaruniai seorang anak "Pangeran Kuningan" tetapi tidak pernah dirawat oleh sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien, melainkan diadopsi dan dirawat Ki Gede Lurung Agung salah satu murid Sunan, hingga meninggal pada usia belum genap 1 tahun.
  • Nyai Ratu Kawunganten, putri bupati Kawunganten Banten, dikaruniai 2 orang anak; Nyai Ratu Winahon dan Maulana Hasanudin, yang kemudian menjadi Sultan Banten. Hubungan dengan Demak terjalin karena Maulana Hasanuddin sendiri, menikahi salah seorang putri Sultan Trenggono, raja Demak ketiga.
  • Nyai Babadan, anak Ki Gedeng Babadan, dikaruniai 2 orang anak; Pangeran Trusmi dan Ratu Martasari.
  • Nyai Ratu Dewi Pakungwati, putri pamannya, Pangeran Cakrabuwana, tidak dikaruniai keturunan, sang istri wafat ketika dalam peristiwa terbakarnya Masjid Agung Sang Ciptarasa.
  • Nyai Ageng Tepasari. Putri Ki Ageng Tepasan (salah seorang pembesar Majapahit yang sudah menjadi keluarga Demak setelah Majapahit runtuh), dikaruniai 2 orang anak; Ratu Wulung Ayu dan Pangeran Pasarean. Dari pernikahannya inilah konon awal dari hubungan kekeluargaan antara Demak dan Cirebon mulai terjalin.  Dan hubungan makin terjalin erat dengan Demak, karena Ratu Wulung Ayu pun menikah dengan Pati Unus, yang kemudian menjadi raja Demak kedua menggantikan ayahnya, Raden Patah YTPHN.
  • Nyai Lara Baghdad, putri Maulana Abdullrahman Al-Baghdadi, dikaruniai 2 orang anak; Pangeran Jayakelana (Putra Pertama), menikah dengan keluarga Demak juga, putri Raden Patah yang bernama Ratu Pembayun. Putra kedua, Pangeran Bratakelana, menikah dengan anak Raden Patah yang lain, yakni Ratu Nyawa. Yang setelah kematiannya dalam pertarungan melawan bajak laut sepulang dari Demak, kemudian diperistri oleh saudara tirinya, Pangeran Pasarean.
Syech Maulana Jati wafat pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah / 1568 M / 1491 Saka, tanggal Jawanya adalah 11 Krisnapaksa bulan Badramasa.

5.Sunan KalijagaDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 24
Tempat Kelahiran:Tuban
Tahun Kelahiran:(L) 1460 M – (M) 1580 M*
Nama Lahir / Nama Alias:Joko Said / Raden Mas Said / Lokajaya / Syekh Malaya / Pangeran Tuban / Raden Abdurrahman
Orang Tua:
Berdakwah:Kesenian (Wayang Kulit) & Kebudayaan
Menggubah:Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul
Segmen Penyebaran Agama:
Wialyah Penyebaran:Jawa Tengah
Versi 1 : Sunan Kalijaga adalah Putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Menurut Van Den Berg, Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Nabi Muhammad.

Versi 2 : Dari versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Murid Sunan Bonang, yang dianugerahi umur panjang.

Versi 3 : Sunan Kalijaga keturunan Arab, dan namanya berasal dari bahasa Arab : Qodli Zaka, yang berarti penghulu.

Versi 4 : Keturunan Tionghoa, dengan nama kecil Said dari sa-it (sa = 3, dan it = 1; yakni 31) sebagai pengingat, bahwa saat ia lahir, ayahnya berusia 31 tahun. Saat menjadi sunan, ia memiliki nama Tionghoa; Gan Si Cang, anak Gan Eng Cu alias Arya Teja, kapten Tionghoa yang berkedudukan di Tuban. Arya Teja adalah mertua dari Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel alias Raden Rachmat

Sebelum menjadi Walisongo, ia adalah mantan perampok spesialis gudang hasil bumi, yang mana hasil rampokan tersebut kemudian ia bagikan kepada orang-orang miskin.

Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian Wayang Kulit dan Tembang Suluk. Tembang suluk lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya diakuinya sebagai hasil karyanya.

Sunan Kalijaga diriwayatkan;
- Menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq
- Menikah dengan Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar
- Menikah dengan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri
Dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara), yang hingga sekarang masih ramai diziarahi orang

6.Sunan BonangDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 23
Tempat Kelahiran:Bonang
Tahun Kelahiran:(L) 1465 M – (M) 1525 M
Nama Lahir / Nama Alias:Bong Ang / Maulana Makhdum Ibrahim / Raden Makdum Ibrahim
Orang Tua:Sunan Ampel + Nyai Ageng Manila
Berdakwah:Menggunakan Kesenian Setempat
Karya Lagu:Suluk Wijil & tembang Tombo Ati
Karya Alat Musik:Rebab & Bonang
Segmen Penyebaran Agama:Masyarakat Umum
Wilayah Penyebaran:Tuban, Lasem, dan Rembang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, (Putri Adipati Tuban bernama Arya Teja).

Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Bonang akhirnya menjadi nama sebuah desa di kabupaten Rembang.

Berdakwah memanfaatkan kesenian setempat yang direkayasanya, untuk menarik penduduk Pulau Jawa agar memeluk agama Islam.
Merekayasa Rebab dan Bonang (alat music ciptaannya) masuk pada gamelan Jawa.

Ikhwal Makam Sunan Bonang ada di dua lokasi, dikarenakan;
Muridnya dari Madura yang sangat mengaguminya, mendengar kabar bahwaSunan Bonang wafat.Hal inilah membuat keinginan murid tersebut, untuk membawa jenazah beliau ke Madura.Namun, murid tersebut tidak dapat membawa jasad Sunan Bonang, dan hanya dapat membawa kain kafan, serta pakaian-pakaian beliau.

Saat melewati Tuban, seorang murid asal Tuban yang juga mengaggumi Sunan Bonang, mendengar bahwa ada murid Sunan Bonang dari Madura yang membawa Jenazah Sunan Bonang, mencoba untuk 
merebutnya.

Makam asli Sunan Bonang yang sebenarnya ada di Desa Bonang. Tepatnya di Lasem kota kecamatan yang terletak 12 km timur Rembang di pantura timur Jawa Tengah.

Namun, hingga saat ini yang sering diziarahi adalah makamnya yang berada di kota Tuban.

Bong Swi Hoo berasal dari Yunnan sebagai cucu penguasa tinggi di Campa, Bong Tak Keng. Bong Swi Hoo datang ke Jawa tanpa istri pada tahun 1447.

Bong Swi Hoo dan Ni Gede Manila (Anak perempuan Gan Eng Cu, seorang kapten Tionghoa yang berkedudukan di Tuban) mempunyai anak bernama Bong Ang alias Sunan Bonang.

Sunan Ngampel dan Sunan Bonang juga mempunyai keterkaitan dengan Jin Bun (Raden Patah)

Hew Wai Weng, dalam bukunya "Berislam ala Tionghoa" mengungkapkan Sunan Bonang merupakan keturunan Tionghoa.

7.Sunan DrajatDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 23
Tempat Kelahiran:Ampel
Tahun Kelahiran:(L) 9 Sept 1470 M – (M) 1522 M
Nama Lahir / Nama Alias:Raden Qasim / Masih Munat/ Raden Syarifudin / Sunan Mayang Madu
Orang Tua:Sunan Ampel + Nyai Ageng Manila
Berdakwah:Kegiatan Sosial dan Kesenian
Menggubah:Tembang macapat Pangkur
Segmen Penyebaran Agama:Wong Cilik
Wilayah Penyebaran:Di Sekitar Surabaya
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, (Putri Adipati Tuban bernama Arya Teja).
Diberi gelar “Sunan Mayang Madu” oleh Raden Patah YTPHN pada tahun 1442 Saka / 1520 M

Menekankan Kedermawanan, Kerja Keras, dan Peningkatan Kemakmuran Masyarakat, dengan memelopori penyantunan anak-anak yatim, dan orang sakit

Menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur, yang mana tempat ini pemberian dari kerajaan Demak

Tembang macapat Pangkur sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan.

Meninggal di Sedayu Gresik, dan dimakamkan ada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur.

Hew Wai Weng, dalam bukunya "Berislam ala Tionghoa" mengungkapkan Sunan Drajat merupakan keturunan Tionghoa.

8.Sunan MuriaDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 25
Tempat Kelahiran:Campa (Kamboja)
Tahun Kelahiran:(L) 1450an M – (M) …. M*
Nama Lahir / Nama Alias:Umar Said / Raden Umar Said
Orang Tua:Sunan Kalijaga + Dewi Saroh
Berdakwah:Dunia Pendidikan dan Budaya
Menggubah:Sinom dan Kinanti
Segmen Penyebaran Agama:Masyarakat Kampung Pelosok
Wilayah Penyebaran:Lereng Gunung Muria, Jawa Tengah
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Saroh binti Maulana Ishaq (Adik Sunan Giri). 
Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus.
Nama Sunan Muria diduga berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia dimakamkan.
Makam Sunan Muria dipercaya terdapat di puncak Gunung Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Persisnya di bangunan tua yang tepat berada di belakang Mihrab Masjid peninggalan Sunan Muria.

Hew Wai Weng, dalam bukunya "Berislam ala Tionghoa" mengungkapkan Sunan Muria merupakan keturunan Tionghoa.

9.Sunan KudusDeskripsiCatatan
Saudara dengan Nabi Muhammad:Silsilah ke 24
Tempat Kelahiran:Al-Quds Palestina
Tahun Kelahiran:(L) 1500-an M – (M) 1550 M*
Nama Lahir / Nama Alias:Jaafar As-Sadiq / Ja’far Shodiq / Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan
Orang Tua:Sunan Ngudung + Nyai Ageng
Berdakwah:Menggunakan Kesenian
Karya:Menara Kudus gaya Hindu & Islam
Segmen Penyebaran Agama:Kalangan Penguasa & Priyayi Jawa
Wilayah Penyebaran:Kudus, Jawa Tengah
Sunan Kudus (Cucu Sunan Ampel) adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil (Adik Sunan Bonang) atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel.

Sunan Kudus lahir di Al-Quds Palestina. Kemudian bersama kakek, ayah dan kerabatnya berhijrah ke Tanah Jawa.

Memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yakni sebagai “Panglima Perang, Penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan Hakim Peradilan Negara”.

Berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. 
Muridnya, antara lain: Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan.

Salah satu peninggalannya yang terkenal adalah Mesjid Menara Kudus, dengan arsitektur bergaya campuran Hindu dan Islam.
Makamnya terletak di Kudus

Sumber : Dari berbagai Sumber


Beberapa Catatan

-* Banyaknya versi dari berbagai sumber, membuat kami mencamtumkan semua informasi yang kami dapat, sambil mencari lebih dalam lagi keakurasiannya.
-Urutan Sunan kami urutkan berdasarkan tahun kelahiran atau perkiraan tahun kelahiran.
-Percampuran perkawinan orang-orang Arab dengan Timur Tengah lainnya, orang-orang Arab dengan orang-orang Asia termasuk China, dan terakhir perkawinan orang-orang Arab dengan orang-orang Indonesia, menghasilkan Sunan-sunan yang kita kenal sekarang ini.
-Namun demikian, ada benang merah asal usul Sunan-sunan tersebut, karena mereka adalah orang-orang Arab yang berasal dari kaum Sayyid atau Syarif, yang masih kerabat dekat atau saudara dari Nabi Muhammad SAW.
-Sedikit keterangan tambahan, bahwa Sunan-sunan yang ada bukanlah keturunan Nabi Muhammad. Hal ini mengingat;
1.Nabi Muhammad tidak memiliki Anak Laki-laki, yang hidup hingga dewasa, dan menikah (Jadi atas dasar Patrilinial yang dianut bangsa Arab), tidak ada yang berhak mengatakan "bin" dari Nabi Muhammad, alias tidak ada yang bisa mengakui, membawa nama Nabi Muhammad.
2.Bangsa Arab menganut Patrilineal (Alur Keturunan berasal dari Pihak Ayah)
3.Anak Paman atau Keponakan dalam Patrilineal sudah tidak dapat lagi disebut sebagai Keturunan (Turunan). Kesimpulannya : Habib bukan Keturunan Nabi Muhammad....

(SSM)
Sumber : Dari Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Kanjuruhan - antara 500 M dan 599 M

Malang (PerpustakaanTanahImpian) - Kanjuruhan adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang. Kanjuruhan diduga telah berdiri pada abad ke-6 Masehi (masih sezaman dengan Kerajaan Taruma di sekitar Bekasi dan Bogor sekarang). Bukti tertulis mengenai kerajaan ini adalah Prasasti Dinoyo. Rajanya yang terkenal adalah Gajayana. Peninggalan lainnya adalah Candi Badut dan Candi Wurung.

Latar belakang
Jaman dahulu, ketika Pulau Jawa diperintah oleh raja-raja yang tersebar di daerah-daerah. Raja Purnawarman memerintah di Kerajaan Tarumanegara; Maharani Shima memerintah di Kerajaan Kalingga (atau "Holing"); dan Raja Sanjaya memerintah di Kerajaan Mataram Kuno. Di Jawa Timur terdapat pula sebuah kerajaan yang aman dan makmur. Kerajaan itu berada di daerah Malang sekarang, di antara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede Kecamatan Lowokwaru . Kerajaan itu bernama Kanjuruhan.
Bagaimana Kerajaan Kanjuruhan itu bisa berada dan berdiri di lembah antara Sungai Brantas dan Kali Metro di lereng sebelah timur Gunung Kawi, yang jauh dari jalur perdagangan pantai atau laut? Kita tentunya ingat bahwa pedalaman Pulau Jawa terkenal dengan daerah agraris, dan di daerah agraris semacam itulah muncul pusat-pusat aktivitas kelompok masyarakat yang berkembang menjadi pusat pemerintahan. Rupa-rupanya sejak awal abad masehi, agama Hindu dan Budha yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia bagian barat dan tengah, pada sekitar abad ke VI dan VII M sampai pula di daerah pedalaman Jawa bagian timur, antara lain Malang. Karena Malang-lah kita mendapati bukti-bukti tertua tentang adanya aktivitas pemerintahan kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa bagian timur.

Bukti itu adalah prasasti Dinoyo yang ditulis pada tahun Saka 682 (atau kalau dijadikan tahun masehi ditambah 78 tahun, sehingga bertepatan dengan tahun 760 M). Disebutkan seorang raja yang bernama Dewa Singha, memerintah keratonnya yang amat besar yang disucikan oleh api Sang Siwa. Raja Dewa Singha mempunyai putra bernama Liswa, yang setelah memerintah menggantikan ayahnya menjadi raja bergelar Gajayana. Pada masa pemerintahan Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan berkembang pesat, baik pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya. Dengan sekalian para pembesar negeri dan segenap rakyatnya, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memuliakan Resi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Resi Agastya yang dibuat dari kayu oleh nenek Raja Gajayana.

Dibawah pemerintahan Raja Gajayana, rakyat merasa aman dan terlindungi. Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin. Tidak ada peperangan. Jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan demikian rakyat hidup aman, tenteram, dan terhindar dari malapetaka.

Raja Gajayana hanya mempunyai seorang putri, yang oleh ayahnya diberi nama Uttejana. Seorang putri kerajaan pewaris tahta Kerajaan Kanjuruhan. Ketika dewasa, ia dijodohkan dengan seorang pangeran dari Paradeh bernama Pangeran Jananiya. Akhirnya Pangeran Jananiya bersama Permaisuri Uttejana, memerintah kerajaan warisan ayahnya ketika sang Raja Gajayana mangkat. Seperti leluhur-leluhurnya, mereka berdua memerintah dengan penuh keadilan. Rakyat Kanjuruhan semakin mencintai rajanya Demikianlah, secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh raja-raja keturunan Raja Dewa Singha. Semua raja itu terkenal akan kebijaksanaannya, keadilan, serta kemurahan hatinya.

Pada sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu. Raja ini terkenal adil dan bijaksana. Dibawah pemerintahannyalah Kerajaan Mataram berkembang pesat, kekuasaannya sangat besar. Ia disegani oleh raja-raja lain diseluruh Pulau Jawa. Keinginan untuk memperluas wilayah Kerajaan Mataram Kuna selalu terlaksana, baik melalui penaklukan maupun persahabatan. Kerajaan Mataram Kuna terkenal di seluruh Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Wilayahnya luas, kekuasaannya besar, tentaranya kuat, dan penduduknya sangat banyak.

Perluasan Kerajaan Mataram Kuna itu sampai pula ke Pulau Jawa bagian timur. Tidak ada bukti atau tanda bahwa terjadi penaklukan dengan peperangan antara Kerajaan Mataram Kuna dengan Kerajaan Kanjuruhan. Ketika Kerajaan Mataram Kuna diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, raja Kerajaan Kanjuruhan menyumbangkan sebuah bangunan candi perwara (pengiring) di komplek Candi Prambanan yang dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan tahun 856 M (dulu bernama “Siwa Greha”). Candi pengiring (perwara) itu ditempatkan pada deretan sebelah timur, tepatnya di sudut tenggara. Kegiatan pembangunan semacam itu merupakan suatu kebiasaan bagi raja-raja daerah kepada pemerintah pusat. Maksudnya agar hubungan kerajaan pusat dan kerajaan di daerah selalu terjalin dan bertambah erat.

Kerajaan Kanjuruhan saat itu praktis dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuna. Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintahan pusat. Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuna zaman Raja Balitung, raja Kerajaan Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri rupa-rupanya perubahan bunyi dari Kanjuruhan. Karena sebagai raja daerah, maka kekuasaan seorang raja daerah tidak seluas ketika menjadi kerajaan yang berdiri sendiri seperti ketika didirikan oleh nenek moyangnya dulu. Kekuasaaan raja daerah di Kanuruhan dapat diketahui waktu itu adalah daerah lereng timur Gunung Kawi.

Kekuasaan Rakryan Kanjuruhan
Daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan watak Kanuruhan. Watak adalah suatu wilayah yang luas, yang membawahi berpuluh-puluh wanua (desa). Jadi mungkin daerah watak itu dapat ditentukan hampir sama setingkat kabupaten. Dengan demikian Watak Kanuruhan membawahi wanua-wanua (desa-desa) yang terhampar seluas lereng sebelah timur Gunung Kawi sampai lereng barat Pegunungan Tengger-Semeru ke selatan hingga pantai selatan Pulau Jawa.

Dari sekian data nama-nama desa (wanua) yang berada di wilayah (watak) Kanuruhan menurut sumber tertulis berupa prasasti yang ditemukan disekitar Malang adalah sebagai berikut :
    daerah Balingawan (sekarang Desa Mangliawan Kecamatan Pakis),
    daerah Turryan (sekarang Desa Turen Kecamatan Turen),
    daerah Tugaran (sekarang Dukuh Tegaron Kelurahan Lesanpuro),
    daerah Kabalon (sekarang Dukuh Kabalon Cemarakandang),
    daerah Panawijyan (sekarang Kelurahan Palowijen Kecamatan Blimbing),
    daerah Bunulrejo (yang dulu bukan bernama Desa Bunulrejo pada zaman Kerajaan Kanuruhan), dan daerah-daerah di sekitar Malang barat seperti : Wurandungan (sekarang Dukuh Kelandungan – Landungsari), Karuman, Merjosari, Dinoyo, Ketawanggede, yang di dalam beberapa prasasti disebut-sebut sebagai daerah tempat gugusan kahyangan (bangunan candi) di dalam wilayah/kota Kanuruhan.

Demikianlah daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Rakryan Kanuruhan. Dapat dikatakan mulai dari daerah Landungsari (barat), Palowijen (utara), Pakis (timur), Turen (selatan). Keistimewaan pejabat Rakryan Kanuruhan ini disamping berkuasa di daerahnya sendiri, juga menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno sejak zaman Raja Balitung, yaitu sebagai pejabat yang mengurusi urusan administrasi kerajaan. Jabatan ini berlangsung sampai zaman Kerajaan Majapahit. Begitulah sekilas tentang Rakryan Kanuruhan. Penguasa di daerah tetapi dapat berperan di dalam struktur pemerintahan kerajaan pusat, yang tidak pernah dilakukan oleh pejabat (Rakyan) yang lainnya, dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno di masa lampau.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kanjuruhan

Kalingga - antara 500 M dan 599 M

Semarang (PerpustakaanTanahImpian) - Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang.

Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Catatan dari sumber lokal
Kisah lokal
Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya, dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman dipotong kakinya.

Carita Parahyangan
Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Setelah Maharani Shima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Berita Cina
Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

Catatan dari zaman Dinasti Tang
Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.

    Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
    Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
    Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
    Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa
    Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Catatan I-Tsing
Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Cina. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

Prasasti
Prasasti peninggalan Kerajaan Ho-ling adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

Sementara di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ditemukan Prasasti Sojomerto. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.

Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.

Referensi
    ^ Drs. R. Soekmono, (1973 edisi cetak ulang ke-5 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed.. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 37.
    ^ Munoz, Paul Michel (21 Oktober 2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hlm. pages 171. ISBN 981-4155-67-5.
    ^ IPS Terpadu Kelas VII SMP/MTs, Penerbit Galaxy Puspa Mega:Tim IPS SMP/MTs.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kalingga
Foto : Istimewa

Kerajaan Sunda (669-1579 M)

Pandeglang (PerpustakaanTanahImpian) - Dari naskah Wangsakerta, tergambarkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan Kerajaan Tarumanegara.

Pada tahun 591 Caka Sunda atau 669 M, Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa 

Wilayah kerajaan ini jika dikonversikan pada saat ini adalah mencakup Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah.

Adapun Ibukota Kerjaan Sunda, berpindah-pindah dari Pakuan Pajajaran, dan Kawali (Galuh), hingga pernah pindah ke Saunggalah (Kuningan)

Sumber : Dari berbagai sumber
Foto : Istimewa

Sejarah nama Nusantara

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Majapahit. Setelah sempat terlupakan, pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif untuk negara merdeka pelanjut Hindia-Belanda yang belum terwujud.

Ketika penggunaan nama "Indonesia" (berarti Kepulauan Hindia) disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Pengertian ini sampai sekarang dipakai di Indonesia. Akibat perkembangan politik selanjutnya, istilah ini kemudian dipakai pula untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup Filipina. Dalam pengertian terakhir ini, Nusantara merupakan padanan bagi Kepulauan Melayu (Malay Archipelago), suatu istilah yang populer pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, terutama dalam literatur berbahasa Inggris. 

Nusantara dalam konsep kenegaraan Jawa Majapahit
Dalam konsep kenegaraan Jawa di abad ke-13 hingga ke-15, raja adalah "Raja-Dewa": raja yang memerintah adalah juga penjelmaan dewa. Karena itu, daerah kekuasaannya memancarkan konsep kekuasaan seorang dewa. Kerajaan Majapahit dapat dipakai sebagai teladan. Negara dibagi menjadi tiga bagian wilayah:

Negara Agung merupakan daerah sekeliling ibu kota kerajaan tempat raja memerintah.Mancanegara adalah daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitar yang budayanya masih mirip dengan Negara Agung, tetapi sudah berada di "daerah perbatasan". Dilihat dari sudut pandang ini, Madura dan Bali adalah daerah "mancanegara". Lampung dan juga Palembang juga dianggap daerah "mancanegara".
Nusantara, yang berarti "pulau lain" (di luar Jawa) adalah daerah di luar pengaruh budaya Jawa tetapi masih diklaim sebagai daerah taklukan: para penguasanya harus membayar upeti.

Gajah Mada menyatakan dalam Sumpah Palapa: Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.

Terjemahannya adalah: "Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan pulau-pulau lain, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Kitab Negarakertagama mencantumkan wilayah-wilayah "Nusantara", yang pada masa sekarang dapat dikatakan mencakup sebagian besar wilayah modern Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya, sebagian Kepulauan Maluku, dan Papua Barat) ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan sebagian kecil Filipina bagian selatan. Secara morfologi, kata ini adalah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna nusa ("pulau") dan antara (lain/seberang).

DwipantaraKini kebanyakan sejarawan Indonesia percaya bahwa konsep kesatuan Nusantara bukanlah pertama kali dicetuskan oleh Gajah Mada dalam Sumpah Palapa pada tahun 1336, melainkan dicetuskan lebih dari setengah abad lebih awal oleh Kertanegara pada tahun 1275. Sebelumnya dikenal konsep Cakrawala Mandala Dwipantara yang dicetuskan oleh Kertanegara, raja Singhasari. Dwipantara adalah kata dalam bahasa Sanskerta untuk "kepulauan antara", yang maknanya sama persis dengan Nusantara, karena "dwipa" adalah sinonim "nusa" yang bermakna "pulau". Kertanegara memiliki wawasan suatu persatuan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara di bawah kewibawaan Singhasari dalam menghadapi kemungkinan ancaman serangan Mongol yang membangun Dinasti Yuan di Tiongkok. Karena alasan itulah Kertanegara meluncurkan Ekspedisi Pamalayu untuk menjalin persatuan dan persekutuan politik dengan kerajaan Malayu Dharmasraya di Jambi. Pada awalnya ekspedisi ini dianggap penaklukan militer, akan tetapi belakangan ini diduga ekspedisi ini lebih bersifat upaya diplomatik berupa unjuk kekuatan dan kewibawaan untuk menjalin persahabatan dan persekutuan dengan kerajaan Malayu Dharmasraya. Buktinya adalah Kertanegara justru mempersembahkan Arca Amoghapasa sebagai hadiah untuk menyenangkan hati penguasa dan rakyat Malayu. Sebagai balasannya raja Melayu mengirimkan putrinya; Dara Jingga dan Dara Petak ke Jawa untuk dinikahkan dengan penguasa Jawa.

Penggunaan modern
Pada tahun 1920-an, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan nama "Nusantara" untuk menyebut wilayah Hindia Belanda. Nama ini dipakai sebagai salah satu alternatif karena tidak memiliki unsur bahasa asing ("India"). Alasan ini dikemukakan karena Belanda, sebagai penjajah, lebih suka menggunakan istilah Indie ("Hindia"), yang menimbulkan banyak kerancuan dengan literatur berbahasa lain. Definisi ini jelas berbeda dari definisi pada abad ke-14. Pada tahap pengusulan ini, istilah itu "bersaing" dengan alternatif lainnya, seperti "Indonesië" (Indonesia) dan "Insulinde" (berarti "Hindia Kepulauan"). Istilah yang terakhir ini diperkenalkan oleh Eduard Douwes Dekker.[1]

Ketika akhirnya "Indonesia" ditetapkan sebagai nama kebangsaan bagi negara independen pelanjut Hindia-Belanda pada Kongres Pemuda II (1928), istilah Nusantara tidak serta-merta surut penggunaannya. Di Indonesia, ia dipakai sebagai sinonim bagi "Indonesia", baik dalam pengertian antropo-geografik (beberapa iklan menggunakan makna ini) maupun politik (misalnya dalam konsep Wawasan Nusantara).

"Nusantara" dan "Kepulauan Melayu"
Literatur-literatur Eropa berbahasa Inggris (lalu diikuti oleh literatur bahasa lain, kecuali Belanda) pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 menyebut wilayah kepulauan mulai dari Sumatera hingga Kepulauan Rempah-rempah (Maluku) sebagai Malay Archipelago ("Kepulauan Melayu"). Istilah ini populer sebagai nama geografis setelah Alfred Russel Wallace menggunakan istilah ini untuk karya monumentalnya. Pulau Papua (New Guinea) dan sekitarnya tidak dimasukkan dalam konsep "Malay Archipelago" karena penduduk aslinya tidak dihuni oleh cabang ras Mongoloid sebagaimana Kepulauan Melayu dan secara kultural juga berbeda. Jelas bahwa konsep "Kepulauan Melayu bersifat antropogeografis (geografi budaya). Belanda, sebagai pemilik koloni terbesar, lebih suka menggunakan istilah "Kepulauan Hindia Timur" (Oost-Indische Archipel) atau tanpa embel-embel timur.

Ketika "Nusantara" yang dipopulerkan kembali tidak dipakai sebagai nama politis sebagai nama suatu bangsa baru, istilah ini tetap dipakai oleh orang Indonesia untuk mengacu pada wilayah Indonesia. Dinamika politik menjelang berakhirnya Perang Pasifik (berakhir 1945) memunculkan wacana wilayah Indonesia Raya yang juga mencakup Britania Malaya (kini Malaysia Barat) dan Kalimantan Utara. Istilah "Nusantara" pun menjadi populer di kalangan warga Semenanjung Malaya, berikut semangat kesamaan latar belakang asal-usul (Melayu) di antara penghuni Kepulauan dan Semenanjung.

Pada waktu negara Malaysia (1957) berdiri, semangat kebersamaan di bawah istilah "Nusantara" tergantikan di Indonesia dengan permusuhan yang dibalut politik Konfrontasi oleh Soekarno. Ketika permusuhan berakhir, pengertian Nusantara di Malaysia tetap membawa semangat kesamaan rumpun. Sejak itu, pengertian "Nusantara" bertumpang tindih dengan "Kepulauan Melayu".

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara


Foto : Istimewa

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen