Jendela Nusantara

Sabdo Palon & Naya Genggong Nagih Janji

KEMENYAN dan MUR

Para Pedagang Kemenyan dari Arab pergi ke arah Timur (Nusantara)
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kemenyan dalam Alkitab Perjanjian Lama (PL) diterjemahkan dari kata Ibrani לבונה - LEBONAH / LEVONAH (leksikon Ibrani : frankincense, a) a white resin burned as fragrant incense, 1) ceremonially, 2) personally, 3) used in compounding the holy incense) akar kata לבן - LABAN (leksikon Ibrani: White). 

Mur atau Myrrh
Kata ini juga berhubungan dengan sebuah daerah yang bernama Lebanon (Ibrani, לבנון - LEBANON, Leksikon : Lebanon = "whiteness", a wooded mountain range on the northern border of Israel)

Sumber : http://kemenyansumatra.blogspot.com

Foto : Istimewa

#kembalikekearifanlokal
#sadarsejarahnusantara
#perpustakaantanahimpian

Kemenyan, Getah Magis yang Dulu Senilai Emas

Jangan heran jika Anda ke rumah orang Arab di Arab Saudi, berbau kemenyan
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur.

Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem.

Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Nabi Isa.

Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat dengan kehidupan orang Tapanuli.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat menyejahterakan masyarakat Tapanuli. Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. “Nenek saya pedagang kemenyan,” tuturnya.

Ia tahu persis, pada tahun 1936 neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16 kilogram) beras.

Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli. Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

Washington Situmorang (70), petani di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, mengutarakan, pada tahun 1960-an harga kemenyan benar-benar sama dengan emas. Harga itu pelan-pelan surut. Sekitar tahun 1980-an harga kemenyan terus merosot hingga hanya separuh, bahkan sepertiga harga satu gram emas.

Menurut Thomson Silaban, staf bidang rehabilitasi hutan Dinas Pertambangan dan Kehutanan Kabupaten Humbang Hasundutan, jika sebelum tahun 1980 kemenyan mampu menyumbang 60 persen ekonomi rumah tangga, kini turun menjadi sekitar 20 persen.

Kemenyan (Stryrax sp) yang termasuk famili Stryraccaceae dari ordo Ebeneles diusahakan oleh rakyat Sumatera Utara di tujuh kabupaten, terutama di Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, dan Toba Samosir. Tanaman ini juga dikembangkan di Dairi, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah meski tidak terlalu banyak. Sedangkan penghasil kemenyan terbesar masih di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.

Di Tapanuli Utara, kemenyan menjadi komoditas andalan daerah di bawah kopi dan karet. Dari 56.003 keluarga di kabupaten itu, 30.446 keluarga atau lebih dari 54 persen menjadikan kemenyan sebagai sumber penghasilan. Di Humbang Hasundutan bahkan sekitar 65 persen keluarga (33.702) hidup dari pohon kemenyan. Komoditas ini menduduki posisi kedua di bawah kopi.

Dinas Perkebunan Sumatera Utara memperkirakan, pada tahun 2005 luas tanaman kemenyan di Sumatera Utara mencapai 23.592,70 hektar dengan produksi 5.837,86 ton. Produktivitas getah 294,31 kilogram per hektar per tahun. Getah kemenyan mengandung asam sinamat sekitar 36,5 persen yang banyak digunakan untuk industri farmasi, kosmetik, rokok, obat-obatan, dan ritual keagamaan.

Bukan hanya untuk ritual

Sebelum agama Kristen masuk ke Tapanuli, kemenyan banyak digunakan masyarakat Batak untuk kegiatan ritual penyembahan alam. Selama ribuan tahun, kemenyan banyak digunakan dalam tradisi penghormatan kepada Sang Pencipta.

Asap pembakaran yang membubung tinggi menjadi representasi doa yang juga naik kepada Sang Pencipta. Dalam tradisi Katolik, misalnya, kemenyan digunakan dalam misa khusus, menjadi bagian dari serbuk ratus yang dibakar dalam arang membara yang menghasilkan asap harum.

Di tanah Jawa dan juga di banyak kebudayaan dunia, harum asap kemenyan dipercaya mampu mendatangkan roh tetapi juga untuk mengusir roh. Bau harumnya menimbulkan sensasi magis. Kemenyan juga menjadi serbuk campuran rokok yang kebanyakan diisap oleh masyarakat pedesaan dan berusia lanjut di Jawa Tengah.

Hanya Tapanuli dan sedikit di Sumatera Barat yang menjadi penghasil kemenyan di Indonesia. Sayangnya, meski komoditas ini sudah diperdagangkan ratusan tahun, tak ada inovasi dalam mengembangkan perkebunannya. Inovasi produk juga belum ada. Kebanyakan petani tak tahu jalur perdagangannya. Untuk apa dan siapa pengguna akhir kemenyan pun, mereka tidak tahu. Akibatnya, harga getah ini sangat mudah dipermainkan pedagang karena petani tak tahu standar harga dunia.

Tujuh macam

Kemenyan tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut, bersuhu antara 28-30 derajat Celsius di tanah podsolik merah kuning dan latosol. Keasaman tanah antara 5,5 hingga 6,5 dengan kemiringan tanah maksimal 25 derajat.

Tanaman tahunan ini mampu hidup hingga lebih dari 100 tahun. Ada 20 jenis pohon kemenyan, tetapi yang banyak tumbuh di Sumut adalah kemenyan jenis durame (Styrax Benzoine) dan kemenyan toba (Styrax Sumatrana). Kemenyan durame lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan jenis toba. Durame bisa disadap sejak umur 6-7 tahun dengan warna getah cenderung hitam, sedangkan toba baru disadap umur 10-13 tahun dengan jenis getah putih.

“Merawat pohon kemenyan itu seperti memperlakukan gadis. Gampang-gampang susah, harus banyak perhatian,” kata Washington Situmorang.

Berbeda dengan karet, penyadapan getah kemenyan tak perlu wadah. Getah dibiarkan keluar dari batang pohon, meleleh di kulit pohon.

Pada cukilan pertama, batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih yang baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan.

Getah putih yang disebut sidukabi atau mata zam-zam ini bernilai paling tinggi. Namun, kini harganya hanya sekitar Rp 60.000 hingga Rp 75.000 per kilogram di tingkat petani.

Bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut jalur atau jurur yang bisa dipanen dua-tiga bulan setelah memanen mata zam-zam. Setelah itu muncul getah ketiga yang disebut tahir. Harganya jauh lebih murah daripada harga mata, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Jika mata berwarna putih, warna tahir atau jurur semakin menghitam.

Getah-getah kemenyan itu bisa dikelompokkan sedikitnya dalam tujuh macam dari yang paling mahal hingga termurah, yakni mata kasar, kacang, jagung, besar, pasir kasar, pasir halus, hingga abu. Mata kasar bisa bernilai Rp 100.000 per kilogram di tingkat pengumpul, sedangkan abu atau gilingan halus kulit kemenyan seharga Rp 3.000 per kilogram.

Di tempat pengumpul, pemilahan kemenyan ini bak memilah emas dari pasir. Buruh-buruh perempuan dengan tekun memilah-milah butiran itu. Getah kemenyan yang umurnya tua biasanya memang berwarna kuning menyerupai emas.

Dalam satu pohon bisa terjadi banyak cukilan. Di Tarutung atau Doloksanggul cukup mudah menemukan tanaman ini. Asal terlihat tanaman yang batangnya penuh luka cukilan, bisa dipastikan itu tanaman kemenyan.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Humbahas Aslin Simamora yang juga anak petani kemenyan menyebutkan, ada ritual yang dulu dianut oleh moyangnya sebelum mengguris (menyadap) pohon kemenyan.

Petani perlu membuat kue itak gurgur, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Kue itu dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap.

Karena sejarah yang panjang itu, tak heran jika masyarakat marah saat PT Toba Pulp Lestari (TPL) menebangi pohon kemenyan rakyat yang berada di register 41 di perbatasan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Samosir akhir tahun lalu. DPRD Humbang Hasundutan sampai membentuk panitia khusus yang mendesak PT TPL melindungi kawasan tanaman kemenyan rakyat.

Sumber : (Aufrida Wismi Warastri) Harian Kompas
Disalin dari : www.silaban.ne

Foto : Istimewa

#kembalikekearifanlokal
#sadarsejarahnusantara

#perpustakaantanahimpian

Referensi Bahasa Nusantara

Sumber Foto
Judul Asli : Bahasa Daerah Terancam Punah
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - TEORI evolusi tentang seleksi alam yang menimpa makhluk hidup, kini mungkin terjadi pula pada bahasa. Terlepas dari kontroversi teori yang dikemukakan Charles Darwin (12 Februari 1809-19 April 1882) itu, sejumlah bahasa di dunia terancam punah. Kekhawatiran itu sudah menyeruak dengan mulai berkurang bahkan hilangnya penutur beberapa bahasa ibu atau bahasa daerah.

Dr. Gufran Ali Ibrahim, pakar sosiolinguistik dari Universitas Khairun Ternate, dalam makalahnya pada Kongres IX Bahasa Indonesia di Hotel Bumi Karsa Jakarta, 28 Oktober-1 November 2008 lalu menulis bahwa dalam buku Ethnologue: Languages of the World (Grimes: 2000), tercantum ada 6.809 bahasa di dunia. Dari jumlah itu, 330 bahasa memiliki penutur 1 juta orang atau lebih. Jumlah penutur yang besar ini berbanding terbalik dengan kira-kira 450 bahasa di dunia yang memiliki jumlah penutur sangat sedikit, telah berusia tua, dan cenderung bergerak menuju kepunahan. Pada saat yang sama, rata-rata jumlah penutur bahasa-bahasa di dunia hanya berkisar 6.000 orang atau lebih, hanya separuhnya memiliki penutur 6.000 orang atau lebih penutur, dan hanya separuhnya lagi memiliki penutur kurang dari 6.000 orang.

Menurut Gufran, secara garis besar ada dua faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab utama kepunahan bahasa daerah. Pertama, para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak mereka dan tidak lagi menggunakannya di rumah. Kedua, ini merupakan pilihan sebagian masyarakat untuk tidak menggunakan bahasa ibu dalam ranah komunikasi sehari-hari.

Kecenderungan punahnya bahasa terjadi di negara-negara berkembang dan miskin. Beberapa negara di antaranya memiliki populasi etnik tak lebih dari 5.000 orang, meskipun beberapa di antaranya memiliki jumlah populasi etnik yang cukup besar, seperti bahasa Lenca (36.858 orang) dan bahasa Pipil (196.576 orang) di El Salvador. Namun demikian, penutur aktif kedua bahasa ini hanya sekitar 20 orang. Jadi, bahasa-bahasa ini sesungguhnya telah terancam punah di antara populasi totalnya yang relatif banyak. Sebagian besar dari bahasa-bahasa yang terancam punah itu merupakan bahasa etnik minoritas terisolasi atau minoritas yang berada dalam wilayah yang memiliki begitu beragam bahasa dan budaya.
**
Di Indonesia, menurut Gufran, bahasa Ibu (penuturnya menyebut nama bahasa ini Ibo atau ”tuan tanah”) di Maluku Utara yang dalam catatan Voorhoeve dan Visser pada tahun 1987 berjumlah 35 penutur, tahun 2008 tinggal lima penutur dan berusia di atas 50 tahun-berada di satu wilayah masyarakat multibahasa yang perbatasan kebahasaannya hanya antardesa atau antarkampung yang berjarak tidak lebih dari 5 kilometer. Padahal, pada 1951 berdasarkan pemetaan Esser (Mahsun, 2008), bahasa-bahasa di Indonesia diidentifikasi berjumlah 200 bahasa.


Berbeda dengan Esser, Salzner (1960) justru menyatakan bahwa jumlah bahasa daerah di Indonesia tidak seperti yang dinyatakan Esser. Menurut dia, jumlah bahasa di Indonesia hanya 96. Akan tetapi, dengan memanfaatkan petugas kebudayaan yang terdapat di daerah-daerah di seluruh Indonesia, Lembaga Bahasa Nasional (1972) mencatat 418 bahasa daerah.

Sementara itu, dari ratusan bahasa daerah di Indonesia, dalam Ethnologue diuraikan beberapa bahasa yang mendekati kepunahan berdasarkan jumlah penutur yang tersisa, antara lain bahasa Amahai (50 orang), Hoti (10), Hukumina (1), Ibu (35), Kamarian (10), Kayeli (3), Nusa Laut (10), Piru (10), Bonerif (4), Kanum Bädi (10), Mapia (1), Massep (25), Mor (20-30), Tandia (2), Lom (2), Budong-budong (70), Dampal (90), dan Lengilu (10). Indikasi kepunahan sejumlah bahasa daerah itu dikhawatirkan akan berdampak pada kepunahan budaya yang mereka miliki, dan akhirnya mengancam kebudayaan nasional.

Untuk mengantisipasi permasalahan ini, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional mencantumkan ancaman kepunahan bahasa daerah sebagai salah satu kajian utama pada Kongres IX Bahasa Indonesia tahun 2008 lalu. Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono menyatakan kekhawatirannya terkait tergesernya penggunaan bahasa daerah oleh bahasa Indonesia. Misalnya, keluarga muda yang tinggal di kota cenderung menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga mereka.

Dendy menjelaskan, saat ini pihaknya sedang mengembangkan kelembagaan Pusat Bahasa (dalam hal ini Balai Bahasa) di delapan daerah untuk melakukan penelitian dalam rangka mengantisipasi kepunahan bahasa daerah. Kedelapan daerah itu antara lain Provinsi Bangka Belitung, Bengkulu, Kepulauan Riau, Banten, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Gorontalo.

Pada sisi lain, Dendy menuturkan, sebagian ranah penggunaan bahasa Indonesia tergeser oleh bahasa asing. Kondisi itu menunjukkan, kedudukan dan fungsi ketiga bahasa itu belum mantap dalam tata kehidupan masyarakat, terutama setelah reformasi tahun 1998 lalu. Sementara itu, tuntutan dunia kerja masa depan memerlukan insan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan berdaya saing, baik lokal, nasional, maupun global. Untuk memenuhi keperluan itu, sangat diperlukan keseimbangan penguasaan bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing (untuk mereka yang berdaya saing global).

Salah satu penyebab punahnya bahasa daerah di tanah air, ternyata adalah bahasa nasional itu sendiri, yakni bahasa Indonesia. Meskipun dalam teorinya bahasa Indonesia muncul dari keragaman bahasa daerah di Indonesia, bahasa persatuan yang didengungkan pada Sumpah Pemuda 1928 itu secara tidak langsung menjadi ancaman serius karena penutur bahasa daerah menjadi enggan mengajarkan bahasa ibu kepada keturunannya. Ancaman lainnya adalah bahasa gaul yang telah menjadi bahasa komunikasi sehari-hari warga perkotaan dan sering ”menempel” dalam bahasa Indonesia.

Menanggapi makin berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah di Indonesia dan merebaknya bahasa gaul, Dr. Ferry Rita, ahli antropolinguistik dari Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah menyatakan, hal itu wajar-wajar saja. Selama ini pun ragam bahasa gaul yang dulu sering disebut bahasa pasar merupakan salah satu unsur pembentuk bahasa Indonesia. Bahkan, bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu pasar yang menjadi bahasa pergaulan saat itu.

Berbeda dengan keadaan bahasa daerah di Indonesia yang menghadapi ancaman kepunahan, beberapa bahasa lainnya malah mencapai popularitasnya. Di kawasan industri seperti Karawang, bahasa Jepang muncul sebagai bahasa favorit baru di kalangan siswa sekolah menengah kejuruan. Dengan sasaran pascakelulusan siswa mereka bisa langsung bekerja di salah satu perusahaan di kawasan industri tersebut, sekolah menengah kejuruan di Karawang mencantumkan pelajaran bahasa Jepang sebagai muatan lokal.

Bahasa asing lain yang popularitasnya tidak perlu diragukan adalah bahasa Inggris. Bahasa yang didaulat sebagai bahasa komunikasi internasional itu sedikitnya mulai menggeser peran atau posisi bahasa Indonesia. Pasalnya, di beberapa jurusan di perguruan tinggi Indonesia, bahasa Inggris sudah mulai digunakan sebagai bahasa pengantar perkuliahan.

Oleh karena itu, tampaknya Teori Evolusi sedang menimpa dunia kebahasaan. Siapa yang lebih kuat, dialah yang akan bertahan. Bahasa daerah, mau tidak mau, harus tergerus oleh bahasa nasional, dan bahasa nasional harus kalah bersaing oleh bahasa asing atau bahasa internasional. Pertanyaannya, sampai kapankah bahasa-bahasa daerah di Indonesia akan bisa bertahan?***

M. Kadapi, staf bahasa Pikiran Rakyat.

Sumber: Pikiran Rakyat (21-1-2009)


Waspadai Genocide Diri Sendiri


Menerawang Masa Depan, yang harusnya tak terbatas. Hanya Tuhan YME yang dapat membatasinya
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Duapuluh tahun belakangan ini, dari tulisan-tulisan di koran dan orang-orang separuh baya yang saya kenal, banyak sekali membicarakan bahwa hidupnya tinggal sebentar lagi. Berfikiran seperti itu, cepat atau lambat, akan men-Sugesti Pikiran, Jiwa, dan raganya sendiri untuk hidup tidak lama lagi.

Dalam hal ini saya tidak bicara dari segi ke-Imanan, melainkan dari sisi kuatnya pengaruh sugesti terhadap kehidupan manusia itu sendiri..

Ada satu Agama di Indonesia yang kerap mempropagandakan, bahwa hidup yang indah ada setelah kematian. Sehingga orang-orang diajak untuk berlomba-lomba mengejar cepatnya sampai di kehidupan berikutnya.

Hal ini bodoh menurut saya, karena ketika saya mengikuti ceramah, yang isinya mengajak untuk kita berkonsentrasi pada kehidupan berikutnya, ada seseorang dari kami yang menghimbau, "Ayo kita doakan Bapak penceramah kita ini agar Beliau cepat hidup di kehidupan berikutnya, agar mendapat kebahagaian yang kekal nan Abadi".

Yang terjadi, si Penceramah itu, yang mungkin Agen Intelijen sebuah Negara asal Agama tersebut datang, langsung marah sama orang yang mengatakan hal tersebut.

Dari sini terlihat jelas bahwa ini hanya sebuah penjerumusan terhadap proses "GENOCIDE DIRI SENDIRI", dimana setelah itu, mereka dapat dengan lenggang kangkung mengambil segala sumber daya alam yang kita miliki.

Kita harus berfikir bisa hidup seribu tahun lagi di Bumi Nusantara ini, karena hanya kita sebagai orang asli Nusantara yang ber-Kearifan Lokal, yang dapat merawat dan menyayangi Tanah Impian Semua Bangsa di Dunia ini....
Sapto Satrio Mulyo

Batik - 400 Tahun SM

Jogja (PerpustakaanTanahImpian) - Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing.

Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Etimologi
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".

Sejarah Teknik Batik
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.


G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.


Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.


Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.


Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri di Pekan tahun 1895 bagi menghasilkan batik, kain pelangi, dan kain telepok.


Budaya Batik

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.


Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.


Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.


Corak Batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. 

Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.


Cara Pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. 

Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.


Jenis Batik
Menurut Teknik
Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.


Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.


Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.


Menurut Asal Pembuatan


Batik Jawa

Motif Batik
  • Batik Tiga Negeri
  • Batik Jawa Hokokai, 1942-1945
  • Batik Buketan asal Pekalongan dengan desain pengaruh Eropa
  • Batik Buketan
  • Batik Lasem
Berdasarkan Daerah Asal
  • Batik Bali
  • Batik Banyumas
  • Batik Madura
  • Batik Malang
  • Batik Pekalongan
  • Batik Solo
  • Batik Tasik
  • Batik Aceh
  • Batik Cirebon
  • Batik Jombang
  • Batik Banten
  • Batik Tulungagung
  • Batik Kediri
  • Batik Kudus
  • Batik Jepara / Batik Kartini
  • Batik Brebes
  • Batik Minangkabau
  • Batik Belanda
  • Batik Jepang
Berdasarkan Corak

  • Batik Kraton
  • Batik Sudagaran
  • Batik Cuwiri
  • Batik Petani
  • Batik Tambal
  • Batik Sida Mukti
  • Batik Sekar Jagad
  • Batik Pringgondani
  • Batik Kawung
  • Batik Sida Luhur
  • Batik Sida Asih
  • Batik Semen Rama
Busana Khas Terbuat dari Batik

  • Blangkon
  • Kebaya
  • Iket
  • Samping
Referensi

    ^ http://www.unesco.org/culture/ich/index.php?RL=00170

    ^ a b c Nadia Nava, Il batik - Ulissedizioni - 1991 ISBN 88-414-1016-7

    ^ http://pesonabatik.site40.net/Sejarah_Batik.html

    ^ a b Iwan Tirta, Gareth L. Steen, Deborah M. Urso, Mario Alisjahbana, 'Batik: a play of lights and shades, Volume 1', By Gaya Favorit Press, 1996, ISBN 979-515-313-7, 9789795153139
    ^ Dewan sastera, Volume 31, Issues 1-6 By Dewan Bahasa dan Pustaka
    ^ The Malay Handloom Weavers: A Study of the Rise and Decline of Traditional ... By Maznah Mohamad

Pranala Luar
    (Indonesia) Batik-batik bersejarah

    (Indonesia) Batik Fraktal Kontemporer

    Pogadaev, Victor (2002). "The Magic of Batik" in "Vostochnaya Kollektsiya" (Oriental Collection), Spring 2002, p. 71-74.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Batik


Foto : Istimewa

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen