Komunitas Sejarah Tanah Impian




Kesultanan Samudra Pasai 1267 s 1521 M

Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah. Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai, dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.

Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan ihsan Portugal pada tahun 1521.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai

Foto : Istimewa

Kandis - 1 Tahun SM

Ilustrasi Kerajaan Kandis, Foto : Istimewa
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.

Sejarah
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 tahun Sebelum Masehi, mendahului berdirinya kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung.

Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.


Ekonomi Kerajaan
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

Pranala Luar

    Kerajaan Kandis di Melayuonline.com
    Kerajaan Kandis Kerajaan Tertua di Sumatera
    Mitologi Lubuk Jambi

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kandis


Lebih dalam lagi mengenai Kerajaan Kandis

Tahun 300 M dan Seterusnya

Tahun 300 M
Prasasti Pinawetengan
Tulisan kuno Minahasa disebut Aksara Malesung. Batu Pinawetengan terletak di Kecamatan Tompaso Barat. Merupakan batu alam yang diatasnya ditulis dengan Huruf Hieroglif (tulisan dan abjad Mesir Kuno). Tuturan Sastra Maeres ini berisi Musyawarah Pembagian Wilayah, Deklarasi untuk tetap menjaga kesatuan.
Sumber : Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Minahasa

Tahun 301
Berdirinya Kerajaan Kutai Martadipura (Hindu)
Tahun 358 - 669
Kerajaan Tarumanagara
Foto : Istimewa

Tahun 200 M dan Seterusnya

Abad 3 atau Tahun 200 M s/d 299 M
Tahun 200 M dibangunnya Candi Batujaya

Kata-kata Mutiara 04

Nikmati apa yang sedang kau pikirkan, tapi pikirkanlah apa yang hendak kau nikmati...
Sapto Satrio Mulyo

Kata-kata Mutiara 03

Waspadai pengaruh Barat, Timur Tengah, dan Asia Tengah. Sudah saatnya kita menerapkan kembali warisan prilaku Nenek Moyang - "Kearifan Lokal"
Sapto Satrio Mulyo

Kata-kata Mutiara 02

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik
Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.... Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.
Sapto Satrio Mulyo

Kata-kata Mutiara 01

Bangsa yang terpuruk adalah, Bangsa yang lebih mempercayai dan menerapkan nilai-nilai Bangsa Lain, daripada nilai-nilai Leluhur nya sendiri.
Sapto Satrio Mulyo

Sang Saka

Sapto Satrio Mulyo
Patriot Band - Bekasi (PerpustakaanTanahImpian)
{saudioplayer}SangSaka.mp3{/saudioplayer}
Lagu "Sang Saka" yang ditulis oleh Sapto Satrio Mulyo ini, mengingatkan kita semua, untuk bangkit berjuang membangun Bangsa dari segala aspek kehidupannya.
Tahun 571 M
Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal tahun 571 Masehi (lebih dikenal sebagai Tahun Gajah)
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad

 Patriot Band - Bekasi
{saudioplayer}SangSaka.mp3{/saudioplayer}
Lagu "Sang Saka" yang ditulis oleh Sapto Satrio Mulyo ini, mengingatkan kita semua, untuk bangkit berjuang membangun Bangsa dari segala aspek kehidupannya.
"SANG SAKA"
Jika kita merenung pasti sadarkan diri
Kalau kita sudah terpuruk lama sekali

Bangsa yang pernah besar di muka bumi ini
Mengapa sekarang sulit untuk jadi Mandiri

Berkibarlah Sang Saka mengarungi Dunia
Berkibarlah Sang Saka mewarnai Dunia

Mari kita bersatu membangun negeri ini
Jangan berpaling lagi dari Ibu Pertiwi

Raihlah mimpi-mimpi untuk jadi Mandiri
Karena kau berjalan pasti tidak sendiri

Berkibarlah Sang Saka mengarungi Dunia
Berkibarlah Sang Saka mewarnai Dunia

Bangsa yang pernah besar di muka bumi ini
Mengapa sekarang sulit untuk jadi Mandiri

Tahun 400 M dan Seterusnya

Tahun 400 M
Masuknya Agama Buddha di Indonesia.
Faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan jumlah penduduk yang beragama Buddha di Indonesia antara lain :
  1. Ajaran Buddha sendiri yang mengajarkan bahwa kita harus melakukan ehipassiko, yaitu datang, lihat dan buktikan diri sendiri. Inilah yang menyebabkan banyak orang yang tidak mengenal ajaran agama Buddha karena mereka tidak tahu kapan mereka dapat mempelajarinya.
  2. Banyak yang menganggap bahwa ajaran agama Buddha identik dengan dupa, bunga, lilin, dan lain-lain yang membuat orang-orang berpikir mengenai modal cukup besar yang akan dikeluarkan.
  3. Dalam agama Buddha tidak ada suatu perjanjian yang mengikat seseorang untuk tetap menganut agama Buddha, sehingga setelah menikah, cukup banyak umat buddhis berganti agama karena harus mengikuti agama pasangannya.
  4. Banyak orang yang menganggap bahwa agama Buddha tidak memberikan mereka hal yang dijanjikan untuk masuk surga karena mayoritas membutuhkan suatu keamanan dan jaminan bahwa mereka akan masuk surga.
  5. Kurangnya ajaran agama Buddha dalam keluarga sehingga anak-anak mereka yang bersekolah di sekolah non-buddhis akan mengikuti cara-cara dan aturan-aturan di sekolahnya yang menyebabkan mereka terpengaruh.
  6. Faktor-faktor dari orang tuanya yang tidak terlalu mengerti ajaran agama Buddha sehingga ada orang tua yang hanya menjalankan tradisi orang cina dan ada juga yang hanya berstatus agama Buddha, tetapi tidak tahu apa-apa mengenai agama Buddha. Hal ini juga disebabkan oleh Kurangnya keyakinan akan agama Buddha.

Tahun 1.600 M dan Seterusnya

Tahun 1600 M - 1904 M
Kerajaan Kristen Larantuka

Tahun 1601 M
Senopati mengundurkan diri, Kerajaan Mataram diteruskan oleh Krapyak

Tahun 1602 M - 1.800 M
Penjajahan Yang Dilakukan VOC terhadap Bangsa kita
  1. Pada bulan Maret, dua puluh perusahaan di Belanda membentuk Perusahaan Dagang - Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Heeren XVII. 
  2. Pemerintah Belanda mengizinkan VOC untuk memiliki Armada Perang sendiri, dan VOC pun memiliki hak untuk membangun benteng, serta memutuskan perang dengan pihak-pihak yang dianggap merugikan. 
  3. VOC membangun “pos” pertama di Gresik
Tahun 1604 M
Ekspidisi perusahaan dagang Inggris East India Company di bawah pimpinan Sir Henry Middleton tiba di Ternate, Tidore, Ambon dan Banda.

Tahun 1608 M
Gowa memulai perang tiga tahun melawan Kerajaan Bone

Tahun 1611 M
  1. Inggris membagun beberapa pos perdagangan di Asia, termasuk di Makassar, Jepara, Aceh dan Jambi. 
  2. Belanda membangun pos perdagangan di Jayakarta (Jakarta). Gowa menaklukkan Bone
Tahun 1613 M
Sultan Agung menjadi raja Mataram

Tahun 1614 M
  1. Aceh memenangkan pertempuran melawan Portugis di Pulau Bintan, untuk selanjutnya menyerbu Malaka. 
  2. Sultan Agung dari Mataram menyerbu wilayah Surabaya.
  3. VOC mengirimkan utusan untuk menghadap Sultan Agung
Tahun 1618 M
  1. Jan Pieterzoon Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama. 
  2. Pada bulan Desember, Sultan Banten mendorong pihak Inggris untuk mengusir Belanda dari Jayakarta. 
  3. Sultan Agung melarang transaksi dagang dengan VOC. 
  4. Di Jepara, kantor dagang VOC diserang
Tahun 1620 M
  1. Aceh mengambilaih Kedah. 
  2. Rahmatullah menjadi Sultan Banjar di Kalimantan.
Tahun 1619 M
Jayakarta menjadi Batavia

Tahun 1630 M
Berdirinya Kesultanan Asahan    Asahan

Tahun 1640 M
Berdirinya Kesultanan Bima    Bima

Tahun 1650 M
Berdirinya Kerajaan Adonara    Adonara, Jawa Barat

Tahun 1666 M
Berdirinya Kesultanan Gowa    Goa, Makasar

Tahun 1669 M
Berdirinya Kesultanan Deli    Deli, Sumatra Utara
Tahun 1675 M
Berdirinya Kesultanan Palembang    Palembang
Tahun 1679 M
Berdirinya Kerajaan Kota Waringin    Kalimantan Tengah

Sumber : wikipedia.org dan berbagai sumber

Peristiwa Atlantis - 9.600 Tahun SM

Menurut Santos, bahwa peristiwa tenggelamnya benua Atlantis berlangsung sekitar 11.600 tahun yang lalu. Peristiwa ini menyebabkan hilangnya Atlantis, dan membinasakan sekitar 20 juta penduduknya, yang pada waktu itu sudah menerapkan kebudayaan modern. Sedangkan  penduduk yang masih dapat selamat, menyelamatkan diri mereka dengan menggunakan perahu. Peristiwa migrasi dengan perahu ini, digambarkan pula dalam simbol-simbol suku Mesir kuno, Inca Maya Aztec dan beberapa tradisi kuno.

Karena besarnya peristiwa tersebut, zaman es pleistosen yang saat itu terjadi selama beberapa ribu tahun menjadi berakhir. Es yang selama itu melingkupi mayoritas permukaan bumi mencair karena tertutup abu. Abu hasil letusan pilar Herkules yang setelah diteliti lebih lanjut secara literal, khususnya karya Plato, menurut Santos, yang disebut "Pilar" tersebut adalah gunung "Krakatau Purba". Adapun pilar Herkules yang lainnya adalah gunung "Dempo".

Besarnya letusan Krakatau tersebut, mengakibatkan terbelahnya pulau Jawa dan pulau Sumatera (yang dahulunya adalah sebuah pulau). Peristiwa Krakatau ini, bak air mancur raksasa yang menyemburkan air ke angkasa, menciptakan hujan besar dan badai, mengakibatkan Tsunami, mencairkan Es, sehingga menaikkan permukaan air laut hingga sekitar 200 meter. Hal ini mengakibatkan Atlantis tenggelam sekitar 150 – 200 meter di bawah permukaan air..
Beberapa ciri yang disebutkan oleh Santos, dari literatur tulisan Plato adalah sbb :
Atlantis berada di wilayah tropis dengan suhu hangat, panen padi-padian dua kali setahun, tanahnya sangat subur. Adapun bukti bahwa tenggelamnya hanya di kisaran 200 meter, diyakini oleh Santos dari peta Bathymetri Indonesia yang memiliki perairan dangkal di sekitar pulau-pulaunya khususnya Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
Keyakinan Santos, bahwa letak Atlantis tersebut aalah di Indonesia, menjadi lebih kuat lagi, adalah setelah terjadinya Tsunami besar yang melanda Aceh 26 Desember 2004 lalu.
Untuk membuktikan hal ini, Santos menyarankan, agar melakukan penelitian bawah laut di kedalaman 150 – 200 meter di perairan Indonesia, khususnya di lautan Jawa.
Bila memang pada akhirnya terbukti abhwa Atlantis itu adalah Indonesia. Menurut Santos, hal ini akan menjungkirbalikkan klaim dunia Barat, khususnya Eropa, bahwa segala Kebudayaan dan Kemajuan berasal dari sana.
Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Atlantis, www.atlan.org, dan berbagai sumber lainya
Sumber 9.500 Tahun SM : http://id.wikipedia.org/wiki/Atlantis

Kesultanan Pagaruyung 1347 s 1825 M

Istano Basa
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang pernah berdiri di Sumatra, wilayahnya terdapat di dalam provinsi Sumatra Barat sekarang.

Nama kerajaan ini dirujuk dari nama pohon Nibung atau Ruyung, selain itu juga dapat dirujuk dari inskripsi cap mohor Sultan Tangkal Alam Bagagar dari Pagaruyung, yaitu pada tulisan beraksara Jawi dalam lingkaran bagian dalam yang berbunyi sebagai berikut: Sulthān Tunggal Alam Bagagar ibnu Sulthān Khalīfatullāh yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri Pagaruyung Dārul Qarār Johan Berdaulat Zhillullāh fīl 'Ālam.

Sayangnya pada cap mohor tersebut tidak tertulis angka tahun masa pemerintahannya. Kerajaan ini runtuh pada masa Perang Padri, setelah ditandatanganinya perjanjian antara Kaum Adat dengan pihak Belanda yang menjadikan kawasan Kerajaan Pagaruyung berada dalam pengawasan Belanda.

Sebelumnya kerajaan ini tergabung dalam Malayapura, sebuah kerajaan yang pada Prasasti Amoghapasa disebutkan dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya dan beberapa kerajaan atau daerah taklukan Adityawarman lainnya.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung 

Foto : Istimewa

Periodisasi Sejarah Indonesia

  1. Prasejarah
  2. Masa Sebelum Penjajahan. Berdirinya Kerajaan-kerajaan Agama Lokal, Hindu, Buddha, dan Islam.
  3. Masa Penjajahan
A. Penjajahan Portugis  - Tahun 1512M
Hanya beberapa tahun sebelum ekspedisi Colombus, tahun 1486 seorang pelaut Portugis bernama Bartolomeo Diaz mencoba melakukan penjelajahan untuk mencari jalan menuju negeri-negeri di kawasan Asia, yang sebagai penghasil rempah-rempah. Walaupun gagal untuk mendapatkan rempah-rempah, tetapi Bartolomeo Diaz berhasil menemukan jalan baru menuju Asia Timur, yakni melewati pantai Selatan Afrika.
Selanjutnya, tahun 1512 seorang pelaut Portugis yang lain bernama Fransisco Serrao berhasil berlayar menuju kepulauan Maluku. Raja Ternate menyambut baik kedatangannya ke Maluku, bahkan pada awalnya diizinkan untuk mendirikan benteng di Ternate. Tetapi karena memburuknya hubungan perdagangan antara Ternate-Portugis, maka diputuskan. Hal ini dikarenakan Portugis pada akhirnya melakukan monopoli terhadap perdagangan rempah-rempah di Maluku.
B. Penjajahan Spanyol - Tahun 1538M
Pada mulanya, Spanyol melakukan koalisi dengan Kerajaan Tidore untuk melawan Kerajaan Ternate (yang mendapat dukungan Portugis). Tetapi untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak Spanyol dan Portugis, maka dideklarasikanlah perjanjian Saragosa pada tahun 1538. Adapun isinya, antara lain:  Bahwa Portugis memperoleh Kepulauan Maluku, dan Spanyol memperoleh wilayah Filipina.
C. Penjajahan Belanda - 1602M - 1811M ... 1816M - 1942M
Belanda mulai melakukan kegiatan perdagangan di Indonesia, sejak tahun 1602, dengan ditandai dengan berdirinya persekutuan dagang “VOC” (Verenigde Oostindische Compagnie), yang merupakan sebuah lembaga dagang, berpusat di Kota Batavia, serta diberi hak monopoli dagang oleh pemerintah Belanda.
VOC sebagai wakil Belanda di Hindia-Belanda (Indonesia) memiliki berbagai hak khusus, antara lain: Mencetak Uang Sendiri, Membangun Kekuatan Tentara, Memiliki dan Mengangkat Pegawai, Membentuk Pengadilan, Menduduki Daerah-daerah Asing, serta Melakukan Perjanjian dengan Raja-raja Pribumi.
Yang pada akhirnya, VOC mulai ikut campur dalam pemerintahan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Hal ini berdampak pada kebijakan-kebijakan VOC yang menindas rakyat pribumi, serta adanya power tends to corrupt, maka korupsi internal pegawai VOC sendiri merajalela. Akibatnya, rakyat di berbagai daerah melakukan perlawanan kepada VOC.
Pada abad ke-18 VOC mengalami kemunduran, yang pada umumnya diakibatkan oleh banyaknya perlawanan senjata yang dilakukan rakyat pribumi. Pada akhirnya tanggal 31 Desember 1799, VOC secara resmi dibubarkan oleh pemerintah Belanda, dan Indonesia langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda, yang diwakili oleh beberapa Gubernur Jendral seperti Daendels dan Janssens.
D. Penjajahan Inggris - Tahun 1811M
Sejak 1811 pemerintah Inggris menguasai Pulau Jawa, yakni sejak ditandatanganinya Kapitulasi Tungtang,  dimana salah satunya klausulnya berisi; penyerahan Pulau jawa dari Belanda kepada Inggris.
Pada tanggal 17 September 1811 pemerintahan Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai gubernur jendral  di Indonesia. Catatan dari pemerintahan Raffles di Indonesia, antara lain: Membagi Pulau Jawa Menjadi 16 Karesidenan.
Pada tahun 1814 diadakan Konvensi London, dimana isinya bahwa pemerintah Belanda berkuasa kembali atas wilayah jajahan Inggris di Indonesia. Pada tahun 1816, pemerintahan Inggris di Indonesia secara resmi berakhir. Sejak saat inilah, Belanda kembali berkuasa di Indonesia hingga tahun 1942.
E. Penjajahan Jepang - Tahun 1942M
Pada tahun 1941 Jepang menyerang Pearl Harbor, dimana sejak saat itu Jepang dan Amerika Serikat mulai terlibat dalam perang dunia ke-2. Untuk membiayai industri peperangan agar tetap berjalan, maka Jepang melakukan invasi ke beberapa daerah yang kaya dengan bahan mentah termasuk Indonesia.
Tahun 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, melalui perjanjian di daerah Kalijati. Sejak saat itulah, berakhir masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia, dan digantikan oleh Jepang.
Jepang sendiri menjajah Indonesia hanya dalam waktu 3,5 tahun dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 yaitu tepat saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.
  1. Masa Kemerdekaan, Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945,  sampai dengan jatuhnya Soekarno tahun 1966
  2. Masa Orde Baru, 32 tahun lamanya pemerintahan Soeharto dari 1966 sampai dengan tahun 1998
  3. Masa Reformasi hingga sampai sekarang.

Kota Tertua di Indonesia

Bekasi Tahun 358 s/d 669 M
Palembang 17 Juni 683 M
Magelang 11 Aptil 907 M
Surabaya 31 Mei 1.293 M
Kota Majapahit 1.350 M
Jakarta 22 Juni 1527 M
Semarang 2 Mei 1547 M
Kota Medan 1 Juli 1590 M
Yogyakarta 17 Oktober 1756 M
Sumber : Dari Berbagai Sumber

Sjekh Siti Jenar - 1.426 M - 1517 M

Ilustrasi Sjekh Siti Jenar (Foto : Istw) 
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Sjekh Siti Jenar nama aslinya Raden Abdul Jalil (dikenal juga dalam banyak nama lain, antara lain; Sitibrit, Lemahbang, atau Lemah Abang) adalah seorang tokoh Agama Lokal di Pulau Jawa.

Lahir: 1426, Astanajapura, Cirebon, Indonesia
Meninggal: 1517, Demak, Indonesia
Kebangsaan: Indonesia

Berbicara mengenai Raden Abdul Jalil, pertama-tama yang harus kita luruskan adalah fahamnya yang menganut "Manunggaling Kawula Gusti" yang jelas-jelas hal ini adalah filosofi Jawa Kuno, bukan filosofi Arab maupun lainnya.

Ajarannyanya filosofi yang begitu tinggi dari Raden Abdul Jalil ini membuat semua Wali (Wali Songo - yang notabene semuanya orang-orang Arab tidak terkecuali) marah. Hal ini dikarenakan menurut Wali-wali yang ada, akan menghambat siar agama Islam di Nusantara.
Bagi orang Jawa yang kala itu, masih sangat sengkretis, terasa berada di persimpangan jalan. Sebagian yang masih cinta dengan prilaku Leluhurnya, menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang mengingatkan kembali ajaran dengan nilai-nilai Leluhur Nusantara, saat adanya degenerasi dari masuknya nilai-nilai asing di Nusantara.
Ajaran-ajaran Raden Abdul Jalil tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut Pupuh. Hasil dari penggaliannya terhadap nilai-nilai Leluhur Nusantara, maka mengantarkan Raden Abdul Jalil membuat sebuah karya yang sangat baik, yakni "Budi Pekerti".

Melihat karya Budi Pekerti di atas, olehkarenanya orang-orang yang dari dulu ingin merusak nilai-nilai Luhur Bangsa ini, menyangkut pautkannya dengan ajaran sesat. Padahal kalau kita lihat sejarah digantinya Budi Pekerti pada tahun 1979, menjadi ajaran Agama, justru tahun itulah sebagai tiang sejarah dimulainya Tawuran Pelajar. Jadi sebenarnya kita harus melek, bahwa nilai-nilai Leluhur Nusantara ini lebih baik dari nilai apapun yang datang dari luar.

Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup Jawa Kuno, yang kalau dari kacamata peneliti asing disebut dengan sufi.
Adapun gelar Syekh didepan namanya, adalah sebuah politik labeling dalam arti untuk menurunkan drajatnya atau tingkat kastanya, sehingga dirinya akan dapat diperintah atau menurut dengan para Syekh yang lebih tua atau memiliki drajat yang lebih tinggi.

Konsep Manunggaling Kawulo Ghusti itu sudah ada jauh Sebelum Masehi, sementara agama Islam baru lahir abad 7 (Nabi Muhammad SAW lahir tahun 571 M). Jadi jelas Konsep Manunggaling Kawulo Ghusti itu, kalau pun tidak dihidupkan kembali oleh Siti Jenar, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya.

Kalau begitu, pertanyaannya? Jika Siti Jenar orang Arab, maka berarti beliaulah yang justru terpengaruh oleh ajaran Agama Lokal yang Luhur.

Juga perlu diingat bahwa Ghusti dalam bahasa Jawa Kuno mempunyai esensi makna Tuhan YME yang sesungguhnya, sehingga orang-orang Nusantara yang mengerti betul mengenai esensi makna Tuhan YME, tidak akan pernah menghapus kosa kata Ghusti, Itulah sebabnya, datangnya agama Islam ke Indonesia tidak juga dapat dengan serta merta menggantikan kosa kata Ghusti. Seperti prilaku orang Nusantara yang sengkretis, maka pemakasaan untuk menggantikan kosa kata Ghusti, ditolak dengan halus, dengan menyisipkannya di belakang kata Ghusti, menjadi Ghusti Allah.

Pertanyaannya "Tuhan YME" ada di kosa kata yang mana - dalam Ghusti Allah? Mungkin hal ini dapat dijelaskan hukum bahasa kita, Mobil Merah, berarti Mobilnya berwarna merah. Jadi untuk orang-orang Jawa yang tetap ingin menyembah dengan cara Leluhurnya, tetap cukup memakai kata Ghusti saja. Sementara untuk orang Jawa yang ingin sembahyang cara Islam, mereka tetap menambahkan kata Allah dibelakang kata Ghusti, menjadi Ghusti Allah.

Foto : Istimewa

Catatan :


  1. Saat ini banyak sekali pemelintiran sejarah, yang setelah kita telaah bersama seperti di atas, tidak mungkin kalau Raden Abdul Jalil adalah orang Timur Tengah, Persia, Arab atau apapun.
  2. Penulis belum mendapatkan ilustrasi wajah Syekh Siti Jenar yang cocok dengan paras aslinya.


Kesultanan Malaka 1405 s 1511 M

Masjid Kampung Hulu Malaka, saksi bisu sejarah Kesultanan Malaka (salah satu masjid tertua di Negeri Malaka, Malaysia)
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) - Kesultanan Melaka adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Melaka, Malaysia. Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, kemudian mencapai puncak kejayaan pada abad ke 15 dengan menguasai jalur pelayaran Selat Melaka, sebelum ditaklukan oleh Portugal tahun 1511. Kejatuhan Malaka ini menjadi pintu masuknya kolonialisasi Eropa di kawasan Nusantara.

Kerajaan ini tidak meninggalkan bukti arkeologis yang cukup untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah, tetapi keberadaan kerajaan ini dapat diketahui melalui Sulalatus Salatin dan kronik Tiongkok masa Dinasti Ming.

Dari perbandingan dua sumber ini masih menimbulkan kerumitan akan sejarah awal Malaka terutama hubungannya dengan perkembangan agama Islam di Malaka serta rentang waktu dari pemerintahan masing-masing raja Malaka. Pada awalnya Islam belum menjadi agama bagi masyarakat Malaka, tetapi perkembangan berikutnya Islam telah menjadi bagian dari kerajaan ini yang ditunjukkan oleh gelar sultan yang disandang oleh penguasa Malaka berikutnya.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Melaka

Foto : Istimewa

Kerajaan Salakanagara (130 M - 362 M)

Pandeglang (PerpustakaanTanahImpian) - Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak) berdiri pada tahun 130 M dengan Ibukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang.

Raja pertama Dewawarman I (130 M – 168 M) dengan gelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja Penguasa Gerbang Lautan)
Daerah kekuasaannya meliputi :

• Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan
• Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau
• Dan daerah Ujung Sumatera Selatan
Pada tahun 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran, mulai dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, Ujung Utara dan Pesisir Barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina.

Urutan Raja-Raja Salakanagara
  1. 130-168 M, Dewawarman I (Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara,
  2. 168-195 M, Dewawarman II (Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra), Putera tertua Dewawarman I,
  3. 195-238 M, Dewawarman III (Prabu Singasagara Bimayasawirya), Putera Dewawarman II,
  4. 238-252 M, Dewawarman IV (Menantu Dewawarman II, Raja Ujung Kulon),
  5. 252-276 M, Dewawarman V (Menantu Dewawarman IV),
  6. 276-289 M, Mahisasuramardini Warmandewi (Puteri tertua Dewawarman IV & isteri Dewawarman V),
  7. 289-308 M, Dewawarman VI (Sang Mokteng Samudera), Putera tertua Dewawarman V,
  8. 308-340 M, Dewawarman VII (Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati), Putera tertua Dewawarman VI,
  9. 340-348 M, Sphatikarnawa Warmandewi (Puteri sulung Dewawarman VII),
  10. 348-362 M, Dewawarman VIII (PRABU DARMAWIRYA Dewawarman), Cucu Dewawarman VI.
Tahun 362 M saat tampuk pimpinan ada di tangan DEWAWARMAN IX, Salakanagara menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara. Sehingga dapat dikatakan bahwa Dewawarman VIII adalah Raja terakhir Salakanagara.
Sumber : Buku “Catatan Masa Lalu Banten”, Drs Halwani Michrob, MSc, Drs A. Mudjahid Chudori, Penerbit Saudara, Serang 1993. Ditambah berbagai sumber lainnya

Sumber : Berbagai Sumber
Foto : Istimewa

Candi Prambanan - Tahun 850 M

Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa sansekerta yang bermakna: 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.
Candi ini terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.[1] Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.
Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.[2] Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.[3]
Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Sejarah
Pembangunan
Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling bersaing; yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu dan wangsa Sailendra penganut Buddha. Pastinya, dengan dibangunnya candi ini menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendra cenderung lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa.
Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan dewa Siwa, dan nama asli bangunan ini dalam bahasa sansekerta adalah Siwagrha (sansekerta:Shiva-grha yang berarti: 'Rumah Siwa') atau Siwalaya (Sansekerta:Shiva-laya yang berarti: 'Ranah Siwa' atau 'Alam Siwa').[4] Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha tengah berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai di dekat candi ini. Sungai yang dimaksud adalah sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat kompleks candi Prambanan. Sejarawan menduga bahwa aslinya aliran sungai ini berbelok melengkung ke arah timur, dan dianggap terlalu dekat dengan candi sehingga erosi sungai dapat membahayakan konstruksi candi. Proyek tata air ini dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru yang memotong lengkung sungai dengan poros utara-selatan sepanjang dinding barat di luar kompleks candi. Bekas aliran sungai asli kemudian ditimbun untuk memberikan lahan yang lebih luas bagi pembangunan deretan candi perwara (candi pengawal atau candi pendamping).
Beberapa arkeolog berpendapat bahwa arca Siwa di garbhagriha (ruang utama) dalam candi Siwa sebagai candi utama merupakan arca perwujudan raja Balitung, sebagai arca pedharmaan anumerta beliau.[5] Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari "Para Brahman", yang mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana.
Kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, seperti raja Daksa dan Tulodong, dan diperluas dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Karena kemegahan candi ini, candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram, tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan. Pada masa puncak kejayaannya, sejarawan menduga bahwa ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan upacara Hindu. Sementara pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram diduga terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.
Diterlantarkan
Sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan berpindah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Isyana. Penyebab kepindahan pusat kekuasaan ini tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi sangat mungkin disebabkan oleh letusan hebat Gunung Merapi yang menjulang sekitar 20 kilometer di utara candi Prambanan. Kemungkinan penyebab lainnya adalah peperangan dan perebutan kekuasaan. Setelah perpindahan ibu kota, candi Prambanan mulai terlantar dan tidak terawat, sehingga pelan-pelan candi ini mulai rusak dan runtuh.
Bangunan candi ini diduga benar-benar runtuh akibat gempa bumi hebat pada abad ke-16. Meskipun tidak lagi menjadi pusat keagamaan dan ibadah umat Hindu, candi ini masih dikenali dan diketahui keberadaannya oleh warga Jawa yang menghuni desa sekitar. Candi-candi serta arca Durga dalam bangunan utama candi ini mengilhami dongeng rakyat Jawa yaitu legenda Rara Jonggrang. Setelah perpecahan Kesultanan Mataram pada tahun 1755, reruntuhan candi dan sungai Opak di dekatnya menjadi tanda pembatas antara wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta (Solo).
Penemuan kembali
Penduduk lokal warga Jawa di sekitar candi sudah mengetahui keberadaan candi ini. Akan tetapi mereka tidak tahu latar belakang sejarah sesungguhnya, siapakah raja dan kerajaan apa yang telah membangun monumen ini. Sebagai hasil imajinasi, rakyat setempat menciptakan dongeng lokal untuk menjelaskan asal-mula keberadaan candi-candi ini; diwarnai dengan kisah fantastis mengenai raja raksasa, ribuan candi yang dibangun oleh makhluk halus jin dan dedemit hanya dalam tempo satu malam, serta putri cantik yang dikutuk menjadi arca. Legenda mengenai candi Prambanan dikenal sebagai kisah Rara Jonggrang.
Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda. Candi ini menarik perhatian dunia ketika pada masa pendudukan Britania atas Jawa. Ketika itu Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, menemukan candi ini. Meskipun Sir Thomas kemudian memerintahkan penyelidikan lebih lanjut, reruntuhan candi ini tetap terlantar hingga berpuluh-puluh tahun. Penggalian tak serius dilakukan sepanjang 1880-an yang sayangnya malah menyuburkan praktek penjarahan ukiran dan batu candi. Kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa saat kemudian Isaäc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Arca-arca dan relief candi diambil oleh warga Belanda dan dijadikan hiasan taman, sementara warga pribumi menggunakan batu candi untuk bahan bangunan dan pondasi rumah.
Pemugaran
Pemugaran dimulai pada tahun 1918, akan tetapi upaya serius yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1930-an. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih sistematis sesuai kaidah arkeologi. Sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu secara sembarangan tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali. Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993 [6].
Upaya renovasi terus menerus dilakukan bahkan hingga kini. Pemugaran candi Siwa yaitu candi utama kompleks ini dirampungkan pada tahun 1953 dan diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno. Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.
Kini, candi ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO, status ini diberikan UNESCO pada tahun 1991. Kini, beberapa bagian candi Prambanan tengah direnovasi untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa Yogyakarta 2006. Gempa ini telah merusak sejumlah bangunan dan patung.
Peristiwa kontemporer
Pada awal tahun 1990-an pemerintah memindahkan pasar dan kampung yang merebak secara liar di sekitar candi, menggusur kawasan perkampungan dan sawah di sekitar candi, dan memugarnya menjadi taman purbakala. Taman purbakala ini meliputi wilayah yang luas di tepi jalan raya Yogyakarta-Solo di sisi selatannya, meliputi seluruh kompleks candi Prambanan, termasuk Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu di sebelah utaranya. Pada tahun 1992 Pemerintah Indonesia Perusahaan milik negara, Persero PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Badan usaha ini bertugas mengelola taman wisata purbakala di Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, serta kawasan sekitarnya. Prambanan adalah salah satu daya tarik wisata terkenal di Indonesia yang banyak dikunjungi wisatawan dalam negeri ataupun wisatwan mancanegara.
Tepat di seberang sungai Opak dibangun kompleks panggung dan gedung pertunjukan Trimurti yang secara rutin menggelar pertunjukan Sendratari Ramayana. Panggung terbuka Trimurti tepat terletak di seberang candi di tepi Barat sungai Opak dengan latar belakang Candi Prambanan yang disoroti cahaya lampu. Panggung terbuka ini hanya digunakan pada musim kemarau, sedangkan pada musim penghujan, pertunjukan dipindahkan di panggung tertutup. Tari Jawa Wayang orang Ramayana ini adalah tradisi adiluhung keraton Jawa yang telah berusia ratusan tahun, biasanya dipertunjukkan di keraton dan mulai dipertunjukkan di Prambanan pada saat bulan purnama sejak tahun 1960-an. Sejak saat itu Prambanan telah menjadi daya tarik wisata budaya dan purbakala utama di Indonesia.
Setelah pemugaran besar-besaran tahun 1990-an, Prambanan juga kembali menjadi pusat ibadah agama Hindu di Jawa. Kebangkitan kembali nilai keagamaan Prambanan adalah karena terdapat cukup banyak masyarakat penganut Hindu, baik pendatang dari Bali atau warga Jawa yang kembali menganut Hindu yang bermukim di Yogyakarta, Klaten dan sekitarnya. Tiap tahun warga Hindu dari provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta berkumpul di candi Prambanan untuk menggelar upacara pada hari suci Galungan, Tawur Kesanga, dan Nyepi.[7][8]
Pada 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter (sementara United States Geological Survey melaporkan kekuatan gempa 6,2 pada skala Richter) menghantam daerah Bantul dan sekitarnya. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat terhadap banyak bangunan dan kematian pada penduduk sekitar. Gempa ini berpusat pada patahan tektonik Opak yang patahannya sesuai arah lembah sungai Opak dekat Prambanan. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah kompleks Candi Prambanan, khususnya Candi Brahma. Foto awal menunjukkan bahwa meskipun kompleks bangunan tetap utuh, kerusakan cukup signifikan. Pecahan batu besar, termasuk panil-panil ukiran, dan kemuncak wajra berjatuhan dan berserakan di atas tanah. Candi-candi ini sempat ditutup dari kunjungan wisatawan hingga kerusakan dan bahaya keruntuhan dapat diperhitungkan. Balai arkeologi Yogyakarta menyatakan bahwa diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mengetahui sejauh mana kerusakan yang diakibatkan gempa ini.[9][10] Beberapa minggu kemudian, pada tahun 2006 situs ini kembali dibuka untuk kunjungan wisata. Pada tahun 2008, tercatat sejumlah 856.029 wisatawan Indonesia dan 114.951 wisatawan mancanegara mengunjungi Prambanan. Pada 6 Januari 2009 pemugaran candi Nandi selesai.[11] Pada tahun 2009, ruang dalam candi utama tertutup dari kunjungan wisatawan atas alasan keamanan.
Kompleks candi
Pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:
    3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
    3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
    2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
    4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
    4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
    224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68

Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan.[12] Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan. Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.
Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yan terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya. Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui; kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana dan murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan yang berdiri di halaman terluar ini terbuat dari bahan kayu, sehingga sudah lapuk dan musnah tak tersisa.
Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Tiga candi utama disebut Trimurti dan dipersembahkan kepadantiga dewa utama Trimurti: Siwa sang Penghancur, Wisnu sang Pemelihara dan Brahma sang Pencipta. Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter.
Candi Siwa
Halaman dalam adalah zona paling suci dari ketiga zona kompleks candi. Pelataran ini ditinggikan permukaannya dan berdenah bujur sangkar dikurung pagar batu dengan empat gerbang di empat penjuru mata angin. Dalam halaman berpermukaan pasir ini terdapat delapan candi utama; yaitu tiga candi utama yang disebut candi Trimurti ("tiga wujud"), dipersembahkan untuk tiga dewa Hindu tertinggi: Dewa Brahma Sang Pencipta, Wishnu Sang Pemelihara, dan Siwa Sang Pemusnah.
Candi Siwa sebagai candi utama adalah bangunan terbesar sekaligus tetinggi di kompleks candi Rara Jonggrang, berukuran tinggi 47 meter dan lebar 34 meter. Puncak mastaka atau kemuncak candi ini dimahkotai modifikasi bentuk wajra yang melambangkan intan atau halilintar. Bentuk wajra ini merupakan versi Hindu sandingan dari stupa yang ditemukan pada kemuncak candi Buddha. Candi Siwa dikelilingi lorong galeri yang dihiasi relief yang menceritakan kisah Ramayana; terukir di dinding dalam pada pagar langkan. Di atas pagar langkan ini dipagari jajaran kemuncak yang juga berbentuk wajra. Untuk mengikuti kisah sesuai urutannya, pengunjung harus masuk dari sisi timur, lalu melakukan pradakshina yakni berputar mengelilingi candi sesuai arah jarum jam. Kisah Ramayana ini dilanjutkan ke Candi Brahma.
Candi Siwa di tengah-tengah, memuat lima ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin dan satu garbagriha, yaitu ruangan utama dan terbesar yang terletak di tengah candi. Ruangan timur terhubung dengan ruangan utama tempat bersemayam sebuah arca Siwa Mahadewa (Perwujudan Siwa sebagai Dewa Tertinggi) setinggi tiga meter. Arca ini memiliki Lakçana (atribut atau simbol) Siwa, yaitu chandrakapala (tengkorak di atas bulan sabit), jatamakuta (mahkota keagungan), dan trinetra (mata ketiga) di dahinya. Arca ini memiliki empat lengan yang memegang atribut Siwa, seperti aksamala (tasbih), camara (rambut ekor kuda pengusir lalat), dan trisula. Arca ini mengenakan upawita (tali kasta) berbentuk ular naga (kobra). Siwa digambarkan mengenakan cawat dari kulit harimau, digambarkan dengan ukiran kepala, cakar, dan ekor harimau di pahanya. Sebagian sejarawan beranggapa bahwa arca Siwa ini merupakan perwujudan raja Balitung sebagai dewa Siwa, sebagai arca pedharmaan anumerta beliau. Sehingga ketika raja ini wafat, arwahnya dianggap bersatu kembali dengan dewa penitisnya yaitu Siwa.[13] Arca Siwa Mahadewa ini berdiri di atas lapik bunga padma di atas landasan persegi berbentuk yoni yang pada sisi utaranya terukir ular Nāga (kobra).
Tiga ruang yang lebih kecil lainnya menyimpan arca-arca yang ukuran lebih kecil yang berkaitan dengan Siwa. Di dalam ruang selatan terdapat Resi Agastya, Ganesha putra Siwa di ruang barat, dan di ruang utara terdapat arca sakti atau istri Siwa, Durga Mahisasuramardini, menggambarkan Durga sebagai pembasmi Mahisasura, raksasa Lembu yang menyerang swargaloka. Arca Durga ini juga disebut sebagai Rara Jonggrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Arca ini dikaitkan dengan tokoh putri legendaris Rara Jonggrang.
Candi Brahma dan Candi Wishnu
Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Dewa Wisnu, yang terletak di sisi utara dan satunya dipersembahkan kepada Brahma, yang terletak di sisi selatan. Kedua candi ini menghadap ke timur dan hanya terdapat satu ruang, yang dipersembahkan untuk dewa-dewa ini. Candi Brahma menyimpan arca Brahma dan Candi Wishnu menyimpan arca Wishnu yang berukuran tinggi hampir 3 meter. Ukuran candi Brahma dan Wishnu adalah sama, yakni lebar 20 meter dan tinggi 33 meter.
Candi Wahana
Tepat di depan candi Trimurti terdapat tiga candi yang lebih kecil daripada candi Brahma dan Wishnu yang dipersembahkan kepada kendaraan atau wahana dewa-dewa ini; sang lembu Nandi wahana Siwa, sang Angsa wahana Brahma, dan sang Garuda wahana Wisnu. Candi-candi wahana ini terletak tepat di depan dewa penunggangnya. Di depan candi Siwa terdapat candi Nandi, di dalamnya terdapat arca lembu Nandi. Pada dinding di belakang arca Nandi ini di kiri dan kanannya mengapit arca Chandra dewa bulan dan Surya dewa matahari. Chandra digambarkan berdiri di atas kereta yang ditarik 10 kuda, sedangkan Surya berdiri di atas kereta yang ditarik 7 kuda.[14] Tepat di depan candi Brahma terdapat candi Angsa. Candi ini kosong dan tidak ada arca Angsa di dalamnya. Mungkin dulu pernah bersemayam arca Angsa sebagai kendaraan Brahma di dalamnya. Di depan candi Wishnu terdapat candi yang dipersembahkan untuk Garuda, akan tetapi sama seperti candi Angsa, di dalam candi ini tidak ditemukan arca Garuda. Mungkin dulu arca Garuda pernah ada di dalam candi ini. Hingga kini Garuda menjadi lambang penting di Indonesia, yaitu sebagai lambang negara Garuda Pancasila.
Candi Apit, Candi Kelir, dan Candi Patok
Di antara baris keenam candi-candi utama ini terdapat Candi Apit. Ukuran Candi Apit hampir sama dengan ukuran candi perwara, yaitu tinggi 14 meter dengan tapak denah 6 x 6 meter. Disamping 8 candi utama ini terdapat candi kecil berupa kuil kecil yang mungkin fungsinya menyerupai pelinggihan dalam Pura Hindu Bali tempat meletakan canang atau sesaji, sekaligus sebagai aling-aling di depan pintu masuk. Candi-candi kecil ini yaitu; 4 Candi Kelir pada empat penjuru mata angin di muka pintu masuk, dan 4 Candi Patok di setiap sudutnya. Candi Kelir dan Candi Patok berbentuk miniatur candi tanpa tangga dengan tinggi sekitar 2 meter.
Candi Perwara
Dua dinding berdenah bujur sangkar yang mengurung dua halaman dalam, tersusun dengan orientasi sesuai empat penjuru mata angin. Dinding kedua berukuran panjang 225 meter di tiap sisinya. Di antara dua dinding ini adalah halaman kedua atau zona kedua. Zona kedua terdiri atas 224 candi perwara yang disusun dalam empat baris konsentris. Candi-candi ini dibangun di atas empat undakan teras-teras yang makin ke tengah sedikit makin tinggi. Empat baris candi-candi ini berukuran lebih kecil daripada candi utama. Candi-candi ini disebut "Candi Perwara" yaitu candi pengawal atau candi pelengkap. Candi-candi perwara disusun dalam empat baris konsentris baris terdalam terdiri atas 44 candi, baris kedua 52 candi, baris ketiga 60 candi, dan baris keempat sekaligus baris terluar terdiri atas 68 candi.
Masing-masing candi perwara ini berukuran tinggi 14 meter dengan tapak denah 6 x 6 meter, dan jumlah keseluruhan candi perwara di halaman ini adalah 224 candi. Kesemua candi perwara ini memiliki satu tangga dan pintu masuk sesuai arah hadap utamanya, kecuali 16 candi di sudut yang memiliki dua tangga dan pintu masuk menghadap ke dua arah luar.[15] Jika kebanyakan atap candi di halaman dalam zona inti berbentuk wajra, maka atap candi perwara berbentuk ratna yang melambangkan permata.
Aslinya ada banyak candi yang ada di halaman ini, akan tetapi hanya sedikit yang telah dipugar. Bentuk candi perwara ini dirancang seragam. Sejarawan menduga bahwa candi-candi ini dibiayai dan dibangun oleh penguasa daerah sebagai tanda bakti dan persembahan bagi raja. Sementara ada pendapat yang mengaitkan empat baris candi perwara melambangkan empat kasta, dan hanya orang-orang anggota kasta itu yang boleh memasuki dan beribadah di dalamnya; baris paling dalam hanya oleh dimasuki kasta Brahmana, berikutnya hingga baris terluar adalah barisan candi untuk Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Sementara pihak lain menganggap tidak ada kaitannya antara candi perwara dan empat kasta. Barisan candi perwara kemungkinan dipakai untuk beribadah, atau tempat bertapa (meditasi) bagi pendeta dan umatnya.
Arsitektur
Arsitektur candi Prambanan berpedoman kepada tradisi arsitektur Hindu yang berdasarkan kitab Wastu Sastra. Denah candi megikuti pola mandala, sementara bentuk candi yang tinggi menjulang merupakan ciri khas candi Hindu. Prambanan memiliki nama asli Siwagrha dan dirancang menyerupai rumah Siwa, yaitu mengikuti bentuk gunung suci Mahameru, tempat para dewa bersemayam. Seluruh bagian kompleks candi mengikuti model alam semesta menurut konsep kosmologi Hindu, yakni terbagi atas beberapa lapisan ranah, alam atau Loka.
Seperti Borobudur, Prambanan juga memiliki tingkatan zona candi, mulai dari yang kurang suci hingga ke zona yang paling suci. Meskipun berbeda nama, tiap konsep Hindu ini memiliki sandingannya dalam konsep Buddha yang pada hakikatnya hampir sama. Baik lahan denah secara horisontal maupun vertikal terbagi atas tiga zona:[16]

    Bhurloka (dalam Buddhisme: Kamadhatu), adalah ranah terendah makhluk yang fana; manusia, hewan, juga makhluk halus dan iblis. Di ranah ini manusia masih terikat dengn hawa nafsu, hasrat, dan cara hidup yang tidak suci. Halaman terlar dan kaki candi melambangkan ranah bhurloka.
    Bhuwarloka (dalam Buddhisme: Rupadhatu), adalah alam tegah, tempat orang suci, resi, pertapa, dan dewata rendahan. Di alam ini manusia mulai melihat cahaya kebenaran. Halaman tengah dan tubuh candi melambangkan ranah bhuwarloka.
    Swarloka (dalam Buddhisme: Arupadhatu), adalah ranah trtinggi sekaligus tersuci tempat para dewa bersemayam, juga disebut swargaloka. Halaman dalam dan atap candi melambangkan ranah swarloka. Atap candi-candi di kompleks Prambanan dihiasi dengan kemuncak mastaka berupa ratna (sansekerta: permata), bentuk ratna Prambanan merupakan modifikasi bentuk wajra yang melambangkan intan atau halilintar. Dalam arsitektur Hindu Jawa kuno, ratna adalah sandingan Hindu untuk stupa Buddha, yang berfungsi sebagai kemuncak atau mastaka candi.

Pada saat pemugaran, tepat di bawah arca Siwa di bawah ruang utama candi Siwa terdapat sumur yang didasarnya terdapat pripih (kotak batu). Sumur ini sedalam 5,75 meter dan peti batu pripih ini ditemukan diatas timbunan arang kayu, tanah, dan tulang belulang hewan korban. Di dalam pripih ini terdapat benda-benda suci seperti lembaran emas dengan aksara bertuliskan Waruna (dewa laut) dan Parwata (dewa gunung). Dalam peti batu ini terdapat lembaran tembaga bercampur arang, abu, dan tanah, 20 keping uang kuno, beberapa butir permata, kaca, potongan emas, dan lembaran perak, cangkang kerang, dan 12 lembaran emas (5 diantaranya berbentuk kura-kura, ular naga (kobra), padma, altar, dan telur).[17]

Relief
Ramayana dan Krishnayana
Candi ini dihiasi relief naratif yang menceritakan epos Hindu; Ramayana dan Krishnayana. Relif berkisah ini diukirkan pada dinding sebelah dalam pagar langkan sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama. Relief ini dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi. Hal ini sesuai dengan ritual pradaksina, yaitu ritual mengelilingi bangunan suci searah jarum jam oleh peziarah. Kisah Ramayana bermula di sisi timur candi Siwa dan dilanjutkan ke candi Brahma temple. Pada pagar langkan candi Wisnu terdapat relief naratif Krishnayana yang menceritakan kehidupan Krishna sebagai salah satu awatara Wishnu.
Relief Ramayana menggambarkan bagaimana Shinta, istri Rama, diculik oleh Rahwana. Panglima bangsa wanara (kera), Hanuman, datang ke Alengka untuk membantu Rama mencari Shinta. Kisah ini juga ditampilkan dalam Sendratari Ramayana, yaitu pagelaran wayang orang Jawa yang dipentaskan secara rutin di panggung terbuka Trimurti setiap malam bulan purnama. Latar belakang panggung Trimurti adalah pemandangan megah tiga candi utama yang disinari cahaya lampu.
Lokapala, Brahmana, dan Dewata
Di seberang panel naratif relief, di atas tembok tubuh candi di sepanjang galeri dihiasi arca-arca dan relief yang menggambarkan para dewata dan resi brahmana. Arca dewa-dewa lokapala, dewa surgawi penjaga penjuru mata angin dapat ditemukan di candi Siwa. Sementara arca para brahmana penyusun kitab Weda terdapat di candi Brahma. Di candi Wishnu terdapat arca dewata yang diapit oleh dua apsara atau bidadari kahyangan.
Panil Prambanan: Singa dan Kalpataru
Di dinding luar sebelah bawah candi dihiasi oleh barisan relung (ceruk) yang menyimpan arca singa diapit oleh dua panil yang menggambarkan pohon hayat kalpataru. Pohon suci ini dalam mitologi Hindu-Buddha dianggap pohon yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Di kaki pohon Kalpataru ini diapit oleh pasangan kinnara-kinnari (hewan ajaib bertubuh burung berkepala manusia), atau pasangan hewan lainnya, seperti burung, kijang, domba, monyet, kuda, gajah, dan lain-lain. Pola singa diapit kalpataru adalah pola khas yang hanya ditemukan di Prambanan, karena itulah disebut "Panil Prambanan".
Museum Prambanan
Di dalam kompleks taman purbakala candi Prambanan terdapat sebuah museum yang menyimpan berbagai temuan benda bersejarah purbakala. Museum ini terletak di sisi utara Candi Prambanan, antara candi Prambanan dan candi Lumbung. Museum ini dibangun dalam arsitektur tradisional Jawa, berupa rumah joglo. Koleksi yang tersimpan di museum ini adalah berbagai batu-batu candi dan berbagai arca yang ditemukan di sekitar lokasi candi Prambanan; misalnya arca lembu Nandi, resi Agastya, Siwa, Wishnu, Garuda, dan arca Durga Mahisasuramardini, termasuk pula batu Lingga Siwa, sebagai lambang kesuburan.
Replika harta karun emas temuan Wonoboyo yang terkenal itu, berupa mangkuk berukir Ramayana, gayung, tas, uang, dan perhiasan emas, juga dipamekan di museum ini. Temuan Wonoboyo yang asli kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Replika model arsitektur beberapa candi seperti Prambanan, Borobudur, dan Plaosan juga dipamerkan di museum ini. Museum ini dapat dimasuki secara gratis oleh pengunjung taman purbakala Prambanan karena tiket masuk taman wisata sudah termasuk museum ini. Pertunjukan audio visual mengenai candi Prambanan juga ditampilkan disini.
Candi lain di sekitar Prambanan
Dataran Kewu atau dataran Prambanan adalah dataran subur yang membentang antara lereng selatan kaki gunung Merapi di utara dan jajaran pegunungan kapur Sewu di selatan, dekat perbatasan Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Selain candi Prambanan, lembah dan dataran di sekitar Prambanan kaya akan peninggalan arkeologi candi-candi Buddha paling awal dalam sejarah Indonesia, serta candi-candi Hindu. Candi Prambanan dikelilingi candi-candi Buddha. Masih di dalam kompleks taman wisata purbakala, tak jauh di sebelah utara candi Prambanan terdapat reruntuhan candi Lumbung dan candi Bubrah. Lebih ke utara lagi terdapat candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Lebih jauh ke timur terdapat candi Plaosan. Di arah barat Prambanan terdapat candi Kalasan dan candi Sari. Sementara di arah selatan terdapat candi Sojiwan, Situs Ratu Baka yang terletak di atas perbukitan, serta candi Banyunibo, candi Barong, dan candi Ijo.
Dengan ditemukannya begitu banyak peninggalan bersejarah berupa candi-candi yang hanya berjarak beberapa ratus meter satu sama lain, menunjukkan bahwa kawasan di sekitar Prambanan pada zaman dahulu kala adalah kawasan penting. Kawasan yang memiliki nilai penting baik dalam hal keagamaan, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Diduga pusat kerajaan Medang Mataram terletak disuatu tempat di dataran ini. Kekayaan situs arkeologi, serta kecanggihan dan keindahan candi-candinya menjadikan Dataran Prambanan tak kalah dengan kawasan bersejarah terkenal lainnya di Asia Tenggara, seperti situs arkeologi kota purbakala Angkor, Bagan, dan Ayutthaya.

Rujukan
    ^ Prambanan Temple Compounds – UNESCO World Heritage Centre
    ^ http://www.borobudurpark.co.id/prambanan-temple-complex.html
    ^ Prambanan Temple
    ^ Prasasti Siwagrha, Museum Nasional Indonesia
    ^ Soetarno, Drs. R. second edition (2002). "Aneka Candi Kuno di Indonesia" (Ancient Temples in Indonesia), pp. 16. Dahara Prize. Semarang. ISBN 979-501-098-0.
    ^ Mengenal Candi Siwa dan Parambanan Dari Dekat, Penerbit Kanisius
    ^ http://fotokita.net/browse/photo/521224606164_4362834/tag/8/perayaan Nyepi di Prambanan
    ^ http://berita.liputan6.com/sosbud/200103/10186/class='vidico' Nyepi di Candi Prambanan
    ^ IOL (2006). "World famous temple complex damaged in quake". Diakses pada 28 Mei 2006.
    ^ Di sản thế giới tại Indonesia bị động đất huỷ hoại (Bahasa Vietnam)
    ^ Yogyakarta Online Candi Nandi Selesai Dipugar
    ^ Ariswara; English translation by Lenah Matius. third edition (1993). "Prambanan", pp. 8. Intermasa. Jakarta. ISBN 979-8114-57-4.
    ^ Ariswara; English translation by Lenah Matius. third edition (1993). "Prambanan", pp. 11–12. Intermasa. Jakarta. ISBN 979-8114-57-4.
    ^ Ariswara; English translation by Lenah Matius. third edition (1993). "Prambanan", pp. 26. Intermasa. Jakarta. ISBN 979-8114-57-4.
    ^ "Prambanan: A Brief Architectural Summary" (dalam bahasa English). Borobudur TV. Diakses pada 31 Oktober 2011.
    ^ Konservasi Borobudur (in Indonesian)
    ^ Candi Lara Jonggrang

Pranala luar
    (Inggris) Prambanan Temple Compounds di situs UNESCO World Heritage Centre
    (Inggris) Situs resmi Candi Prambanan
    Panduan Pariwisata Yogyakarta dan sekitarnya
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Prambanan

Budaya Arab Ternyata Warisan dari Budaya Agama Kristen


Jendela Nusantara

Epik La Galigo

Jakarta ( PerpustakaanTanahImpian ) - Sureq Galigo atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari pera...